Inspiration

Kebijaksanaan dan Kewaspadaan Terhadap Tipu Daya Kebohongan. Waspadalah di Masa Kampanye!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Ini adalah kisah kuno dari negeri Tiongkok kuno. Adalah dua orang pedagang yang sedang mempersiapkan perjalanan menuju satu tempat yang sama untuk mengembangkan usahanya. Masing-masing akan membawa lima ratus kereta. Tak mungkinlah mereka berangkat bersama, sebab jika demikian, maka jalanan akan penuh dengan kereta mereka, sebab tak mungkin pula jalanan dilewati seribu kereta bersama.

Referensi pihak ketiga

Menyadari hal itu, keduanya sepakat untuk berunding, siapakah yang harus berangkat sebagai rombongan pertama, dan siapa yang akan berangkat sesudahnya. Begitulah, dalam rundingan itu, seorang pedagang yang gegabah memilih untuk berangkat lebih dahulu sebagai yang pertama. Dia juga memiliki pertimbangan tersendiri atas dasar kerakusannya.

Dalam hati, ia berkata, “Aku akan berangkat lebih awal. Tak akan ada jejak roda kereta. Lembu-lembu saya bisa memilih rumput yang terbaik. Sayur-mayur dan buah-buahan terbaik pun akan menjadi makanan saya dan lembu-lembu saya serta anak buah saya. Dengan demikian, mereka pun akan memuji kepemimpinanku dan sesampai di tempat tujuan, aku akan melakukan tawar-menawar untuk mendapatkan harga terbaik dan keuntungan berlimpah!”

Itulah alasan tersembunyi yang dipikirkan pedagang yang memilih berangkat pertama. Pedagang yang kedua menyetujui saya pilihan temannya itu untuk pergi terlebih dahulu. Menurut pertimbangannya, kalau ia berangkat belakangan, sebagai kelompok yang kedua toh ada untungnya juga. Paling tidak, jalan-jalan sudah menjadi rata sesudah dilewati rombongan pertama. Lembuku akan menikmati rumput-rumput yang bertunas lembut daripada lembunya yang memakan rumput tua dan kasar. Biarlah buah dan sayur yang sudah menua menjadi makanannya, saya dan anak buahku akan mendapatkan buah dan sayur-mayur yang lebih segar untuk dinikmati. Soal harga, saya tak perlu membuang waktu dan energi untuk tawar-menawar, kuikuti saja harga yang sudah ditentukannya. Toh pasti sudah memberikan keuntungan secukupnya.

Begitulah, pedagang kedua memilih berangkat sesudah pedagang pertama sementara pedagang pertama merasa berhasil sudah bisa mengelabuhi dan memperdayai pedagang kedua. Namun, sesudah perjalanan panjang, pedang pertama menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. Bahkan, ia terkelabuhi oleh tipu daya lawan yang menghadang perjalanannya. Ia tergoda mencari enak dan membiarkan dirinya tertipu oleh musuh yang menyamar sebagai kawan untuk mengelabuhi dirinya. Akibatnya, di perjalanan itu, ia dan seluruh rombongan bahkan ternaknya, habis binasa oleh tipu daya lawan.

Kini, giliran pedagang kedua menempuh perjalanannya. Ia berjalan dalam kebijaksanaan dan kewaspadaan tanpa tergoda oleh tipu daya lawan. Bahkan, ia mampu mengatasi kesulitan dengan segala kebijaksanaan dan kewaspadaannya, belajar dari pedagang yang pertama. Ia mendengarkan masukan-masukan dari berbagai pihak yang mengajak agar bersikap waspada dan bijaksana. Begitulah, ia mampu mengatasi tantangan dan kesulitan itu dengan baik dan sampai tujuan dengan selamat.

Begitulah, Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Kita diajak untuk selalu bersikap bijaksana dan waspada. Jangan tamak dan serakah mencari keuntungan sebanyak-banyaknya demi diri sendiri. Bahkan, jangan mudah terbuai oleh godaan dan iming-iming yang meninabobokkan. Inilah kewaspadaan dan kebijaksanaan yang harus kita kembangkan di masa-masa kampanye menuju Pilpres dan Pileg 2019. Jangan mudah tertipu oleh janji-janji palsu, apalagi kebohongan dan ujaran-ujaran kebencian. Semua itu sudah terbukti pasti menjerumuskan dan tidak akan membawa keuntungan apa pun bagi kita.

Mari belajar menjadi pedagang yang memilih kebijaksanaan dan kewaspadaan melalui karya nyata yang bermanfaat bagi banyak orang. Jangan salah memilih, sebab sekali salah memilih, kerugian lima tahun ke depan akan menjadi tanggungan Anda dan keluarga! Pilihlah yang terbaik di antara yang baik. Atau pilihlah yang keburukannya lebih sedikit dibandingkan dari yang banyak keburukannya.

Bagaimana menurutmu? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 24/9/2018

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan Andy Chow, 88 Kisah Kebijaksanaan Tiongkok Kuno, (2015:9-13)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2629372691229911?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.