Inspiration

Srawung Seniman dan Budayawan dalam Gelar Budaya Kebangsaan

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Merajut persaudaraan sejati melalui srawung yang dihayati oleh Kom HAK KAS sepanjang 2017 meliputi berbagai segmen usia. Pertama-tama adalah srawung di antara orang muda. Maka, ada safari Srawung Orang Muda Lintas Agama di Semarang, Solo (Surakarta), Yogyakarta dan Muntilan sebagaimana sudah saya uraikan secara singkat dan padat dalam refleksi terdahulu. Ada pula safari Srawung Seniman dan Budayawan Lintas Agama, atau sekurang-kurangnya para pelaku seni dan budaya di Semarang, Solo, Yogya dan Muntilan pula.

Referensi pihak ketiga

Pada kesempatan ini, ijinkan saya memberikan refleksi terkait dengan dengan safari Srawung Seniman dan Budayawan. Safari pertama kami lakukan di Kabupaten Semarang. Srawung Seniman dan Budayawan pada tanggal 25 Maret 2017. Secara khusus, yang di Semarang mengambil tema “Angkringan Silaturahim Seniman Budayawan Semarang: Merti Budaya Serasi” bertempat di halaman Gereja Kristus Raja Ungaran. Silaturahim diawali dengan Misa Inkulturasi pukul 17.00 WIB bagi yang beragama Katolik. Misa Inkulturasi melibatkan anak-anak remaja dan orang muda serta dewasa Paroki Ungaran yang bergabung dalam Komunitas Seni Karawitan “Chandra Kirana” yang menyemarakkan liturgi inkulturasi. Iringan gamelan dengan gaya Bali, Jawa dan Sunda mewarnai suasana liturgi Ekaristi dalam rangka Srawung Seniman Budayawan Semarang. Srawung Seniman Budayawan Semarang juga disemarakkan oleh Drumb Band TK Theresia Mardi Rahayu.

Kecuali itu, Angkringan Silaturahim Seniman Budayawan Lintas Agama juga dilaksanakan dalam ekspresi seni budaya sesuai talenta dan bakat masing-masing. Beberapa penampilan kreasi seni budaya dihadirkan, misalnya Kolaborasi Seni Karawitan Chandra Kirana Remaja-OMK Ungaran dengan dua penari sufi dari Pondok Pesantren Al-Islah Tembalang; V-Talent YPAK Semarang menampilkan lagu Norwana dan Bangsa Garuda. Tampil pula seniman Macapat Ki Brata dari GKJ Siwakul, Pembacaan Puisi oleh Germo (Gerakan Rakyat Miskin Kota) Semarang, Geguritan Paramesthi Semarang, dan Siteran Pasundan-Jawa Kang Ujang. Hadir dalam Srawung Seniman Budayawan tersebut sosok budayawan dan penyair dari Kota Semarang, Agus Dhewa, yang membacakan puisi “Entah Siapa”. Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Semarang yang juga seorang pelawak, Kang Sarwoto Ndower juga hadir dan menyemarakkan Srawung Seniman Budayawan Semarang. Tidak ketinggalan dan selalu mendukung gerakan Kom HAK KAS adalah seniman dan budayawan yang juga pelukis dan pematung dari Sanggar Seni Tosan Aji Gedong Songo, Soetikno MA pun menyemarakkan suasana srawung dan orasi budaya tumpeng yang kemudian didoakan oleh Kiai Sentet. Hadir pula pada peristiwa srawung seniman budayawan di Semarang ini, yakni Kiai Budi Harjono (penari sufi), Haji Mulyono Tjandra dari Perhimpunan Islam Tionghoa Indonesia (PITI, seniman kaca dan tosan aji), dan Gunawan Permadi (Pemred Koran Wawasan kala itu yang sekarang menjadi Pemred Suara Merdeka) serta Mahasiswa-Mahasiswi UIN Walisongo. 

