Inspiration

Indahnya, Merajut Persaudaraan dalam Keberagaman Melalui Berbagai Silaturahmi, Bagaimana?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, saya belajar merajut persaudaraan dalam keberagaman melalui berbagai silaturahmi. Bagaimanakah dan seperti apakah? Inilah jawabannya sebagai narasi reflektif.

Referensi pihak ketiga

Suasana Idul Fitri atau Hari Lebaran selalu membuncahkan kebahagiaan di hati kita semua, bahkan juga selain umat Islam juga. Ini keunikan Indonesia! Maka, terbingkai oleh suasana sukacita Idul Fitri tersebut, ijinkan saya melanjutkan refleksi karya merajut persaudaraan dalam keberagaman melalui Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, yang kuemban sejak 1 Mei 2008. Sepuluh tahun sudah berlalu, dan memasuki awal tahun kesebelas.

Dalam refleksi sebelumnya, saya memberi fokus pada karya pelayanan Kom HAK KAS dalam kaitannya dengan Orang Muda Katolik melalui kaderisasi HAK. Pada kesempatan ini, sesuai dengan suasana Idul Fitri yang masih terasa, meski liburan sudah berakhir, saya akan mengenang kembali dalam refleksi ini keunikan perjalanan melayani Kom HAK KAS dalam kaitannya dengan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran.

Gereja Katolik Universal di Vatikan, melalui Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, selalu menerbitkan pesan Idul Fitri kepada Umat Islam di seluruh dunia ini. Sebagai Ketua Kom HAK KAS, saya meneruskan pesan yang ditulis di Vatikan itu untuk para tokoh dan sahabat dari kalangan agama Islam di Indonesia pada umumnya dan di Keuskupan Agung Semarang pada khususnya yang wilayahnya meliputi sebagian besar Jawa Tengah dan seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta. Karena itu, pesan yang ditulis di Vatikan tersebut saya lay outsedemikian rupa dengan mencantumkan logo Vatikan dan Kom HAK KAS lalu saya haturkan kepada para tokoh, ulama, dan sahabat dalam kesempatan silaturahmi Idul Fitri. Pada umumnya, mereka menerima pesan itu dengan sukacita dan gembira. Ada juga yang heran dan bertanya, bahwa ternyata hal seperti itu ada dalam tradisi dan sejarah Gereja/Agama Katolik Roma. Ya, itulah kenyataannya.

Referensi pihak ketiga

Sebagai Ketua Kom HAK KAS, menyampaikan pesan Idul Fitri dari Vatikan hanyalah salah satu isi dari proses silaturahmi Idul Fitri. Justru yang lebih menarik adalah proses silaturahmi Idul Fitri yang terjadi. Saya mengalami bahwa dari waktu ke waktu, dalam sepuluh tahun terakhir ini, ada dinamika yang unik dan menarik terkait dengan silaturahmi Idul Fitri ini. Pertama-tama, saya membuat sebuah terobosan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya dengan cara datang ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) pada hari h di Hari Raya Idul Fitri. Sementara puluhan ribu Umat Islam sedang melakukan sholat Ied, saya sudah menunggu di ruang tamu VIP. Semua terjadi dalam koordinasi dengan Kepala TU MAJT yang juga sahabatku, yakni Haji Fatquri Busyeri. Di ruang tamu itulah, sesudah sholat Ied, para tokoh umat Islam Jawa Tengah dan Pengurus MAJT berkumpul untuk menikmati sarapan bersama menikmati kebahagiaan Idul Fitri. Di situ pulalah saya sudah menunggu sementara sholat Ied berlangsung.

