Inspiration

Retret Imamat Mistikus Horisontal, Belajar dari Nabi Musa. Pengalaman Perutusan!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Sesudah menimba pengalaman rohani belajar dari Bapa Abraham, dalam retret imamat Mistikus Horisontal bersama Romo L. Priyo Poedjiono SJ, kami diajak belajar dari tokoh Mistikus Horisontal Perjanjian Lama yakni Nabi Musa. Inilah catatan reflektif tentang hal itu, sesudah kontemplasiku.

Referensi pihak ketiga

Dalam keheningan kubaca rangkuman kisah hidup Nabi Musa sebagaimana dituturkan St. Lukas dalam Kisah Para Rasul 7:20-38. Kisahnya demikian.

“Pada waktu itulah Musa lahir dan ia elok di mata Allah. Tiga bulan lamanya ia diasuh di rumah ayahnya. Lalu ia dibuang, tetapi puteri Firaun memungutnya dan menyuruh mengasuhnya seperti anaknya sendiri. Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya. Pada waktu ia berumur empat puluh tahun, timbullah keinginan dalam hatinya untuk mengunjungi saudara-saudaranya, yaitu orang-orang Israel. Ketika itu ia melihat seorang dianiaya oleh seorang Mesir, lalu ia menolong dan membela orang itu dengan membunuh orang Mesir itu. Pada sangkanya saudara-saudaranya akan mengerti, bahwa Allah memakai dia untuk menyelamatkan mereka, tetapi mereka tidak mengerti. Pada keesokan harinya ia muncul pula ketika dua orang Israel sedang berkelahi, lalu ia berusaha mendamaikan mereka, katanya: Saudara-saudara! Bukankah kamu ini bersaudara? Mengapakah kamu saling menganiaya? Tetapi orang yang berbuat salah kepada temannya itu menolak Musa dan berkata: Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti kemarin engkau membunuh orang Mesir itu? Mendengar perkataan itu, larilah Musa dan hidup sebagai pendatang di tanah Midian. Di situ ia memperanakkan dua orang anak laki-laki. Dan sesudah empat puluh tahun tampaklah kepadanya seorang malaikat di padang gurun gunung Sinai di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Musa heran tentang penglihatan itu, dan ketika ia pergi ke situ untuk melihatnya dari dekat, datanglah suara Tuhan kepadanya: Akulah Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Maka gemetarlah Musa, dan ia tidak berani lagi melihatnya. Lalu firman Allah kepadanya: Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus. Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umatKu di tanah Mesir dan Aku telah mendengar keluh kesah mereka, dan Aku telah turun untuk melepaskan mereka; karena itu marilah, engkau akan Kuutus ke tanah Mesir. Musa ini, yang telah mereka tolak, dengan mengatakan: Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim? — Musa ini juga telah diutus oleh Allah sebagai pemimpin dan penyelamat oleh malaikat, yang telah menampakkan diri kepadanya di semak duri itu. Dialah yang membawa mereka keluar dengan mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di tanah Mesir, di Laut Merah dan di padang gurun, empat puluh tahun lamanya. Musa ini pulalah yang berkata kepada orang Israel: Seorang nabi seperti aku ini akan dibangkitkan Allah bagimu dari antara saudara-saudaramu. Musa inilah yang menjadi pengantara dalam sidang jemaah di padang gurun di antara malaikat yang berfirman kepadanya di gunung Sinai dan nenek moyang kita; dan dialah yang menerima firman-firman yang hidup untuk menyampaikannya kepada kamu.” (Kisah 7:20-38)

Musa lahir dalam periode sulit saat Raja Mesir memerintahkan agar bayi-bayi keturunan Umat Ibrani dibunuh, demi membatasi perkembangan demografi mereka. Dalam teks tersebut, kisah panggilan Musa tertata dalam tiga periode masa hidupnya. 

Referensi pihak ketiga

Pertama, Musa lahir sebagai sosok bayi yang elok di mata Allah. Tiga bulan pertama mendapatkan asih asah asuh orangtua kandungnya. Namun, demi keselamatannya, Musa harus dibuang ke sungai Nil dan oleh Allah dijadikan babak baru baginya. Putri Firaun memungutnya. Musa dididik dalam hikmat tradisi budaya Kerajaan Mesir. Ia berkuasa dalam hikmat perkataan dan perbuatannya (Kisah 7:20-22). Meminjam refleksi Carlo Kardinal Martini (1989:15-18), inilah periode hidup Musa dalam penyelenggaraan Ilahi yang istimewa melalui pendidikan yang istimewa pula.

