Inspiration

Hati-Hati, Jangan-Jangan Kita Ini Buta dan Tuli, Bukan Secara Fisik Melainkan Rohani!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Beberapa waktu yang lalu, kita sempat mendapatkan tamparan oleh Cawapres KH Ma’ruf Amin tentang kondisi diri pribadi kita yang barangkali dalam keadaan buta dan tuli. Secara rohani, saya sependapat dengan Pak Kiai dalam hal ini. Bahkan, secara sosial. Maka secara sosio-spiritual, betapa kita ini sering dalam keadaan buta dan tuli. Apa maknyanya yang bisa memberi inspirasi dan motivasi bagi kita?

Referensi pihak ketiga

Pertama, pastilah yang disampaikan oleh KH Ma’ruf Amin tidak dalam rangka menghina kaum difabel – maaf – yang buta dan tuli, melainkan dalam rangka menyadarkan kita yang sering bersikap buta dan tuli. Akibatnya, kita tidak mampu melihat dan mendengar hal-hal baik yang terjadi di sekitar kita. Bahkan, dengan sengaja, orang tertentu menjadikan dirinya – maaf- buta dan tuli tentang hal ini. Jadi, persoalannya bukan masalah fisik, melainkan mentalitas sikap.

Pada hari ini, 19 November 2018, saya sangat terkesan dan ingin belajar dari sosok yang dikisahkan dalam Injil Lukas18:35-43 yang dibaca(kan) oleh dan kepada umat Katolik di seluruh dunia. Kisahnya adalah tentang orang buta yang dengan rendah hati menyadari keadaannya, lalu memohon kesembuhan dari Yesus. Dengan penuh kasih, Yesus mendengarkan dan mengambulkan kerinduan orang buta tersebut, sehingga seketika sembuhlah dia oleh daya kuasa Yesus.

Referensi pihak ketiga

Kisah ini memberi inspirasi dan motivasi kepada saya pribadi. Barangkali, selama ini, saya juga buta secara sosial dan rohani. Akibatnya, saya tidak bisa melihat hal-hal baik yang terjadi di sekitar saya. Proses pembangunan yang maju dan berkembang. Buah-buah karya dari kerja nyata banyak pihak yang membuat bangsa ini maju ada di hadapan mata saya; namun saya entah terlalu mengantuk atau bahkan buta secara sosio-spiritual sehingga saya tak mampu melihat dan menangkapnya. Akibatnya, saya selalu berpandangan negatif dan buruk terhadap orang lain yang dipakai Tuhan untuk menyatakan perbuatan-perbuatan baik yang dikerjakanNya.

Saat ini dan untuk selanjutnya, kita membutuhkan kemampuan untuk melihat semuanya dari sudut pandang Allah dan untuk melihat bagaimana kesulitan dan cobaan yang kita alami merupakan bagian dari gambaran yang lebih besar tentang kuasa Tuhan dalam hidup kita. Untuk itu, dibutuhkan mata iman, harapan dan kasih. Semoga kita diberi kesembuhan dari kebutaan kita secara sosio-spiritual sehingga kita pun mampu melihat segala hal yang baik lalu bersyukur dan berserah kepadaNya.

Referensi pihak ketiga

Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Demikianlah, semoga bermanfaat. Terima kasih. Salam hormat dan doa. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 19/11/2018 

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan 18:35-43

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3543281931651155?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.