Ada dinamika menarik yang terjadi. Pada awalnya, saya sendirian ke MAJT pada hari pertama Idul Fitri. Lalu, pada era Mgr. Johannes Pujasumarta sebagai Uskup Agung Semarang, beliau saya jemput dan ikut silaturahmi ke MAJT namun saya tidak pernah menduga bahwa ternyata itu merupakan kesempatan pertama dan terakhir beliau bersilaturahmi ke MAJT, sebab dengan begitu cepat, Tuhan memanggil beliau kembali ke pangkuan-Nya dalam kebahagiaan abadi di surga. Saya bersyukur, bahwa Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup yang baru di KAS berkenan pula bersilaturahmi ke MAJT pada hari Idul Fitri. Dalam dua Idul Fitri terakhir yakni tahun 2017 dan 2018, Mgr. Robertus berkenan bersilaturahmi ke MAJT. Bahkan, di Hari Raya Idul Fitri 2018, kami bersama kuria lengkap (Vikjen YR Edy Purwanto Pr, Sekjen Andre MSF, Ekonom Ig Aria Dewanta SJ, dan Romo AG Luhur Prihadi Pr). Untuk pertama kalinya pula, suasana silaturahmi Idul Fitri di MAJT dilaksanakan di Aula VIP, sehingga menampung lebih banyak tamu dan hadirin dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang hanya di ruang tamu VIP saja. Ini suatu dinamika positif bagiku.

Referensi pihak ketiga

Biasanya, sesudah dari MAJT, kami bersilaturahmi ke Pemkot berjumpa Wali Kota dalam hal ini Mas Hendrar Prihadi, kadang ke Gubernur di Wisma Perdamaian (tergantung situasi dan kondisi), lalu di rumah dinas Kapolda Jateng, ke Pondok Pesantren Al-Islah Tembalang (Kiai Budi Harjono), ke Qaryah Thayyibah di Salatiga (bersilaturahmi kepada Kang Bahruddin) dan ke Ponpes Edi Mancoro (sejak mendiang Kiai Haji Mahfud Ridwan hingga sekarang diasuh oleh putra bungsu beliau, yakni Gus Hanif). Boleh dibilang, itulah route routin perjalanan sehari di hari raya Idul Fitri yang selalu saya tempuh. Kadang bisa selesai sehari, kadang saya lanjutkan hari berikutnya. Tapi, pada umumnya, itu selesai sehari, dan di hari kedua bersilaturahmi ke sejumlah sahabat di Kota maupun Kabupaten Semarang.

Khusus dengan MAJT, saya mendapatkan rahmat relasi yang baik dengan para pengurus dan pengelolanya. Bagiku, salah satunya yang sejak awal selalu bersikap baik dan konsisten hingga hari ini adalah KH Ali Mufiz. Beliau sangat baik dan tulus dalam membangun relasi dengan siapa saja. Kehadirannya selalu memberi keteduhan dan kesejukan. Hal yang sama juga dengan pengganti beliau, yakni KH Noor Achmad. Justru pada era KH Noor Achmad sebagai Ketua Pengelola MAJT, saya mendapatkan ruang lebih banyak untuk hadir di MAJT, sehingga, MAJT menjadi seperti rumah sendiri setiap saat saya berkunjung ke MAJT, entah sendirian, entah mengantar tamu, entah mengantar rombongan para pendeta dan pengurus Kom HAK Regio Jawa, maupun dalam berbagai peristiwa lainnya.

Dalam kesemuanya itu, prinsip yang hendak saya kembangkan dan wartakan adalah tanpa lelah merajut dan membangun persaudaraan sejati dengan siapa saja. Di Keuskupan Agung Semarang, tentu saja, merajut dan membangun persaudaraan sejati dengan saudari-saudara Umat Islam itu sangat penting tanpa mengabaikan rajutan dan bangunan persaudaraan sejati dengan umat beragama lain (Hindu, Buddha, Konghucu, Umat Kristen dari berbagai denominasi dan para sahabat aliran Kepercayaan). Namun, tanpa bisa dipungkiri, Hari Raya Idul Fitri memang merupakan momen terpenting di negeri ini dalam rangka menggemakan rajutan dan bangunan persaudaraan sejati. Itulah sebabnya, sungguh sangat menggembirakan bahwa momen Idul Fitri bisa menjadi momen silaturahmi dan merajut persaudaraan sejati.

Referensi pihak ketiga

Apalagi dalam konteks masyarakat Indonesia pada umumnya, dan masyarakat Jawa pada khususnya, momen Idul Fitri juga menjadi momen budaya selain peristiwa agama. Bahkan, budaya Lebaran yang khas Indonesia dengan berbagai kegiatan halal bi halal dan silaturahmi sudah merupakan budaya kemasyarakatan dan kebangsaan yang kendati berciri Islami, namun sangat kental dengan warna budaya kemasyarakatan yang inklusif, bahkan inovatif dan transformatif.

