Inspiration

Permufakatan Yogyakarta Agamawan dan Budayawan; Inilah Kearifan Yang Harus Kita Dukung!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Menteri Agama Republik Indonesia Era Pemerintahan Jokowi yakni Lukman Hakim Saifuddin mengundang sejumlah agamawan dan budayawan dari berbagai daerah untuk mengadakan “Sarasehan Reaktualisasi Relasi Agama dan budaya di Indonesia”. Acara diselenggarakan pada Hari Jumat-Sabtu (2-3/11/2018) di Omah Tembi, Sewon, Bantul, DIY dan dipandu oleh Radhar Panca Dahana.

Referensi pihak ketiga

Selama pertemuan, sesudah diberi pengantar oleh Pak Menteri, kami melakukan curhat gagasan, pengalaman dan pendapat terkait dengan relasi agama dan budaya. Semua yang hadir diberi kesempatan menyampaikan gagasan, harapan, keprihatinan dan pendapat terkait tema tersebut.

Seluruh pembicaraan tersebut lantas dirumuskan sebagai Pemufakatan Yogyakarta Agamawan dan Budayawan. Berikut rumusan selengkapnya pemufakatan itu.

“Meskipun terakui kenyataan mutakhir kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia mengalami guncangan akibat perkembangan tak terduga di tingkat global sehingga menciptakan banyak perubahan – yang bahkan fundamental di tingkat lokal atau sampai pada soal eksistensial atau kejelasan jati diri –, kita sebagai pemilik sah keberadaan serta kedaulatan Indonesia tetaplah optimistis mampu menjawab secara adekuat semua persoalan dan tantangan yang muncul sebagai akibat di atas. Kita pun percaya, melalui pendidikan yang disempurnakan secara berkelanjutan, kita akan.meraih ll masa depan yang cerah melalui generasi-generasi baru yang (harus) menjadi bonus demografi yang tercerahkan. Hal tersebut tidak akan dapat tercapai bila kita bersama, baik sebagai individu, bangsa, maupun negara, tidak melakukan koreksi – besar dan kecil– dan tidak menciptakan perubahan yang signifikan di semua level/dimensinya: cara berfikir, merasa, bersikap atau bertindak, baik dalam dimensi akal, fisikal, mental hingga spiritual.

Kami bermufakat perubahan tersebut antara lain harus terjadi pada:

1. Kalangan agamawan dan budayawan dalam memahami dan mengatasi disrupsi yang terjadi dalam dirinya sendiri sehingga mengganggu bahkan merusak bukan saja iman (keyakinan) umatnya, tapi juga hubungan idealnya dengan kenyataan sosial serta kultural lokal di mana ia berada;

2. Penghayatan serta pengamalan praktik-praktik keagamaan di seluruh sudut negeri ini yang terbukti dalam sejarah yang panjang terintegrasi secara positif, konstruktif, dan produktif dengan praktik-praktik kebudayaan di setiap satuan etnik ayang dimiliki bangsa Indonesia;

3. Pendidikan, baik umum maupun agama, formal maupun non-formal, dengan memahami dan melanjutkan secara lebih adekuat praksis dan makna pengajaran dalam dunia tradisi, termasuk kemampuan alamiahnya dalam mengakselerasi perkembangan zaman, bagaimanapun radikalnya, dengan antara lain:

I. Memosisikan kembali orang tua dalam peran sebagai guru yang paling mula dan mulia dalam proses pengajaran anak-anak Indonesia;

II. Mengedepankan pengajaran akhlak yang berbasis pada pencerahan kalbu sebelum hal-hal lainnya, mulai dari tahap pendidikan dini hingga tingkat menengah, dengan menggunakan model-model yang menjadi panutan/keteladanan melalui pelbagai produk kebudayaan, antara lain kesenian, seperti: sastra, teater, tari, rupa sebagai tradisi yang masih hidup, juga adat-istiadat yang mengintegrasikan dunia religius dan tradisional sebagaimana dipelihara kraton kraton di seluruh Nusantara.

