Inspiration

Bagaimana Inspirasi Spiritualitas Seni Kristen Katolik Bagi Peradaban Kasih? Ini Jawabnya!

Halo Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Berikut ini saya bagikan artikel yang saya persiapkan sebagai salah satu nara sumber dalam studi intensif yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Agama-Agama (PSAA) Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta (Rabu, 16/1/2019). Inilah artikel selengkapnya. Semoga bermanfaat.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Pengantar

Pertama-tama, ijinkan saya memberikan catatan kritis atas Tema Besar Studi Intensif ini. Disebutkan dalam acuan, tema studi ini adalah “Menghidupi Toleransi Melalui Seni Lintas Iman”. Dua catatan kritis dari saya. Pertama, terkait dengan toleransi. Kata ini dalam konteks hidup bersama kita cenderung bermakna peyoratif. Sebagai kata dasar pada esensi semiotik awal benar. Toleransi dari kata “tolerare” dalam bahasa Latin berarti saling menolong memikul beban, sehingga beban seberat apa pun menjadi ringan dihadapi. Namun, dalam konteks sosial-politik-religius, kata ini menjadi peyoratif sebab bermakna permisif. Maka, lebih dari sekadar toleransi, dewasa ini dan di masa mendatang diperlukan sikap yang disebut mutual love and understanding (saling kasih dan pengertian) untuk maju bersama dalam semangat persaudaraan sejati (bukan basa-basi) demi terwujudnya peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaannya.

Kedua, frasa “lintas iman” dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika tidak tepat untuk tidak mengatakan salah. Dalam konteks “PBNU” (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945), iman kita sama, yakni beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa (sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa). Kalau sudah sama, maka tidak perlu dibuat “lintas”. Yang perlu dilampaui sehingga terjadi “lintas” adalah agama. Iman kita sama, agamalah yang berbeda-beda di antara kita. Agama menjadi salah satu ungkapan iman selalu berbeda satu agama dengan agama yang lain, sedangkan sebagai perwujudan iman, kita dipersatukan dalam kemanusiaan, kebaikan, keadilan, dan kesejahteraan.

Dalam konteks inilah, kita bisa menghidupi semangat dan sikap saling kasih dan pengertian melalui seni lintas agama dan budaya yang menjadi kekayaan keberagaman NKRI. Dari pengalaman selama ini, saya biasa membedakan antara seni religi dan seni etnis. Seni religi adalah ekspresi seni berbasis spiritualitas agama-agama, sedangkan seni etnik adalah ekspresi seni berbasis budaya Nusantara. Seni religi bersumber dari ekspresi enam agama dan kepercayaan, sementara seni etnik bersumber dari aneka ragam budaya Nusantara yang masing-masing memiliki keunikan dan keindahannya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Spiritualitas dan Seni Kristen

Saat bicara tentang Spiritualitas dan Seni Kristen, tanpa mengurangi rasa hormat, mohon maaf, saya membatasi diri pada spiritualitas dan seni Kristen Katolik, khususnya Katolik Roma. Itulah basis kompetensi saya dalam teologi baik dari segi pemahaman maupun dari segi pengalaman. Dalam konteks inilah, semoga kita bisa belajar mengenal apa itu spiritualitas dan seni Kristen Katolik, sehingga bermanfaat untuk mengambil keputusan lebih lanjut dalam rangka menghidupi saling kasih dan pengertian dalam hidup bersama di tengah keberagaman melalui seni lintas agama dan kepercayaan apa pun yang kita hayati dalam iman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Spiritualitas Kristiani

Spiritualitas selalu bersumber pada Roh Kudus (Spiritus Sanctus). Roh Kudus merupakan anugerah yang kita terima dari Bapa dan Putra (dalam perspektif trinitaris Tritunggal Maha Kudus Allah Bapa, Putra Allah dan Roh Kudus). Iman Kristen (baik Katolik maupun Protestan) mengakui bahwa Roh Kudus adalah anugerah. Kita hanya bisa menerima bukan berusaha mendapatkannya. Tentu, kita boleh memohon pencurahanNya, namun hasilnya adalah melulu anugerah!