Kedua, Musa berada dalam masa kebaikan sekaligus kegagalan. Ia berada dalam dilema antara maksud baik dan situasi gagal, antara masa perjuangan menuju kejayaan dan kekecewaan. Mimpi peduli pada sesama warga bangsanya terancam oleh nikmat suasana istana. Ia bahkan harus lari dan membangun disposisi batin untuk siap diutus berjuang membela keadilan bagi bangsanya. Ia rela berkorban demi bangsanya sendiri meski tetap tidak mudah sebab ia pun mengalamai penolakan dari sesama warga bangsanya. Situasi ini bahkan membuat dirinya kehilangan kepercayaan diri dan dicekam ketakutan (Kisah 7:23-29)! Dalam bahasa rohani Kardinal Martini, Musa pun lantas menyepi untuk membangun diri dan disposisi batin demi memperjuangkan bangsanya yan tertindas oleh kekejaman Firaun (1989:19-20).

Referensi pihak ketiga

Akhirnya, pada periode ketiga, Nabi Musa mengalami perjumpaan dengan Tuhan Allah. Prakarsa Allah membentuk Musa menjadi pribadi yang diutus untuk memerdekakan UmatNya dari belenggu Mesir. Perutusan itu ditandai oleh peristiwa nyala api di semak belukar tanpa membakarnya (Kisah 7:30). Dalam peristiwa itu, Allah sendiri mengisi kekosongan Musa. Allah menuntun dan memberikan latihan rohani padanya. Pada saat itulah, Musa tak lagi mengandalkan dirinya sendiri. Ia hanya mengandalkan Allah saja! Kerinduan untuk memerdekakan bangsanya tak lagi bertumpu pada kekuatannya sendiri, cara dan kemampuannya. Dari keheningan perjumpaan dengan Tuhan Allah, kata Carlo Kardinal Martini (1989:23) Musa membuka hati dan menatap semua kekecewaan, ketakutan, rasa sakit dan amarahnya dalam tatapan mata Allah, dalam terang iman, panggilan dan perutusannya. Musa mengalami perjumpaan dengan Allah yang peduli, menemukan prakarsa kasih kerahiman-Nya dan mengandalkan daya kuasaNya.

Kontemplasi fase hidup Nabi Musa mendorongku pula untuk melihat jejak-jejak campur tangan Tuhan dalam hidupku yang rapuh, lemah, ringkih dan berdosa ini. Aku dipanggil dan diutus menjadi imamNya bukan karena aku suci, bisa, kuat dan hebat; bukan! Karenanya, aku justru harus terus berani menatap semua sisi manusiawi dan ketakutan, rasa sakit dan kecewa yang setiap saat bisa muncul dalam perutusan itu dengan cara pandang Ilahi, dengan mata Allah sendiri. Bukan pujian dan sanjungan yang kucari melainkan melulu kehendakNya agar terjadi demi keselamatan, kemerdekaan, dan kebaikan umat dan masyarakat!

Referensi pihak ketiga

Maka, seraya mengandalkan kuat kuasa kasih kerahiman Tuhan, kumohon semoga dalam menjalani dan menghayati tugas perutusan ini; saya terus berusaha sekuat tenaga seakan-akan semua tergantung pada rahmat Allah dan seiring dengan itu kuandalkan rahmat Allah seakan-akan semua tergantung pada upayaku melakukan yang terbaik melulu demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan jiwa-jiwa. Semoga Tuhan Allah menganugerahkan kerendahan hati padaku dalam setiap keberhasilan sebagai anugerahNya dan dalam setiap kegagalan agar aku semakin mengandalkan kuasa kasih kerahimanNya semata!

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam Peradaban kasih.***

Sumber

1. Kisah Para Rasul 7:20-38

2. Teks panduan refleksi Rm L. Priyo Poedjiono SJ

3. Carlo Kardinal Martini, 1989:15-23

RR Gedanganak, 17/10/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3063790212026603?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.