Inspiration

Santri dan Padri Menjaga NKR, Opini dan Refleksi Pribadi!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Tanggal 22 Oktober 2018 adalah Peringatan Hari Santri Nasional. Apa maknanya bagi kita? Inilah refleksiku sebagai seorang Pastor Katolik yang di masa lalu disebut Padri. Ijinkan saya sebagai seorang padre berbagi gagasan dan pengalaman menyambut Hari Santri Nasional 2018.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sebagai seorang padri – kata ini kemungkinan besar diturunkan dari bahasa Latin pater yang dalam bahasa Inggris disebut father, lalu di-Jawa-kan menjadi padri – yakni Romo Pastor Katolik; saya mempunyai banyak sahabat yang menjadi Santri di berbagai Pondok Pesantren. Saya sendirj juga berkali-kali sowan silaturahmi di berbagai Pondok Pesantren. Tentu pertama-tama, saya sowan silaturahmi kepada Romo Kiai yang mengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) tersebut. Namun, saya juga banyak belajar dari para Santri yang saya jumpai.

Indahnya silaturahmi

Saya mengalami betapa indahnya bersilaturahmi dengan para Kiai dan Santri di Pondok Pesantren. Saya pernah sowan silaturahmi di Ponpes Kiai Pandanaran Jl Kaliurang, Yogyakarta bersama sejumlah orang muda Katolik dalam rangka belajar melek agama Islam. Beberapa kali saya sowan KH Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus di rumah kediaman beliau di kompleks Ponpes Roudlatut Thalibin, Rembang dalam rangka silaturahmi dalam suka maupun duka. Saya juga sowan silaturahmi ke Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya di Pondok beliau di Pekalongan. Di Jawa Timur, saya sowan silaturahmi kepada KH Prof Dr Abdul Ghoffur pengasuh Ponpes Sunan Drajat di Paciran. Sesudah Gus Dur wafat, saya hampir rutin sowan silaturahmi ke Ciganjur dalam rangka haul wafat Gus Dur.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr – Menghaturkan surat Mas Ganjar dalam rangka FKUB Jateng

Saya juga pernah week-end di Ponpes Edi Mancoro Gedangan, Kabupaten Semarang. Sejak itu sampai hari ini, tiap Hari Raya Idul Fitri saya rutin sowan ke Ponpes Edi Mancoro. Selain ke Ponpes Edi Mancoro, yang rutin saya sowani tiap tahun pada hari Raya Idul Fitri adalah Ponpes Al-Islah Tembalang, Semarang (Kiai Budi Harjono) dan Ponpes Qorriyah Thayyibah (Kang Bahrudin) di Tingkir.

Saya juga sowan silaturahmi Gus Lukman Hakim di Ponpes Salafiyah Az-Zuhri di Ketileng. Ini bahkan rutin setahun dua kali yakni pada saat haul wafat Abah Syeikh pendiri Ponpes Salafiyah Az-Zuhri dan pada saat HUT Ponpes Az-Zuhri. Saya juga sowan silaturahmi ke K.H. Muhammad Yusuf Chudlori atau akrab disapa Gus Yusuf di Ponpes Salafi Tegalrejo, Magelang. Terakhir dan terbaru, saya sowan silaturahmi karena saya ditimbali dalam rangka haul KH Muhammad Zoemri di Ponpes Tarbiyatul Islam Al Falah di Salatiga, Agustus 2018 lalu.

Demi menjaga NKRI

Mengapa sebagai seorang padri saya sowan silaturahmi ke Pondok Pesantren berjumpa Kiai dan Santri? Karena saya mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kebetulan semua Ponpes yang saya sowani dalam rangka silaturahmi adalah Ponpes yang mencintai dan membela NKRI pula.

Itu alasan pertama. Alasan kedua adalah perjumpaan dan silaturahmi itu menjadi bagian dari upaya mewujudkan peradaban kasih bagu masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman; apa pun agama dan kepercayaan kita. Dalam kesempatan itu, saya mengalami dan menjadi saksi kebenaran betapa besarnya peran Romo Kiai dan para Santri bagi bangsa Indonesia. Saya pun turut bahagia ketika pada tahun 2015 Presiden Jokowi menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Referensi pihak ketiga

Penetapan tanggal 22 Oktober erat terkait dengan Resolusi Jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober pada tahun 1945 di Surabaya. Kala itu, Resolusi Jihad dicetuskan untuk mencegah dan mengahalangi kembalinya tentara kolonial Belanda yang mengatas namakan NICA. KH. Hasyim Asy’ari sebagai tokoh besar pendiri Nahdatul Ulama menyerukan jihad dengan mengatakan bahwa membela Tanah Air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap orang. Seruan jihad tersebut digemakan dalam rangka menjaga NKRI yang diproklamirkan Bung Karno-Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 atas nama seluruh bangsa Indonesia.

Inilah relevansi dan signifikansi Hari Santri Nasional dalam rangka menjaga NKRI. Sebagai seorang padri Katolik, saya turut bahagia menyambut Hari Santri Nasional 22 Oktober, justru karena berada bersama dalam aras budaya dan cinta pada keutuhan bangsa yang dijamin untuk hidup rukun. Inilah kebenaran yang sudah saya reguk dalam setiap kesempatan silaturahmi di berbagai Ponpes seperti saya sebutkan dalam tulisan ini.

Jiwa dan semangat Nasionalisme itu berpadu dalam pekik Hubbul Wathon Minal Iman yakni bahwa cinta Tanah Air adalah bagian dari Iman Islam sebagai rahmatan lil alamin. Seiring dengan itu pula, sebagai seorang padri, bersama para Santri pecinta dan pembela NKRI saya jadi teringat motto Mgr. Albertus Soegijapranata: 100% Katolik, 100% Indonesia dan lalu tertantang mewujudkannya.

Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih. Selamat Hari Santri Nasional. Mari kita maju bersama menjaga NKRI kita! Tuhan memberkati. Salam Peradaban Kasih.***

Sumber: opini dan refleksi pribadi

JoharT Wurlirang 22/10/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4185134885680184?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.