Menghayati spiritualitas Kristiani berarti menghayati cara hidup dalam Roh Kudus yang dianugerahkan kepada kita. Meminjam pengalaman Yesus sebagaimana diwartakan St. Lukas, inilah yang disebut hidup di dalam Roh Kudus. “Roh TUHAN ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Lukas 4:18-19).

Bagi saya, teks itu adalah akar dan cikal bakal spiritualitas Kristen, apa pun denominasi kita. Spiritualitas itu menggerakkan untuk bertindak dalam praksis belarasa dan solidaritas. Seni budaya kemanusiaan menjadi pintu dan jalan menuju penghayatan spiritualitas Kristiani.

Paradigma Positif

Terhadap realitas agama-agama, kepercayaan dan kebudayaan, Gereja Katolik mengembangkan spiritualitas Kristiani dalam paradigma positif. Inilah yang dengan lugas dan jelas disampaikan para Bapa Konsili Vatikan II (1962-1965) melalui Dokumen Dogmatis Lumen Gentium 16 dan Nostra Aetate 2. Ditegaskan secara lugas dan gamblang bahwa Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang baik, benar dan suci yang terdapat dalam semua agama dan kebudayaan, sebab di dalamnya tersemai benih-benih kabar sukacita bagi seluruh umat manusia tanpa diskriminasi.

Dalam cara pandang positif itulah maka Gereja Katolik “dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar Kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya.” (NA 2)

Lalu dirumuskan suatu ajakan yang jelas pula, “Maka Gereja mendorong para puteri-puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka.” (NA 2).

Di sinilah paradigma positif dikembangkan sebagai praksis penghayatan spiritualitas Kristiani. Dalam arti itu pula, cara pandang positif terhadap karya dan ekspresi seni dan budaya mendapatkan tempat dan bahkan landasannya. Maka, menjadi suatu keheranan dan pertanyaan mendasar kalau masih ada orang Katolik yang bersikap eksklusif rigid kaku dan merasa segala bentuk rubrik liturgis itu secara puritan harus dijalankan seraya menghabisi siapa saja yang mengaplikasikan spirit Konsili Vatikan II yang selalu aggionarmentik.

Referensi pihak ketiga

St. Yohannes Paulus II dan Para Seniman

Ulasan ini merupakan rangkuman sekaligus pengembangan atas Surat Paus Yohanes Paulus II kepada Para Seniman (From the Vatican, 4 April 1999, Easter Sunday). “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” (Kej 1:31). Ayat ini dikutip oleh Paus Yohanes Paulus II mengawali suratnya kepada para Seniman, Yohanes Paulus II menyebut Seniman sebagai para pakar pencipta keindahan yang mampu merasakan belas kasih Ilahi. Dari mata batin pada Seniman terpancarlah percikan cahaya dan gema misteri penciptaan Allah. Karya seni selalu berakar di dalam setiap hakikat pengalaman religius dan kreativitas artistik. Dengan rasa kasih sayang, Seniman Ilahi meneruskan kepada seniman manusiawi secercah kebijaksanaan yang luhur memanggil mereka untuk ikut dalam daya kuasa kreatif-Nya. 

Panggilan Sebagai Seniman, Seniman Adalah Panggilan

Panggilan khusus para seniman itu membentuk kehidupan menjadi adikarya. Dalam membentuk suatu adikarya, seniman itu tidak hanya mengangkat karyanya menjadi yang ada, tetapi juga memberikan suatu dimensi baru maupun model pengungkapan bagi pertumbuhan spiritualnya. Panggilan seniman adalah mengabdi kebenaran, kebaikan dan keindahan. Itulah peradaban kasih dalam dimensi verum, bonum et pulchrum.