Referensi pihak ketiga

Srawung Seniman Budayawan di Surakarta dilaksanakan di Jebres, tepatnya di salah satu ruang aula Paroki Purbowardayan Surakarta (22 April 2017). Srawung Seniman Budayawan di Surakarta melibatkan Ki Jantit, dalang Wayang Srawung yang diiringi dengan musik keroncong Srawung Nglurug Tanpa Bala Perang Tanpa Tanding, seniman pantomim Al Viona, siter suling Kang Ujang, dan penari Sufi Al-Islah. Kecuali itu, para penari tradisional Surakarta dengan tarian khas Surakartan juga menyemarakkan suasana Srawung Seniman Budayawan Surakarta. Hadir pula pada kesempatan ini, Mbah Lepo dari Ponpes Mojosongo, seni Yoga dan pembacaan puisi. Semua dipandu dalam rangkaian Wayang Srawung Ki Jantit. Srawung Seniman Budayawan di Surakarta mengambil tema “Kuatkan Kebhinnekaan Kita” didukung oleh Romo Vikep Surakarta saat itu, Antonius Budi Wihandono Pr yang juga memberikan orasi budaya srawung tak kenal tak sayang. 

Srawung Seniman Budayawan juga dilaksanakan di Yogyakarta, tepatnya di halaman kantor DPRD DIY (22 Juli 2017). Srawung Seniman Budayawan di Yogyakarta diawali dengan rangkaian silaturahmi kulanuwun saya sebagai Ketua Kom HAK KAS kepada para seniman budaya senior dari kalangan Katolik di Yogyakarta. Selain kulanuwun (permisi) juga memohon doa restu dan masukan-masukan untuk pelaksanaan Srawung Seniman Budayawan Yogyakarta tersebut. Didampingi oleh Nazarius Sudaryono, penggerak Wiridan Sarikraman dan Karawitan Kampung di kawasan Banteng, Jogya; saya menjumpai dan bersilaturahim kepada Landung Simatupang, “Hasto” Widiasto, seniman dan budayawan Jaduk Feriyanto dan Romo GP Sindhunata SJ. Semua saya sowani di rumah kediaman masing-masing dan atau di tempat berkarya (Mas Hasto dan Mas Djaduk). Berawal dari Ngaglik, rumah kediaman Landung Simatupang, saya dan Nazar meluncur menuju XT Square di kawasan Umbulharjo berjumpa dengan Widi Hasto, Direktur Operasional dan Pemasaran XT Square, yang juga memiliki komitmen dalam merawat kebineka-tunggal-ika-an melalui jalur seni dan budaya melalui berbagai peristiwa sosial, misalnya Ngabuburit Mural Pancasila di Kridosono atau Gerakan Pancasila di alun-alun Jogya. Sama seperti Landung, Hasto pun menerima kami dengan ramah dan akrab. Keramahan yang sama saya alami saat diterima Djaduk Ferianto di Padepokan Sanggar Tari Bagong Kusudiarjo di Kembaran, Gunung Sempu, Bantul. Atas masukan para pelaku seni dan budaya yang disowani itu, muncullah nama acara di Jogja bertajuk “Syawalan Kebangsaan Para Pelaku Seni Budaya Jogya: Indonesia Kita”.

Begitulah pada akhirnya, srawung seniman budayawan di Yogyakarta berlangsung dengan baik dalam sinergi dengan banyak pihak yang dikomandani oleh Mas Widihasto Wasono Putra. Kom HAK KAS bersinergi dengan Gerakan Rakyat Pancasila (Gerak Pancasila). Srawung tidak hanya ditandai dengan berbagai penampilan seni dan budaya, melainkan juga dengan dialog interaktif Syawalan Kebangsaan bertajuk “Merajut Silaturahmi Mengokohkan NKRI Berlandaskan Pancasila Dalam Spirit Bhineka Tunggal Ika” dengan menghadirkan Gus Irwan Masduki (Pengasuh Ponpes Assalafiyah ll Mlangi Sleman), Dr. Muhammad Azhar, MA. (Dosen FAI & Pascasarjana UMY), I Nyoman Santiawan, S.Pd., M.B.A. (Ketua Putra Bali Purantara Yogyakarta) dan saya sendiri. Banyak tokoh masyarakat DIY juga hadir dan terlibat dalam peristiwa ini.

