Inspiration

Inspirasi Membangun Persaudaraan dalam Gerakan Ekologis, Menarik Bukan?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih.Dalam pelayanan sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS) sejak Mei 2008, selain merajut persaudaraan dalam keberagaman dengan menggunakan strategi seni, budaya, srawung silaturahmi dan berbagai model dialog kehidupan, karya dan teologis; kami juga melakukan dialog ekologis. Apa maksudnya?

Referensi pihak ketiga – Bersama Masyarakat Kendeng Lestari

Yang dimaksud dengan dialog ekologis adalah dialog merajut persaudaraan dalam keberagaman dengan menggunakan gerakan ekologis sebagai pintu masuk. Pada awal-awal pelayanan Kom HAK KAS, DKP KAS begitu gencar mengembangkan fokus pastoral menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup. Tentu saja, sebagai salah satu Komisi yang mendukung dan berada dalam bagian DKP KAS, Kom HAK KAS juga turut serta dalam gerakan tersebut.

Boleh dikatakan, gerakan ekologis ini menjadi gerakan awal paling sederhana yang kami lakukan dalam rangka Kom HAK KAS. Kebetulan, saat itu, saya bertugas di Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas. Suasana secara alamiah, panas. Maka, terjadilah sinergi antara Dewan Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas dan Kom HAK KAS (yang kebetulan, sebagai Ketua Kom HAK KAS saya juga merangkap sebagai Pastor Kepala Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas) dalam rangka gerakan ekologis menanam pohon. Inilah yang kemudian kami serukan melalui Surat Edaran Perdana Hari Minggu HAK KAS, yang di kemudian hari berubah menjadi Surat Gembala Hari Minggu HAK KAS. Salah satu ajakan yang kami sebutkan di dalamnya adalah menjadi sarana dan prasana gerakan ekologis sebagai jalan menuju persaudaraan dalam keberagaman.

Di Paroki Hati Kudus Yesus Tanah dilaksanakan gerakan 1000 pohon. Hasilnya bisa dinikmati hingga hari ini, begitu banyak pohon yang menjadi peneduh di halaman gereja Hati Kudus Yesus Tanah Mas dan sepanjang Jl, Kokrosono sekitar gereja Tanah Mas hingga Masjid di paling ujung dekat jalan lingkar. Berbagai pohon kami tanam, mulai dari glodokan pecut, ketepeng, trembesi, dan jenis pepohonan lain baik yang bersifat pohon hias, maupun pohon peneduh. Kami menanam pohon-pohon tersebut dalam rangka menandai Hari Minggu HAK KAS 2011 bersama dengan umat khususnya anak-anak, remaja, orang muda, dan kerja sama antara Dewan Paroki dengan LPMK Tanah Mas. Halaman parkir yang luas, dan jalan yang membentang di sekitar gereja menjadi lahan yang kami manfaatkan untuk gerakan ekologis dalam keberagaman untuk persaudaraan itu. 

Referensi pihak ketiga

Selanjutnya, sesudah itu, salah satu contoh terbesar yang di dalamnya Kom HAK KAS juga mendapat kesempatan untuk terlibat adalah gerakan menanam 112.500 pohon pasca-erupsi gunung Merapi (Oktober 2010-Januari 2011). Tepatnya, gerakan ekologis dalam semangat persaudaraan dalam keberagaman itu terjadi pada tanggal 7 Februari 2011, Ketika itu, kami terlibat secara aktif bersama Konsorsium Palm untuk menanam pohon di salah satu area lereng Merapi pasca-erupsi. Ada sedikitnya 43 elemen lintas agama yang terlibat di dalamnya, termasuk Kom HAK KAS. Lahan yang menjadi subjek garap seluas 75 hektare. Di lahan itulah, kami bergerak menanam pohon bersama-sama. Penanaman pohon dilakukan di tiga desa yakni, Umbulharjo, Kepuhharjo dan Glagaharjo.

Tak kurang, ketika itu, Mgr. Johannes Pujasumarta yang baru pindahan dari Bandung ke Semarang, turut hadir dan mendukung gerakan ini bersama dengan para tokoh lintas agama lain seperti Bante Sri Pannavaro Mahatera, KH Abdul Muhaimin, Keluarga Besar Ciganjur yang diwakili oleh Alissa Wahid dan masih banyak tokoh lintas agama lain yang turut hadir tak hanya ikut upacara pembukaan, melainkan juga turut berkotor-kotor menanam pohon yang sudah disediakan. Gerakan itu dibingkai dengan tema “Menabur Benih Menumbuhkan Persaudaraan”.

Referensi pihak ketiga

Gerakan ekologis masih terus kami gemakan. Selain gerakan menanam pohon, Kom HAK KAS juga turut mewartakan dan menggemakan pentingnya gerakan biopori dan pentingnya membuat resapan-resapan. Gerakan ini bisa dilakukan sendiri, tetapi juga bisa melibatkan banyak orang dalam rangka merajut persaudaraan dalam keberagaman. 