Khusus di Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1439 H (2018 M), sebagai Ketua Kom HAK KAS, saya sangat bangga dan bersyukur mendapatkan kiriman-kiriman foto dan video silaturahmi yang dilakukan oleh banyak Romo Paroki bersama Dewan Paroki dan Umat yang menggunakan momen ini sebagai momen silaturahmi dan perjumpaan. Di situlah Gereja yang srawung dihidupi dan dihayati. Foto-foto dan video-video pendek yang diupload di berbagai medssos juga menegaskan sukacita Idul Fitri 2018 sungguh luar biasa istimewa. Semakin banyak warta gembira tentang silaturahmi seperti ini, tentulah semakin dihadirkan pula semangat pokok merajut persaudaraan yang sejati dalam keberagaman.

Bahkan, semua itu sudah terjadi sejak selama bulan Ramadhan. Tak sedikit peristiwa-peristiwa Ngabuburit di bulan Ramadhan terjadi dalam suasana keberagaman. Umat dan Paroki-Paroki di KAS terlibat dalam peristiwa keberagaman ini. Saya pribadi merasa terberkati setiap kali diberi kepercayaan untuk menjadi tuan rumah penyelenggara program Sahur Keliling Ibu Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Setia tahun, Ibu Shinta bersama dengan Tim dari Puan Amal Hayati di Ciganjur, memberikan kesempatan kepadaku untuk terlibat di dalamnya. Kendati kadang-kadang tidak mudah, kadang menerima, kadang tidak, namun, kesempatan ini menjadi kesempatan yang baik untuk masa depan bangunan persaudaraan sejati di negeri ini. Maka, per tahun 2018 ini, kembali saya memutuskan untuk menerima setiap kali tawaran menjadi tuan rumah untuk program Sahur Keliling Ibu Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid diberikan kepada kami, Kom HAK KAS. Di mana pun saya tinggal dan bertugas, tawaran itu akan kusambut dengan penuh pengharapan sebagai bagian dari upaya merajut dan membangun persaudaraan sejati. Hal serupa selaras juga dengan visi dan misi yang dikembangkan oleh Ibu Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Semua laksana tumbu oleh tutup untuk membangun persaudaraan sejati dalam keberagaman yang kadang-kadang dengan mudah dirusak oleh oknum tertentu yang tak bahagia karena kerukunan dan kebangsaan dihayati dalam keberagaman ini. Itulah sebabnya, atas nama komitmen merajut persaudaraan sejati dalam keberagaman dan semangat kebangsaan di negeri Pancasila dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, dan demi Negara Kesatuan Republik Indonesia, setiap kesempatan untuk merajut silaturahmi dan persaudaraan sejati harus disambut dengan gembira dan sukacita.

Referensi pihak ketiga

Demikian refleksi ini semoga bermanfaat untuk merajut persaudaraan sejati dalam keberagaman. Jangan pernah lelah melakukannya, meski kadang tidak semudah membalik telapak tangan. Maju terus dalam merajut bangunan persaudaraan sejati dalam keberagaman untuk masa depan kehidupan Gereja yang Srawung, yang inklusif, inovatif dan transformatif. Pada kesempatan ini, saya ingin berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebab kita diberi contoh secara langsung oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang pada tahun 2018 ini memberikan contoh-contoh yang sangat bagus untuk hadir dan srawung dalam silaturahmi Idul Fitri dalam rangka membangun persaudaraan sejati dalam keberagaman. Itu terjadi saat beliau pada hari kedua Idul Fitri, berkunjung dan bersilaturahmi di tokoh-tokoh masyarakat tingkat RW dan RT di sekitar Rumah Uskup berada dan Bapak Uskup tinggal dalam keseharian. Bagiku, ini pun sebuah terobosan inovatif yang inklusif dan transformatif dalam rangka srawung merajut persaudaraan sejati dalam keberagaman. Semoga menjadi berkat untuk masa depan kehidupan bersama.

Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.*** (bersambung)

JoharT Wurlirang, 9/11/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan Th XIV Juli 2018

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1941079657508889?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.