Inspiration

Siapa Menyerang Siapa, Siapa Menjawab Siapa, Inspirasi Kegelian Kita Bersama; Kok Bisa?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Mencermati dinamika kehidupan bersama kita bikin geli saja; bukan bikin gelisah! Orang waras jadi geli bukan gila karena ada hal-hal yang memang menggelikan bersama. Kok bisa? Tentang apa? Kita simak yuk inspirasi kisahnya!

Referensi pihak ketiga – Jokowi dan Prabowo – Sumber: merdeka.com

Ini adalah tentang kisah inspirasi hidup bersama di rumah bersama kita Indonesia belakangan ini. Orang menyebutnya sebagai tahun politik. Saya sendiri tidak setuju dengan sebutan itu. Lebih baik disebut tahun demokrasi! Mengapa? Sebab sebutan tahun politik membawa konsekuensi polemik. Buah polemik itu bikin panas dingin lawan maupun teman.

Beda dengan tahun demokrasi. Demokrasi itu menggembirakan laksana tontonan yang menghibur. Itulah yang akhirnya bisa saya simpulkan dalam refleksi ini saat mencermati peristiwa belakangan ini. Demokrasi yang menggembirakan memberi ruang siapa saja untuk saling menyerang dan merespon. Siapa menyerang siapa, siapa merespon siapa mengalir begitu saja.

Referensi pihak ketiga

Namun, orang yang waras pasti bisa mencerna. Siapa menyerang, siapa merespon. Ambillah contoh yang ini. Kubu lawan politik Jokowi selalu menyerang Jokowi dengan stigma PKI. Kubu lawan juga menyebar berbagai isu yang kalau dipikir sehat tanpa berbasis data; atau kalau pun ada data, datanya belum teruji secara valid. Inilah yang membuat serang-menyerang dan respon-merespon terjadi. Saat Jokowi selalu dituduh PKI, Jokowi pasti gemes bahkan jengkel. Lalu secara kerakyatan Jokowi bilang, mau mencari dan menabok yang menuduh dan menfitnahnya sebagai PKI. Namun itu hanya sebatas kata-kata yang disampaikan juga dalam suasana canda. Ibaratnya seperti saat orang nonton “goro-goro” ada banyak canda penuh makna!

Namun, respon akibat serangan itu lalu digoreng lawan. Muncul serangan balik terhadap respon, seakan Jokowi tak pantas mengggunakan kata tabok. Kata tabok itu ancaman. Tak layak diucapkan sosok pemimpin negara sekelas Presiden Jokowi. Hahaha, ini hiburan gratis. Logika yang dipakai lawan, kamu harus diserang. Kamu ndak boleh membela diri. Terima saja serangan bahkan fitnah keji itu, tak usah menjawab. Maka, setiap jawaban atau respon yang disampaikan Jokowi akan selalu menjadi bahan untuk memberikan serangan balik. Misalnya istilah sontoloyo, genderuwo, atau yang terbaru: kompor!

Referensi pihak ketiga

Nah, inilah realitas demokrasi yang tertanyata tak perlu dimasukan hati. Meminjam ungkapan mendiang Gus Dur: Gitu aja kok repot! Biarin saja! Maka, yang terpenting adalah ini. Mari kita nikmati saja kegelian ini agar kita tidak menjadi gila gara-gara terpancing arus panas-dingin situasi politis. Kita nikmati saja peristiwa ini sebagai inspirasi dan motivasi untuk menentukan pilihan terbaik pada saatnya nanti! Memilih bukan kucing dalam karung; melainkan yang pasti-pasti saja demi kemakmuran dan kedamaian negeri ini dari Sabang sampai Merauke.

Begitulah, bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Salam inspirasi. Salam hormat dan doa. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 27/11/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: www.merdeka.com/politik/ucapan-jokowi-yang-bikin-geram-kubu-prabowo/jokowi-disebut-kompor.html (Selasa, 27 November 2018 06:36; Reporter: Desi Aditia Ningrum)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1972359374539085?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.