Kecuali itu, Kom HAK KAS juga terlibat secara aktif dalam pendamping ekologis dalam rangka keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup bersama dengan saudara-saudari pejuang kelestarian Gunung Kendeng di daerah Sukolela, Pati, dan Rembang. Yang pertama-tama kami lakukan adalah penyertaan dan pendampingan atas perjuangan para sahabat demi keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup yang dilakukan oleh JMPPK (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng) yang diprakarsai oleh Gunretno, Gunarti dan teman-teman lain di Sukolela dan sekitarnya. Gerakan pertama terjadi melalui suatu upacara bendera 17 Agustus 2012 di salah satu sisi lereng pegunungan Kendeng bersama masyarakat setempat. Upacara bendera tersebut ditandai oleh aksi ekogologis menyerukan keprihatinan menolak pendirian pabrik semen di kawasan pegunungan Kendeng. Upacara serupa dilaksanakan lagi pada tahun berikutnya, yakni 17 Agustus 2013 di area yang sama di lokasi yang berbeda di dekat mata air yang menjadi sumber air bagi warga sekitar di Branti dan sekitarnya. Semua itu kami lakukan bersama dengan para sahabat JMPPK dalam koordinasi dengan Gunretno, salah satu tokoh penting dalam gerakan ini.

Intensitas untuk gerakan ekologis ini bukannya berkurang, melainkan semakin mendalam dan bervariasi justru karena persoalan terkait dengan kelestarian lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan semakin banyak dan tak kunjung usai. Maka, saya pun baik secara pribadi maupun atas nama Kom HAK KAS banyak terlibat dalam gerakan-gerakan advokatif dalam rangka ekologis bersama dengan masyarakat Kendeng dan sekitarnya. Gerakan-gerakan yang bervisi ekologis itu kadang memang tampak secara sosial melalui aksi demonstrasi dan orasi ekologis bersama dengan masyarakat Kendeng dan sekitarnya, baik di Sukolela, Rembang, dan Semarang. Saya belajar hadir di tengah-tengah mereka yang sedang berduka, laksana gembala yang beraroma domba dengan cara berjalan kaki puluhan kilometer, tidur di rumah mereka, berjuang di tenda tempat mereka berteduh, dan mendengarkan keluh-kesah mereka. Semua itu melulu dalam rangka merajut persaudaraan dalam keberagaman melalui jalur ekologis.

Referensi pihak ketiga

Di Kabupaten Semarang, kami melakukan gerakan ekologis dengan cara aksi tanah pohon di salah satu kawasan di Lerep. Lerep menjadi benteng agar di saat hujan, air dapat meresap dan tidak menjadi banjir bagi tempat-tempat yang lebih rendah di bawah Pegunungan Ungaran. Bekerjasama dengan FKUB Kabupaten Semarang dan para tokoh dan warga masyarakat lintas agama, kami menanam pohon dalam rangka menyambut Natal 2015. Pergerakan dimulai dari halaman gereja Kristus Raja Ungaran lalu menuju ke puncak area Lerep untuk menanam berbagai jenis pohon untuk penghijauan lahan tersebut. Ada pohon jati, mahoni, sengon, cemara, dan berbagai jenis buah-buahan yang kami tanam bersama warga setempat dan tokoh-tokoh lintasagama di Kabupaten Semarang.

Praksis Kom HAK KAS dalam gerakan ekologis masih berlanjut. Itulah sebabnya, dalam rangka memperingati Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni 2018 yang lalu, Kom HAK menyelenggarakan Merti Bumi NKRI. Isinya ekologis. Secara simbolik, kita berdoa secara lintas agama untuk menjaga sungai-sungai agar tetap menjadi berkat bukan bencana. Secara simbolik, kami mengambil lima kendi air sungai Kaligarang area Tinjomoyo, lalu didoakan oleh para tokoh lintas agama dan kemudian dituang kembali ke sungai dengan harapan, sungai menjadi berkah bukan musibah. Seiring dengan itu, kami taburkan lima ribu benih ikan Nila ke sungai sebagai tandai menabur benih berkat agar menuai berkat bagi umat dan masyarakat.

Referensi pihak ketiga

Itulah sekadar berbagai contoh yang sempat terekam dalam catatan dan ingatan saya terkait dengan gerakan ekologis yang dilakukan Kom HAK KAS bersama dengan para tokoh lintas agama untuk merajut persaudaraan dalam keberagaman. Medianya adalah gerakan ekologis. Buahnya adalah keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup yang ditandai oleh hidup rukun dan damai tanpa diskriminasi. Salam ekologis. Salam peradaban kasih. Salam persaudaraan sejati. (bersambung)

JoharT Wurlirang, 11/11/2018 »̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶ Sumber: Majalah INSPIRASI Lentera yang Membebaskan Th XV Novemer 2018, h. 44-47

Sumber
http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1124387388124760?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.