Inspiration

Retret Imamat Mistikus Horisontal; Padang Gurun Rohani!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Ini adalah catatan kecil namun penting bagiku sendiri. Tak usah kusembunyikan sebab itu terjadi dan muncul sebagai pengalaman rohani di awal retret imamatku dalam permenungan pertama (Selasa pagi, 16/10/2018). Pengalaman itu kusebut sebagai padang gurun rohani laksana berada dalam musim kemarau panjang! Semoga segera turun hujan berkat yang menyuburkan tanah tandus gurun rohaniku itu.

Referensi pihak ketiga

Ini adalah tentang pergumulan melalui olah rohani relasiku dengan Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus yang dalam tradisi Kristiani disebut Tritunggal Maha Kudus. Olah rohani pokokku yang kuhidupi sebagai seorang imam selama ini adalah Devosi (Adorasi, Rosario Suci dan Koronka), Ibadat Harian dan Ekaristi Suci.

Dalam 22 tahun menerima dan menghayati imamatku dan ditopang dengan olah rohani tersebut; ternyata, satu setengah tahun terakhir ini menjadi pergumulan terberatku. Betapa pun pergumulan yang ada dalam satu setengah tahun terakhir ini dalam tugas pelayananku, saya tetap merasa gembira dan bahagia sebagai orang Katolik dan sebagai imam. Namun kebahagiaan dan kegembiraan itu sedang ternoda oleh berbagai kelemahan dan keterbatasanku secara pribadi. Akarnya adalah ketidakdisiplinanku secara rohani.

Dalam satu setengah tahun terakhir ini, saya prihatin dengan diriku sendiri yang tidak tertib dalam hal doa terutama doa brevir, doa devosi (adorasi, rosario, koronka). Saya kurang bahkan tidak setia dalam menyediakan waktu dan hati untuk Tuhan. Bahkan Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup beriman pun terkadang kuhayati dalam pergumulan yang hebat; bahkan beberapa kali “lewat” alias terabaikan!

Referensi pihak ketiga

Di satu sisi, dalam hal Ekaristi Harian, saya menyediakan waktu dan hati untuk setia merayakan Ekaristi harian (Senin-Jumat) di kampus bersama segelintir mahasiswa, karyawan dan dosen; di lain pihak di saat-saat kesibukan di luar kampus dalam rangka tugas Kom HAK KAS, saya bahkan beberapa kali tidak sempat merayakan Ekaristi Suci. Tantangan terbesar adalah pada hari Sabtu dan Minggu. Misa hari Sabtu dan Minggu yang biasanya saya lakukan sendiri tanpa umat kadang terlewatkan! Saat tidak ada jadwal Misa Minggu bersama Umat, godaan terbesar lalai terjadi. Dalam satu tahun terakhir ini, saya catat sebanyak 4 kali saya tidak merayakan Ekaristi Minggu dengan sadar dan sengaja karena kelalaian saya. Misa harian hari Sabtu lebih banyak tak terjadi, bahkan pada hari Sabtu Imam. Inilah yang terparah dan paling memprihatinkan terjadi dalam diri saya yang dengan gamblang menertawakanku dalam permenungan pribadi di awal retretku.

Dalam kondisi itu, sekarang saya sadari betul bahwa ternyata, dalam satu setengah tahun terakhir ini; Olah Rohani yang bersumber dari Ibadat Harian, doa devosi dan Ekaristi yang mestinya merupakan kebutuhan dasar bagiku berada dalam bahaya karena dilemahkan dan dikaburkan oleh kemalasan dan ketidakdisplinan diri saya. 

Syukur pada Allah bahwa saya masih menjadikan Ekaristi – khususnya dalam hal Misa Harian – sebagai sebuah kebutuhan dasar dengan merayakannya setiap hari dari Senin-Jumat di kampus, entah ada maupun tidak ada umat, pada pukul 12.00 WIB. Itu adalah kebutuhan dasarku yang tetap kujaga agar tidak luntur menjadi sekadar kewajiban, keharusan, dan penampilan lahiriah belaka.

Referensi pihak ketiga

Tantangan muncul ketika hal itu menjadi kering dan terasa hambar. Itu bisa membuat saya gampang lelah, mudah mengeluh, menyalahkan orang lain, bersikap tidak sabar dan tidak rendah hati. Godaannya adalag bahwa semuanya hanya mengalir saja tanpa jiwa.

Syukur kepada Tritunggal Maha Kudus; bahwa dalam retret ini, saya disadarkan akan situasi batin ini. Saya berdoa dan mohon doa agar retret ini kembali memulihkan dan menyembuhkan jatidiriku itu seperti sedia kala melalui disiplin diri dan disiplin rohani sehingga relasiku dengan Tritunggal Maha Kudus kembali menjadi baik sesuai jatidiri sejati sebagai orang Katolik dan sebagai imamNya.

Semoga melalui retret ini, saya kembali menemukan dan mengalami olah rohani (doa brevir, devosi dan Ekaristi) menjadi sumber dan sarana perkembangan pribadiku sebagai imam dan insan rohani. Saya bahagia bahwa ini muncul di permenungan awalku. Dengan konsideratio status ini, saya melangkah memasuki retret belajar dari Bapa Abraham yang dipanggil dan diberkati untuk menjadi berkat. Semoga meneguhkan daku untuk melangkah maju! St. Aloysius doakanlah daku!

Referensi pihak ketiga

Ya Tritunggal Mahakudus Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus; ampunilah hambaMu yang berdosa ini. Terima kasih dan syukur atas penyadaran ini. Sembuhkanlah dan pulihkanlah aku yang rapuh, lemah, ringkih dan berdosa ini. Aku mau belajar setia kembali menghayati olah rohani dalam doa brevir, devosi dan Ekaristi sebagai kebutuhan dasar hidupku sebagai orang Katolik dan sebagai imamMu serta sumber dan puncak perjumpaanku dengan Dikau dan sesama, kini dan selamanya. Amin.

Demikian sharing ini. Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Sumber: refleksi pribadi tentang jatidiriku sebagai imam Katolik

RR Gedanganak, 17/10/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3218006365239901?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.