Inspiration

Ternyata Oh Ternyata! Sebelum Ada Relawan Projo, Sudah 22 Tahun Saya Resmi Projo; Mengapa?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Belakangan ini, kita mengenal frasa “Relawan Projo”, yakni para relawan yang mendukung Presiden Joko Widodo untuk menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke; dari Aceh hingga Papua. Menurutku, para Relawan Projo (Pro-Jokowi) secara moral baik dalam konteks kesejahteraan, kerukunan, keharmonisan, kedamaian dan keadilan bagi seluruh bangsa. Asal orientasinya bukan kekuasaan sesaat, tetapi untuk kepentingan kesejahteraan, kerukunan, keharmonisan, kedamaian dan keadilan bagi rakyat demi keutuhan bangsa; menurutku itu bagus. Bahkan sangat bagus dan harus didukung serta didoakan!

Referensi pihak ketiga

Saat membaca warta tentang Relawan Projo, dengan bangga, saya pun bersyukur. Ternyata oh ternyata, saya ini secara pribadi sudah resmi Projo sejak 22 tahun yang lalu. Tepatnya sejak tanggal 8 Juli 1996, saya resmi Projo. Meski Projo di sini bukan Projo yang merupakan akronim dari Pro-Jokowi; namun semangatnya serupa dalam perspektif spiritualitas dan semangat militansi melayani umat dan masyarakat. Projo yang kusandang itu suatu anugerah terindah dalam kehidupanku, sebab Projo yang resmi kuterima adalah Projo sebagai seorang Pastor Katolik Keuskupan Agung Semarang. Para pastor yang mengikatkan diri pada Uskup dan Gereja Lokal (Keuskupan) disebut Pastor Diosesan atau sering dikenal dengan sebutan romo Projo.

Dengan menggunakan sebutan romo Projo, cita-cita yang hendak dicapai dan diwujudkan adalah menjadi pelayan bagi umat dan masyarakat, di tengah umat dan masyarakat serta bersama umat dan masyarakat. Kata Projo itu yang sekian lama sebelumnya dan sekarang pun masih saya pergunakan dengan bangga dan bahagia serta penuh syukur, disingkat “Pr”.

Referensi pihak ketiga

Namun “Pr” dalam konteks imamat tak hanya berarti romo Projo melainkan juga singkatan dari kata “Presbyter”. Kata “Presbyter” dalam bahasa Yunani sama dengan kata “Priest” dalam bahasa Inggris. Artinya sama, yakni imam. Belakangan ini, (sayang sekali) kata “Pr” dihilangkan dan diganti dengan “RD” yang merupakan singkatan “Reverendus Dominus” (namun memberi kesan wah!). Memang, “RD” juga bisa dan lebih merakyat kalau merupakan singkatan “Romo Diosesan”. Tapi, tempatnya bukan di belakang nama melainkan ditaruh di depan nama.

Namun, entah mengapa, saya lebih suka, nyaman, bersyukur dan bahagia menggunakan singkatan “Pr” entah dalam arti “Presbyter” atau “Priest” atau “Projo” dari pada “RD”. Bukan hanya karena “Pr” bisa ditempatkan di belakang bukan di depan (dengan makna spiritualitas tak hendak menonjolkan diri sebab biarlah Dia yang seharusnya lebih dan semakin besar, dan aku semakin kecil); melainkan juga sebagai suatu identitas yang menyatakan bahwa saya adalah seorang imam Projo, yang mengumat dan memasyarakat.

Referensi pihak ketiga

Nah, dalam arti inilah maka, ternyata, mohon maaf tanpa mengurangi rasa hormat, saya sudah resmi Projo sebelum lahirnya Relawan Projo. Dari segi misi dan visi kiranya sama, yakni memperjuangkan kesejahteraan, kerukunan, keharmonisan, kedamaian dan keadilan yang dalam bahasa teologi disebut keselamatan! Itulah juga yang diharapkan tumbuh dan terwujud dalam diri para Relawan Projo. Hal yang sama pula menjadi perjuangan para romo Projo.

Meminjam penjelasan yang disampaikan oleh Presiden Jokowi sendiri, “Biar rekan-rekan ini memiliki semangat. Memiliki militansi yang tinggi. Mereka ingin berbuat yang baik untuk negara, intinya itu.” Itulah yang dikatakan Jokowi usai memberikan arahan di Hotel Grand Sahid, Jakarta Pusat, Minggu (16/9) sebagaimana diwartakan oleh reporter Intan Umbari Prihatin merdeka.com (Minggu, 16 September 2018 16:12).

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Dalam paradigma semangat Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (ARDAS KAS) yang menghayati jatidiri kehidupan beriman yang inklusif, inovatif dan transformatif; saya kira penjelasan Presiden Jokowi tersebut relevan dan signifikan. Itulah dasar dan awal pula cita-cita Rencana Induk KAS (RIKAS) 2016-2035 yakni mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat, dan beriman, apa pun agama dan kepercayaannya.

Demikian, semoga jelas, bahwa saya memang sudah resmi Projo, bahkan sebelum ada Relawan Projo. Itulah kebahagiaan anugerah Tuhan. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 19/9/2018

Sumber: refleksi pribadi terisnpirasi warta merdeka.com (16/9/2018) dan Quickening The Fire in Our Midst, The Challenge of Diocesan Priestly Spirituality (karya George A. Aschenbrenner, S.J., 2002:82-94).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3491784748436821?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.