Referensi pihak ketiga

Penampilan seni pertunjukan diisi oleh Hadrah Hikmah Salam dari kampung Bumijo Yogyakarta binaan Gerakan Pemuda Ansor Kota Yogyakarta, tarian Sekar Jagad yang dibawakan Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia, tarian Di Bawah Sinar Rembulan persembahan Perhimpunan Fu Qing Yogyakarta, tarian Sufi dari Ponpes Al Islah Semarang, pentas siter-kecapi Ujang Panji, pentas musik Erhu oleh Siong Hien dan vocal group Republik Guyub serta pembacaan puisi Adinda Dilan siswi SMA I Yogyakarta. Bahkan dua seniman senior Yogyakarta juga turut tampil yakni maestro pantomim Jemek Supardi dan dedengkot Kelompok Musik Kampungan Bram Makahekumserta Kranggan Band Yogyakarta, Sedikitnya, 60 orang penampil menciptakan suasana akrab dan kental dengan spirit kerakyatan acara Syawalan Kebangsaan Gerak Pancasila dalam sinergi dengan Kom HAK KAS ini. Srawung diformat dalam bentuk lesehan dengan hidangan makanan tradisional seperti ketela, jagung, pisang dan kacang rebus. Yang menarik adalah bahwa warga masyarakat pun hadir dengan membawa makanan dan minuman untuk dinikmati bersama saudara-saudara lain di lokasi acara. Dalam semua itu, kita merawat keanekaragaman agama, suku dan budaya yang ada tetap bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Srawung Seniman Budayawan di Kevikepan Kedu dilaksanakan di Aula Pastoran St. Antonius Muntilan, 28/10/2017. Dalam hal ini, Kom HAK KAS bersinergi dengan Museum Misi Muntilan, Paroki St. Antonius Muntilan dan Komunitas-Komunitas Seni Budaya Muntilan dan sekitarnya. Rangkaian srawung seniman budayawan di Muntilan sekaligus digabung dengan gelar budaya dalam rangkan Peringatan Hari Sumpah Pemuda dalam bingkai tema, “Nunggal Bangsa, Nunggal Rasa: Pancasila“.

Referensi pihak ketiga

Menyambut para peserta Srawung ini berkumandanglah alunan musik “Gejok Lesung Laras Ati asuhan Abdon dan Budiarto. Sesudah itu, dilanjutkan dengan acara pembukaan. Bersama-sama kami menyanyikan Indonesia Raya dan pembacaan Pancasila yang diikuti semua peserta. Kemudian, Romo Kristiono SJ, Romo Paroki Muntilan memberikan sambutan selamat datang dan berterima kasih bahwa peristiwa ini diselenggarakan untuk menumbuhkan semangat kebangsaan dan kerukunan dalam keragaman.

Srawung ini ditandai pula dengan penampilan Sholawat Pitutur, tarian kebangsaan oleh OMK Paroki Muntilan, dan tarian Pencak Silat dari Gunungpring diiringi Sholawat Pitutur. Selain bersifat selebratif-perayaan, Srawung Kebangsaan juga disajikan dengan edukatif. Cara edukatif ditempuh melalui sharing dan sarasehan oleh perwakilan lintasagama dari Islam, Buddha, Konghucu, Kristen dan Katolik dimoderatori oleh Agung. Yang diminta untuk sharing adalah Bambang Mulyono (dari NU), Sunarto (Buddha), Ko Hing (Konghucu), Pdt Christiani (Kristen) dan saya sendiri mewakili unsur Katolik.

Hadir dalam Srawung Kebangsaan ini ratusan peserta dari Pengurus PAC Ansor Muntilan, Pengurus PAC Fatayat NU Muntilan, Pengurus Lesbumi MWC NU Muntilan, Pengurus KPS Nusantara Muntilan, Keluarga Besar PP Nurul Falah Bintaro Gunungpring, GKI Muntilan, GPDI Muntilan, GPDi Mancasan, GKKI Ngawen, Klenteng Hok An Kiong, Vihara Buddha Mendut, Vihara Buddha Bojong, Para Ketua Lingkungan Paroki Muntilan, Timja HAK Paroki se Kevikepan Kedu, Biarawan/Biarawati Muntilan-Magelang, FKUB Kabupaten Magelang, FKUB Kota Magelang, dan Karangtaruna Pepe Muntilan.

Referensi pihak ketiga

Demikianlah, rangkaian srawung melalui seni dan budaya yang diselenggarakan oleh Kom HAK KAS dalam tahun 2017 di Semarang, Surakarta, Yogyakarta dan Muntilan. Representasi empat kevikepan terwujud melalui keempat kota tersebut. Semoga srawung dengan melalui jalur seni dan budaya sungguh menjadi jalan untuk mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaannya

Demikian semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih. (bersambung)

Wates, Kulonprogo, 10/11/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan Th XV Oktober 2018, h. 44-47

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2111025753068010?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.