Inspiration

Menjadi Kidung Berkat, Doa Kebaikan Bagi Sesama. Mengapa Kita Tak Juga Melakukannya?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Saya sangat terkesan dan turut merasakan berkat oleh doa Zakharias bagi Yohanes, putranya. Itulah bahan doa dan permenunganku di pagi menjelang siang (Kamis, 18/10/2018) dalam retret imamat sejak Senin hingga Jumat nanti (15-19/10/2018) di RR Gedanganak.

Referensi pihak ketiga

Doa itu sering disebut Kidung Benediktus. Kata benediktus dalam bahasa Latin berarti berkat (bene + dicere). Maka bisa pula disebut Kidung Berkat (blessing) yakni doa kebaikan bagi sesama. Setiap pagi kami mendaraskannya sebagai bagian dari Ibadat Pagi. Syukur pada Allah, dalam retret imamat 2018 ini, saya disadarkan kembali makna penting kidung itu, di saat merenungkannya.

Zalharias tadinya bisu oleh sebab tidak percaya bahwa Elisabet, istrinya yang sudah tua dan disebut mandul itu, akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Namanya juga sudah dikatakan malaikat Tuhan yang mengabarkan hal itu kepada Zalharias, yakni Yohanes. Berkat terjadi. Sesudah sembilan bulan menjadi bisu karena tidak percaya, Zakharias kembali bisa bicara ketika Yohanes lahir dan sambil menulis namanya Yohanes seiring dengan itu, ia sembuh dari bisu.

Zakharias pun berkidung. Kidungnya berisi berkat bagi anaknya. Kalimat-kalimat kidung berkatnya bagus banget. Beginilah selengkapnya kidung berkat itu.

Referensi pihak ketiga

“Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umatNya dan membawa kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hambaNya itu, — seperti yang telah difirmankanNya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabiNya yang kudus —untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmatNya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjianNya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkanNya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepadaNya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapanNya seumur hidup kita. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagiNya, untuk memberikan kepada umatNya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.” (Lukas 1:67-79)

Referensi pihak ketiga

Belajar dari Zakharias yang mengumandangkan Kidung Berkat bagi anaknya; saya pun bertekad selalu mengumandangkan Kidung Berkat itu bukan bagi diriku melainkan bagi umat dan masyarakat yang kulayani. Semoga hidup kita pun dapat saling menjadi Kidung Berkat bagi sesama kita. Alangkah indahnya manakala hidup kita bisa saling menjadi Kidung Berkat satu terhadap yang lain! Dengan demikian, selagi masih hidup di dunia, kita sudah dimampukan menjadi berkat laksana dari surga!

Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga menginspirasi dan bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati kita. Salam peradaban kasih.***

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan Lukas 1:67-79

RR Gedanganak 18/10/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2482633036021201?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.