Inspiration

Merajut Persaudaraan dalam Keberagaman Melalui Temu Kebatinan (Tebat) Katolik Seperti Apa?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Tugas perutusan menjadi Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS), kuterima dalam ketaatan dan semangat sendika dhawuh Dalem Gusti. Dengan segala ketidaktahuan, keterbatasan, dan kekurangan yang ada, saya mengemban tugas pelayanan ini dengan satu misi merajut persaudaraan dalam keberagaman. Oleh karena itu, saya lebih memfokuskan diri pada hal-hal positif dan konstruktif yang bisa kulakukan sekecil apa pun dalam rangka kerukunan dan persaudaraan dalam keberagaman.

Referensi pihak ketiga

Maka, sesudah mencoba mengenal, mengerti dan memahami seputar Kom HAK KAS dan job desk yang masih berupa draft, kami bersama-sama langsung terpanggil untuk menyempurnakan draft job desk tersebut. Tentu, yang paling pokok dilakukan adalah, berjumpa dengan para pribadi yang selama ini terlibat aktif membantu Romo Suryaprawata MSF dalam karya pelayanan di Kom HAK KAS.

Dalam catatan saya, kala itu, pertama-tama saya berkoordinasi banyak pihak yang selama ini aktif dalam menyelenggarakan Temu Kebatinan (Tebat) Katolik, sebab kala itu, kegiatan yang paling menonjol di Kom HAK KAS adalah Tebat. Bahkan, boleh dibilang, Tebat merupakan suatu kegiatan yang rutin dan menjadi program unggulan. Alasannya, program ini bisa dilaksanakan secara rutin, setahun sekali, bahkan di kemudian hari menjadi setahun dua kali, bahkan belakangan ini, setahun bisa empat kali. Pertama Tebat tingkat Keuskupan, lalu kedua, Tebat di tiga Kevikepan yakni Kevikepan Semarang, Surakarta dan Yogyakarta. Begitulah dalam setahun, Tebat yang semula hanya setahun sekali, meningkat menjadi empat kali, dalam sinergi dengan tiga Kevikepan.

Pada awal pelayananku sebagai Ketua Kom HAK KAS, Tebat selalu diselenggarakan di Pendopo Kopi Eva, Bedono. Melalui angket dan serta dialog dengan para Pandhemen Tebat, pada akhirnya, atas pertimbangan banyak hal yang didukung oleh sebagian besar para Pandhemen (pengikut setia) Tebat, maka kami memutuskan untuk memindahkan tempat penyelenggaraan Tebat tidak lagi di Pendopo Kopi Eva, Bedono; melainkan di Aula Gua Maria Kerep Ambarawa. Pemindahan itu memberikan lebih banyak manfaat bagi para peserta Tebat, sekaligus membuka ruang bagi siapa saja yang ingin terlibat.

Begitulah, dalam proses selanjutnya, Komunitas Tebat yang rerata diikuti oleh sekitar 200-400 peserta itu berjalan setahun dua kali di Aula GMKA, pada semeseter ganjil dan semester genap. Semester ganjil dilaksanakan pada bulan Februari atau Maret. Sedangkan Semester genap dilaksanakan pada bulan Oktober. Dengan penjadwalan secara pasti memudahkan kami berkoordinasi dengan pihak GMKA dan bagi para peserta Tebat.

Dalam perjalanan lebih lanjut, saya melihat, ada klasifikasi peserta Tebat, sesudah pelaksanaannya diselenggarakan di GMKA. Dari ratusan peserta yang selalu memenuhi Aula GMKA, peserta Tebat dapat diklasifikasi menjadi tiga kategori.

Kategori pertama adalah para “pamendem”. Kata “pamendem” berasal dari akar kata dalam bahasa Jawa “mendem” yang berarti “mabuk”. Namun, “mabuk” di sini bukan mabuk karena minuman beralkohol dan sejenisnya, melainkan mabuk dalam arti “amat sangat mencintai” Maka, istilah “mendem” di sini setara dengan situasi “mabuk cinta” terhadap Tebat. Karena sedemikian cintanya pada Tebat, mereka tetap setia dari awal hingga saat ini. Mereka memiliki komitmen yang tinggi, setia, peduli dan selalu hadir dalam situasi apa pun. Agenda Tebat merupakan agenda yang sudah dan selalu tercatat sehingga apa pun yang terjadi tak boleh lewat! Itulah para pamendem. Bahkan, mereka juga terlibat aktif di dalam kepanitiaan yang setiap kali dibentuk dalam rangka persiapan Tebat. Boleh dikatakan, Tebat di mana pun, siapa pun yang menyelenggarakan, tema apa pun, ia akan hadir dan turut serta secara aktif di dalamnya.