Itulah yang dibagikan Allah saat melihat ciptaan-Nya. Tatkala melihat bahwa segala sesuatu yang telah diciptakan itu baik, Allah juga melihat bahwa itu indah rupawan.

Seniman mempunyai hubungan khusus dengan kebenaran, kebaikan dan keindahan. Karenanya, jangan pernah menyepelekan karya seni dalam wajah apa pun (lukis, pahat, musik, sastra dan teater) sebagai karya budaya rohani. Para seniman mampu merasakan dalam diri mereka percikan Ilahi ini, sebagai penyair, penulis, pematung, arsitek, musisi, aktor dan sebagainya, untuk mengembangkannya demi melayani sesama dan umat manusia tanpa diskriminasi.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa dunia dan masyarakat memerlukan para seniman, sebagaimana masyarakat memerlukan para ilmuwan, teknisi, pekerja, orang profesional, para saksi iman, guru, ayah dan ibu. Melalui karya seninya, mereka memberi edukasi humaniora. Dalam panorama budaya yang luas dari setiap bangsa, para seniman memperkaya warisan budaya setiap bangsa dan seluruh umat manusia, serta memberikan pelayanan bagi kesejahteraan umum.

Para seniman bekerja keras tanpa membiarkan diri terseret oleh pencarian kemuliaan kosong atau memahat popularitas murahan, dan lebih lagi tidak karena perhitungan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Di sinilah etika dan spiritualitas pelayanan seniman memberi sumbangan kepada kehidupan dan pembaruan sebuah bangsa. 

Spiritualitas Seni Berbasis Misteri Inkarnasi

Spiritualitas seni suci menghadirkan wajah kerahiman sebagaimana Putra Allah yang Mahatinggi menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus anakNya yang lahir dari seorang perempuan” (Gal 4:4). Putra Allah menjadi manusia dalam Yesus Kristus, sehingga Ia menjadi pedoman dasar untuk memahami teka-teki keberadaan manusia, dunia ciptaan, dan Allah sendiri. “Dengan menjadi manusia, Putra Allah memperkenalkan kepada sejarah umat manusia segala kekayaan kebenaran, kebaikan dan keindahan kasih Allah kepada manusia. 

Inilah yang kemudian memberi inspirasi kepada para seniman Kristiani untuk menghadirkan “peta ikonografis” (meminjam istilah Marc Chagall, Pelukis, 7 Juli 1887 – 28 Maret 1985 ), sebagai sumber bagi kebudayaan maupun seni Kristen. Bahkan karya seni menjadi bagian dari pengungkapan iman Kristiani dalam kebenaran, kebaikan dan keindahan.

Penghayatan iman juga bisa diperkaya intuisi seni. St. Fransiskus Assisi yang menerima stigmata Kristus di bukit La Verna berkata, “Engkaulah keindahan karena Engkau adalah keindahan!” Setiap bentuk seni sejati dalam caranya sendiri merupakan jalan kepada realitas manusia dan Tuhan. 

Menurut permenungan St. Yohanes Paulus II, seni Kristiani selalu mengartikulasikan dasar-dasar estetis dan berisi nilai-nilai estetis. Karenanya seni inspirasi Kristen selalu bersumber dari Kitab Suci demi mengungkapkan misteri kerahiman Allah.

Sejak Edict Constantine kesenian menjadi sarana istimewa untuk mengungkapkan iman. Basilika-basilika besar mulai bermunculan, dan di dalam basilika-basilika itu prinsip-prinsip bangunan (arsitek) dunia kafir direproduksikan kembali dan pada waktu yang sama dimodifikasi untuk memenuhi tuntutan-tuntutan bentuk upacara keagamaan yang baru. Itulah yang kemudian diwariskan misalnya melalui karya seni multidimensi dalam Basilika St. Petrus di Vatikan dan Basilika St. Yohanes di Lateran.