III. Terus memperbaiki dan.mengembangkan bahasa agama dan budaya yang mampu menghindarkan dirinya dari diksi, semantika atau retorika yang jumud, intoleran, teologi yang berpihak, atau ideologi yang bertentangan dengan kenyataan aktual, faktual juga historis bangsa;

IV. Mengatasi secara keras dan tegas mental rendah-diri para anak didik dengan contoh-contoh faktual tentang kenyataan-kenyataan keunggulan manusia Indonesia beserta produk-produk kulturalnya;

V. Menanamkan pemahaman dan praktik hidup sedalam-dalamnya bahwa agama (dengan segala pemahaman dan ibadahnya) bukanlah berarti segalanya, dalam arti manusia sudah selesai hanya dengan agama dan menafikan dimensi-dimensi hidup lainnya yang sesungguhnya setara peran dan fungsinya yang konstitutif.

4. Sikap dan perilaku kita, sebagai manusia, kelompok, juga sebuah bangsa, yang tetap kuat dilandasi oleh nilai-nilai luhur sebagaimana telah dipraktikkan oleh leluhur bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari di setiap etniknya, seperti antara.lain:

a. jujur

b. sabar

c. bersyukur (berterima kasih pada semua makhluk)

d. berkesetaraan

e. berbhineka (pluralis dan multikulturalis) plus wawasan kebangsaan

f. bergotong-royong

g. disiplin dan bertanggungjawab

h. mandiri

i. saling mengasihi

j. santun (dalam berpolitik, bertutur,bersikap dan berperilaku)

k. menerima yang menjadi haknya, bukan sebaliknya

l. mengedepankan laku (praktik dalam foot.print, bukan hanya kognisi dalam bentuk footnote)

m. keterbukaan (open minded)

5. Negara, cq pemerintah, dalam hal ini tidak hanya berperan dalam memelihara, melayani atau memfasilitasi saja, tapi selain terus mengoreksi kekeliruannya, bahkan hingga tingkat sistemik, juga.menjadi inisiator dari.perubahan di semua level dimensinya, termasuk misalnya menciptakan sebuah narasi yang dapat dan menjadi pijakan bersama (common ground) mulai dari soal siapa, dari mana bermula .hingga akan ke mana Bangsa Indonesia.

6. Mendorong praktik kehidupan beragama untuk melahirkan iman yang membuahkan kesalehan spiritual dan kesalehan sosial.

Mufakat ini tentu akan tidak berarti apa apa, bila semua pihak tidak.berusaha untuk melaksanakannya, di mana karena itu,.lembaga-lembaga utama, seperti organisasi agama, komunitas budaya, pemerintah hingga.satuan-satuan informal mengimperasi secara kuat.(menugaskan.dengan tegas).dirinya sendiri untuk melakukan perubahan bahkan revolusi di dalam diri selaras dengan apa yang menjadi isi dari mufakat ini.

Semoga Tuhan yang Mahakuasa dan doa serta harapan leluhur yang mulia.memberkati kita dan seluruh upaya baik kita ini.

Referensi pihak ketiga

Rumusan tersebut disepakati dan ditandatangani oleh sedikitnya 21 orang yang masuk dalam kategori agamawan, budayawan dan aktivis. Adapun keduapuluhsatu orang itu bisa dibaca dalam daftar nama dan tanda tangan masing-masing sebagai terlampir ini, termasuk saya sendiri bersama para Sahabat yang berpartisipasi aktif di dalamnya.

Referensi pihak ketiga

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam Peradaban Kasih.***

Omah Tembi, Yogyakarta, 3/11/2018

.»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber:

1. kemenag.go.id/berita/read/509250/sarasehan-agamawan-dan-budayawan-hasilkan-6-point-permufakatan

2. m.republika.co.id/amp/phidv9399

3. jogja.antaranews.com/berita/362673/kemenag-selenggarakan-sarasehan-agamawan-dan-budayawan

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3905371895163686?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.