Inspiration

Pengalaman Penuh Berkat! Mewarisi Semangat Gus Dur Menjaga Keberagaman Bersama Gusdurian!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Ini adalah catatan reflektif atas satu peristiwa yang langka namun nyata. Peristiwanya pada hari Sabtu (22/9/2018) yang lalu. Maaf, baru sempat mengolah dan menuliskannya sekarang, tanpa mengurangi rasa hormat dan cinta serta bobot peristiwa yang terjadi. Begini.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr dari kanan ke kiri: Setyawan Budy, Harjanto Halim dan saya saat makrab Tunas Gusdurian di Wisma Yohanes Gunung Pati (22/9/2018)

Sejak hari Jumat-Minggu (21-23/9/2018), rekan-rekan muda yang bergabung dalam Tunas Gusdurian mengadakan satu perjumpaan dan pelatihan di Wisma Yohanes Gunung Pati, Semarang. Mereka berasal dari berbagai kota di Jawa Tengah. Rekan-rekan Gus Durian Semarang, di bawah koordinasi Kang Gopang bersama Dewi dan Abi serta pendampingan Yunantyo Ad S (Kang Yas) sepakat, menyelenggarakan acara tersebut di Wisma Yohanes, yang selama ini biasa dipergunakan untuk kegiatan oleh warga Gereja Katolik di Semarang.

Saya sendiri mendapat berkat untuk berbagi pengalaman pada malam keakraban yang diselenggarakan pada hari Sabtu malam (22/9/2018). Malam keakraban dikemas dengan api unggun. Pada kesempatan itu, dipandu oleh Grace dan Musho, meski awalnya gerimis turun, namun api unggun jalan terus. Api unggun diawali dengan menyanyi bersama lagu Bagimu Negeri dan Tamba Ati dengan iringan saksofon saya.

Referensi pihak ketiga

Selanjutnya, acara demi acara mengalir dalam permainan, sholawatan, nyanyi, baca puisi serta sharing dan diskusi tentang spirit Gus Dur bagi bangsa. Bersama Budayawan Sewamis Harjanto Halim atau akrab dipanggil Pak HaHa dan Setyawan Budy koordinator Pelita (Persaudaraan Lintas Agama) Semarang, kami bertiga diminta untuk memicu sharing dan diskusi malam itu, diterangi dan dihangatkan api unggun yang mulai menyala. Masing-masing berbagi pengalaman sesuai dengan porsi dan pengalamannya sejauh terkait dengan Gus Dur dan keluarga Gus Dur namun lebih dari segalanya semangat Gus Dur dalam konteks keberagaman dan kebangsaan serta kemanusiaan.

Saya pribadi bersyukur boleh menjadi saksi dan pelaku sejarah awal embrio Komunitas Gus Durian. Peristiwanya terjadi 49 hari sesudah Gus Dur wafat, saya didaulat membacakan deklarasi tekad melanjutkan spirit Gus Dur di Taman Budaya Raden Saleh Semarang, kala itu. Didampingi oleh Mbak Alissa Wahid dan Gus Umar, dan di hadapan tokoh lintas agama dan masyarakat Jawa Tengah kala itu, deklarasi kubacakan dengan segenap hati. Kebetulan pula, bersama keluarga besar Gus Dur di Ciganjur dan Puan Amal Hayati, saya dilibatkan program sahur keliling Ibu Hj Shinta Nuriyah Wahid setiap Bulan Ramadhan tiba. Kesempatan perayaan Haul Gus Dur di Ciganjur pun, saya ditimbali pula. Bersama Mbak Alissa Wahid dan kawan-kawan muda penerus spirit Gus Dur, kami juga pernah mengadakan week-end di Gua Maria Kerep Ambarawa. Itu bahwa melibatkan kawan-kawan seluas Jawa baik Barat, Tengah maupun Timur dan DIY. Itulah yang kubagikan kepada para peserta Tuna Gusdurian malam itu.

Referensi pihak ketiga saat main gitar (mainMainan) dan saat noum saksofon sungguhan

Sementara itu, Pak HaHa berbagi kisah cerita dan pandangan tentang Gus Dur dalam ketokohan dan keteladanan, serta tindakannya, sebagai “Bapak Tionghoa Indonesia”. Salah satu penandanya adalah pemasangan sinci Gus Dur di Altar Utama Rasa Darma yakni Perkumpulan Boen Hian Tong, salah satu perkumpulan Tionghoa tertua di Pecinan Semarang. Sinci adalah Papan Arwah berukir nama KH Abdurrahman Wahid, yang diletakkan di Altar Utama perkumpulan bersama dengan sinci-sinci tokoh dan ketua Tionghoa lainnya. Sinci adalah wujud pernghormatan tertinggi kepada mereka yang dianggap berjasa. Di situlah pada hari tertentu ditempatkan makanan-makanan persembahan sebagai tandai kasih dan hormat kepada mereka yang sudah meninggal dunia dan sincinya terpasang di altar utama. Pada kesempatan itu, Pak Haha juga menjelaskan bahwa masyarakat Tionghoa Indonesia sangat menghormati Gus Dur. Saat Gus Dur seda, tanpa diminta, kelenteng-kelenteng berdoa untuk Gus Dur, memasang foto Gus Dur, bahkan paikui atau bersujud di depan foto Gus Dur. Itulah tanda kasih dan bakti masyarakat Tionghoa kepada Gus Dur sebagai guru bangsa. Pak HaHa menutup sharingnya dengan membacakan puisi karya Inayah Wahid, putri bungsu Gus Dur, yang dibuat dan dibacakan Inayah dalam rangka penempatan Sinci Gus Dur beberapa tahun silam di Rasa Darma Jl. Gang Pinggir Semarang.

Kesempatan ketiga, sharing diberikan oleh Setyawan Budy. Tanpa banyak bicara, Kang Wawan membagikan pengalamannya dalam rangka memraktekkan spirit Gus Dur untuk membela siapa pun yang dianiaya dan didiskriminasi di negeri ini. Ini bukan soal kata-kata melainkan soal tindakan. Itulah yang dalam dua tahun terakhir dicoba dipraktekkan oleh siapa pun yang bergabung dalam Pelita. Spirit Gus Dur yang membela kaum lemah dan merawat keberagaman dan kebangsaan dihayati dalam perjuangan nyata, juga di saat-saat ada tantangan dan perlawanan dari pihak-pihak tertentu.

Referensi pihak ketiga

Menarik bahwa, sepanjang malam keakraban, puisi-puisi tentang Gus Dur dibacakan silih berganti dengan iringan gitar oleh Azis berpadu dengan alunan saksofonku dalam tembang Syiir Tanpa Waton. Malam itu, seiring dengan api unggun yang kian meredup, acara malam keakraban juga diakhiri mengingat malam pun sudah kian larut. Kami menutup seluruh rangkai malam keakraban tersebut dengan menyanyikan lagu Bagimu Negeri lagi.

Semoga spirit Gus Dur dalam merawat keberagaman dan menjaga spirit kebangsaan yang Bhinneka Tunggal Ika serta mengedepankan aspek kemanusiaan, dapat terus digali dan dikembangkan oleh semakin banyak orang muda di Nusantara ini. Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Sumber: refleksi atas pengalaman pribadi

JoharT Wurlirang, 26/9/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3659898566140065?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.