Seni bangunan dilengkapi dengan lukisan, pahat dan patung bahkan musik dan lagu pujian demi kemuliaan Tuhan semata. Tujuannya bukan suatu penyembahan berhala melainkan melulu ad maiorem Dei gloriam (meminjam spiritualitas St. Ignatius Loyola). 

Itulah misalnya yang dibuat oleh St. Gregorius Agung yang mengumpulkan Antiphonarium dan musik suci yang paling pertama dalam lagu-lagu Gregorian sebagai musik iman Gereja dalam perayaan liturgis misteri-misteri kudus. Di sanalah Yang “indah” disatukan dengan Yang “benar” melalui seni, agar jiwa-jiwa pun diluhurkan dari dunia inderawi ke surga abadi.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Spiritualitas Seni Ikonik versus Krisis Ikonoklasme

Ada satu hal yang sangat khas dan unik dalam tradisi Gereja Katolik, apa pun denominasinya, yakni menerima penghayatan spiritualitas seni ikonik. Ikon adalah bagian tak terpisahkan penghayatan spiritualitas seni dalam tradisi Gereja Katolik. Itulah sebabnya ada banyak karya seni entah itu lukisan maupun pahatan dan patung yang menjadi buah karya seni berpangkal pada spiritualitas. 

Ikon adalah gambar-gambar dan patung-patung suci yang menjadi penanda tak hanya ekspresi spiritualitas seni melainkan juga menjadi cara menghayati iman, harapan dan kasih kepada Tritunggal Maha Kudus dan segala asesori surgawi kini-sini dan masa depan sejarah kehidupan dalam keabadian.

Dalam perkembangannya, pernah terjadi yang disebut “krisis ikonoklasme” ketika segala bentuk karya seni diharamkan dan karena harus dihancurkan pada abad ke-7 dan 8. Pembahasan dalam Konsili Nicea menyelesaikan krisis dan kontroversi itu berbasis teologi dan misteri Inkarnasi. Argumentasinya, jika Putra Allah sudah menjelma menjadi manusia dan dalam kemanusiaan-Nya membentuk jembatan antara Allah yang tak kelihatan dan yang kelihatan, maka, secara analog, merepresentasikan misteri Ilahi dan Suci dapatlah digunakan secara bertanggung jawab. Jadi, ikon (patung dan gambar suci) itu dihormati bukan karena patung itu sendiri, tetapi menunjuk di balik subyek yang diwakilkannya dan dihadirkannya bagi manusia untuk mengalami wajah kerahiman Allah seutuhnya.

Pada abad-abad pertengahan kita menyaksikan perkembangan besar dari seni Kristiani. Ikon terus berkembang, dengan mengikuti norma-norma teologis dan estetis yang penuh makna. Bahkan dalam arti tertentu, ikon dipahami sebagai laksana sakramen yakni tanda dan sarana menghadirkan misteri Inkarnasi. Karya-karya suci sampai hari ini masih menjadi ekspresi iman, harapan dan kasih kepada Tuhan dalam segala dimensi dan ekspresinya. 

Sebagaimana disebut St. Yohanes Paulus II, dalam sejarah spiritualitas seni Kristiani, Humanisme dan Renaissance mempunyai dampak penting bagi para seniman dalam tema religius yang sering mengandung kedalaman spiritual. Salah satu yang paling dahsyat adalah karya Michelangelo di kapel Sistine yang menghadirkan drama dan misteri dunia mulai dari kisah Penciptaan hingga Pengadilan Akhir, dengan memberi sebuah wajah kepada Allah Bapa, kepada Kristus sang Hakim, dan kepada manusia dalam perjalanan beratnya dari fajar sampai akhir sejarah. Masih banyak seniman besar dan fenomenal lainnya seperti Rafael, Bramante, Bernini, Borromini, dan Maderno. 

Menurut Yohanes Paulus II, mereka mampu membuat kasat mata pengetahuan tentang misteri yang menghadirkan Gereja sebagai suatu komunitas universal yang ramah, ibu dan teman seperjalanan bagi siapa saja dalam mencari Allah. Di sanalah kesenian Kristiani meraih puncak-puncak mutu tinggi estetis dan religius yang abadi. 