Kedua, yang saya sebut “pandhemen” pada umumnya. Para pandhemen ini suka dan senang dengan Tebat. Namun, kehadiran dan komitmen mereka tidak atau belum sehebat “pamendem”. Boleh mencintai gerakan dan dinamika Tebat, namun belum sampai “mendem”. Maka, kadang hadir kadang tidak. Ada halangan yang menghadang, mereka tergoda tidak datang. Namun mereka peduli. Bahkan terus bertanya: Kapan Tebat dilaksanakan? Namun, begitu mendapatkan informasi jadwal pasti, dan ternyata tidak sesuai dengan situasi pribadi, maka yang bersangkutan memilih untuk tidak ikut Tebat demi situasi pribadi itu. Maka, mereka kadang datang, kadang tidak. Sesekali ikut, sesekali tidak. Namun, di antara mereka ada juga yang hampir selalu ikut, meski tidak seratus persen seperti para pamendem.

Yang ketiga adalah para “paremen”. Ini juga dari kata dalam bahasa Jawa. Dari kata “remen”, yakni senang ikut serta. Biasanya, mereka berada di tahap-tahap awal ingin kenal. Mereka ini seperti seorang simpatisan yang entah karena diajak teman, atau kebetulan pas datang ke GMKA, lalu mendengar ada Tebat, lalu yang bersangkutan ikut datang, meski tidak sampai selesai. Jangankan sampai selesai (biasanya Tebat dilaksanakan secara week-end, Sabtu-Minggu, ditutup dengan Perayaan Ekaristi di siang hari), kadang-kadang hanya ikut satu sesi di malam hari saja. Atau mereka datang di sesi pagi saja. Pendek kata, para paremen ini sedang belajar mengenal apa itu Tebat, dinamikanya, suasananya dan seterusnya. Kalau cocok yang datang lagi. Kalau tidak cocok yang tidak muncul. Bagi cocok dan terus hadir, nanti akan meningkat menjadi pandhemen. Para pandhemen yang setia, pada saatnya akan menjadi pamendem.

Referensi pihak ketiga

Itulah suasana Tebat. Nah, pada awal saya melayani di Kom HAK KAS, Tebat menjadi semacam program unggulan. Bisa dilaksanakan secara rutin, justru karena ada para “pamendem” dan “pandhemen” serta didukung oleh para “paremen”. Sampai-sampai, di kalangan rekan-rekan di Dewan Karya Pastoral kala itu, pada awalnya, Kom HAK KAS sering dipeyoratifkan menjadi Komisi Tebat hahaha. Itu saya alami sendiri pada tahap awal di tahun pertama menjadi Ketua Kom HAK KAS.

Kadang-kadang terdengar tidak enak. Namun itu memang benar dan menjadi pukulan telak. Dan saya bersyukur atas pukulan yang kuterima sebagai cambuk pemacu untuk berpikir keras dan berjuang sungguh-sungguh agar Kom HAK KAS tidak hanya sibuk dengan urusan Tebat, melainkan sungguh-sungguh dalam rangka merajut dan membangun persaudaraan sejati dalam keberagaman. Tentu, mulai dari komunitas Tebat sendiri, saya menempatkan cita-cita itu.

Itulah sebabnya, kesempatan Tebat saya jadikan medan untuk mengolah tema-tema dan fokus pastoral KAS sesuai ARDAS kala itu. Tebat menjadi ajang katekese iman dan pastoral mistagogi sesuai dengan cita-cita dan fokus pastoral KAS. Tebat menjadi kesempatan untuk mengembangkan harapan merajut persaudaraan dalam keberagaman.

Itulah sebabnya, tema-tema dan narasumber Tebat pun mulai bergerak ke ranah sentire cum ecclesiae, sesuai dengan ombyaking Pasamuwan Suci. Begitulah, tema-teman mengolah keheningan dalam konteks keberagaman dan demi merajut persaudaraan sejati mulai kita kembangkan. Para narasumber dari berbagai kalangan lintas agama kita hadirkan (mulai dari Sri Sultan Hamengku Buwono X, Sinuhun Tejowulan, Bhikksu, para Kiai, dan para imam dalam bidang kompetensi masing-masing kita hadirkan sebagai nara sumber dalam rangka Tebat demi merajut persaudaraan sejati dalam keberagaman.

Referensi pihak ketiga

Dari situlah, Tebat tidak lagi menjadi sebuah ajang eksklusif yang menimbulkan salah paham dan salah pengertian. Tebat adalah salah satu ruang katekese bagi siapa saja, entah itu pamendem, pandhemen, dan paremen untuk memperteguh iman, harapan dan kasih dalam rangka merajut persaudaraan sejati dalam keberagaman. Begitu, Tebat berkembang bahkan tak hanya berlangsung sekali atau dua kali dalam setahun, melainkan bisa terjadi hingga empat kali. Bahkan penyelenggara tak hanya di tingkat Keuskupan, melainkan juga di tingkat Kevikepan, bahkan hingga tingkat Rayon Busidiana di Pesisir Utara.

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.*** (bersambung)

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 8/11/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, Thn XIV Maret 2018, h. 44-47

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3657725129792584?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.