Tantangan Zaman

Benarlah, zaman berubah. Sebagian dari masyarakat nampaknya menjadi acuh tak acuh terhadap iman, seni dan religius. Bahkan karya seni dan budaya dianggap sebagai ancaman bagi iman dalam agama tertentu.

Dalam era modern, terjadi pemisahan dunia seni dan dunia iman. Konsili Vatikan II telah meletakkan dasar bagi suatu hubungan baru antara Gereja dan budaya, dengan implikasi-implikasi langsung bagi dunia seni. Ini adalah hubungan yang ditawarkan dalam persahabatan, keterbukaan dan dialog. Paus Yohanes Paulus II menggarisbawahi betapa dalam Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, para Bapa Konsili menekankan “kepentingan besar” literatur dan seni bagi kehidupan manusia. Bahkan, terdapat sapaan khusus dari para Bapa KV II pada akhir Konsili yang menyampaikan salam dan permohonan kepada para seniman. Para Bapa KV II mengatakan, “Dunia tempat kita hidup membutuhkan keindahan agar kita tidak tenggelam dalam keputusasaan. Keindahan, seperti juga kebenaran, membawa kegembiraan bagi hati manusia dan itu merupakan hasil berharga yang tak lekang oleh erosi zaman. Keindahan mempersatukan generasi-generasi dan membuat mereka mampu menjadi satu di dalam kekaguman!”

Di tengah tantangan zaman ini, diakui dengan jujur bahwa Gereja (Katolik) membutuhkan seni. Untuk mengkomunikasikan pesan yang dipercayakan Kristus kepadanya, Gereja Katolik membutuhkan seni. Seni harus membuat keberadaan Allah yang tidak kelihatan menjadi kelihatan, dan sedapat mungkin menarik untuk dipandang, dirasakan dan diwartakan. Meminjam terminologi antropologis Rudolf Otto (25 September 1869 – 6 Maret 1937), seni menghadirkan yang tremendum menjadi fascinosum, yang transenden menjadi imanen ke dalam warna-warna, bentuk-bentuk, sastra dan suara-suara yang memberi makna kepada intuisi orang-orang yang melihat dan mendengarkannya sehingga mengalami perjumpaan dengan Tuhan Allah. Tentu bahwa semua itu terjadi tanpa mengosongkan pesan itu sendiri dari nilai-nilai transenden dan dari aura misteri hadirat Allah.

Ambillah contoh, melalui dan dalam nyanyian, iman dialami sebagai kegembiraan yang bergetar, cinta, dan harapan kuat akan campur tangan Allah yang menyelamatkan saat merayakan misteri-misteri keselamatan. 

Referensi pihak ketiga

Seni, Peradaban Kasih, Persatuan

Dalam arus aura negatif sosial kemasyarakatan atas dasar indikator intoleransi, radikalisme dan vandalisme, saya selalu bersyukur bahwa di kalangan akar rumput tetaplah gigih bergerak berpraksis memantapkan persatuan bangsa yang multikultural dan multireligius ini melalui straregi seni dan budaya. Di tingkat akar rumput, lebih banyak masyarakat yang menempuh jalur seni budaya untuk memperkuat semangat kebangsaan dalam visi kerukunan, persaudaraan, dan perdamaian untuk mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman apa pun agama dan kepercayaannya.

Sejauh saya mengamati, mencermati dan mendokumentasikannya, strategi seni budaya tersebar secara sporadis di Nusantara dalam rangka peradaban kasih dan persaudaraan sejati yang rukun dan harmonis. Saya menemukan dan mengalami fakta interaksi sosial melalui pembauran antarunsur bangsa yang terwujud melalui berbagai kegiatan masyarakat yang mengakomodasi keberagaman yang ditempuh dalam kegembiraan seni dan budaya lintas batas. 

Saya pribadi dalam sinergi dengan banyak sahabat membuat gerakan-gerakan yang bersifat lintas agama, budaya, suku, dan komunitas melalui jalur kesenian dan kebudayaan. Dalam sebelas tahun terakhir, kami banyak berupaya membangun peradaban kasih dengan strategi seni budaya untuk menjaga dan membangun keutuhan hidup berbangsa. Dalam kerja sama lintas agama yang penuh kasih dan hormat satu terhadap yang lain, banyak peristiwa kebangsaan positif untuk masa depan negara dengan mengedepankan semangat kerukunan, persaudaraan, dan perdamaian. Dalam gerakan itu, kami melibatkan siapa saja dan segala usia dari anak-anak, remaja, dan kaum dewasa.

Penutup

Dalam semua itu, saya sampai pada keyakinan bahwa bukan politik yang mempersatukan anak bangsa ini, melainkan seni dan budaya. Politik cenderung memecah belah bahkan secara buruk ditandai produksi kebencian dan dendam hingga merendahkan martabat anak-anak Tuhan apa pun agama dan kepercayaannya menjadi sekadar anak-anak kelelawar alias kampret yang selalu saling seramg dengan anak-anak kodok alias cebong. Pertikaian dua kubu ini, meminjam bahasa sastra puitik Sosiawan Leak (Solo, 25 September 2018), bagaikan “kodok berloncatan, para kalong pun berseliweran, memaksa kita nguntal kotoran mereka hingga ayan dan keracunan … mengamuk kita mengoyak-moyak sang saka, mencabuti bulu-bulu garuda, menginjak-injak bhineka tunggal ika, memecah sabang dari merauke, mencacah miyangas dari rote, untuk apa, atas nama siapa, kita kesetanan memorak-porandakan kerukunan bangsa?”

Maka kataku, mari kita lawan dan hentikan semua itu melalui seni dan budaya demi terwujudnya peradaban kasih, persaudaraan dan kerukunan di negeri kita tercinta. Jangan biarkan Ibu Pertiwi menangis dalam duka!

Daftar Sumber dan Bacaan:

1. Aloys Budi Purnomo Pr, “Jaga Keutuhan Lewat Seni Budaya” artikel opini di Koran Jakarta edisi Kamis, 15/6/2017, lihat juga edisi online di http://www.koran-jakarta.com/jaga-keutuhan-lewat-seni-budaya.

2. Aloys Budi Purnomo Pr, “Peradaban Kasih Persaudaraan” artikel opini di Harian Kompas, halaman 8, 3 Maret 2018.

3. Aloys Budi Purnomo Pr, “Srawung Menuju Peradaban Kasih”, artikel wacana di Harian Suara Merdeka, 23 November 2018.

4. Emmanuel Asi, The Human Face of God at Nazareth, A Spirituality of Nazareth, The Columbia Press-Colour Books Ltd, Dublin, 1998.

5. Henri J.M Nouwen, Behold The Beauty of The Lord, Praying with Icons, Ave Maria Press, Notre Dame, Indiana, 1987 [Edisi terjemahan oleh Mgr. I. Suharyo, Pandanglah Wajah Kasih Allah, Spiritualitas Seni Ikon, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2003]

6. John Paul II, Letter to Artists, Vatican, 4 April 1999, lihat pula link http://w2.vatican.va/content/john-paul-ii/en/letters/1999/documents/hf_jp-ii_let_23041999_artists.html

7. Rudolf Otto, The Idea of the Holy, First published in 1923 (second edition Oxford University Press Publication, December 31, 1958)

[Artikel ini dibuat dalam rangka Studi “Menghidupi Toleransi Melalui Seni Lintas Iman” yang diselenggarakan oleh Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, 16 Januari 2019.]

Demikian, sekali lagi, semoga bermanfaat. Terima kasih. Salam peradaban kasih. BERKAH DALEM***

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/483301676181423?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.