Inspiration

Bagaimana Selanjutnya? Inilah Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (16)

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah kelanjutan upaya merajut peradaban kasih yang kali ini unik karena terbatas bersama para mahasiswa yang bergabung dalam rekoleksi tiga hari di bulan April yang sepi aksi sesudah Maret yang padat dan penuh berkat. Apa gerangan yang terjadi dan bagaimanakah? Inilah jawabannya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Bukankah narasi pun memerlukan konteks? Konteksnya adalah bahwa lelaki itu mendapat mandat menjadi Pastor Kepala Reksa Pastoral Kampus Ungu di Bendhan Dhuwur. 

Oh, Kampus Ungu? Mengapa ungu yang hari-hari ini diterjang pilu? Warna ungu yang sesungguhnya adalah simbolik warna perpaduan antara keberanian dan kemulian, meski warna ungu sempat ternoda oleh peristiwa prostisusi online gegara warna ungu jadi alat bukti, namun biarlah warna ungu tetap berada dalam jatidiri otentiknya sebagai perpaduan keberanian dan kemuliaan. Mengapa?

Saat menyadari bahwa kampusnya sering disebut sebagai Kampus Ungu, lelaki itu memang penasaran dan bertanya-tanya, mengapa?

“Bos, kenapa kampus kita disebut Kampus Ungu?” Tanya lelaki itu kepada Bosdadut – salah seorang dosen dan tendik senior yang suka udat-udut maka dipanggilnya Bosdadut… dan ia sangat kreatif dan aktif dalam pelayanan. 

Yang ditanya hanya garuk-garuk kepala yang pasti tidak gatal sambil senyam-senyum hingga kumisnya yang tak seberapa itu naik turun. Tak ada jawaban.

Pada suatu hari, lelaki itu malah mendapatkan informasi dari proses pembacaannya. Ternyata menurut sumber yang tidak mau disebut namanya itu, warna ungu itu kaya banget. 

“Warna ungu adalah warna yang tenang namun kuat,” kata sumber itu dengan penuh keyakinan. “Mengapa? Inilah jawabannya, yakni karena warna ungu tercipta dari perpaduan warna biru yang tenang dan merah yang kuat. Merah itu darah! Namun menghadirkan ketenangan karena perpadu dengan biru!”

“Masuk…” sahut lelaki itu.

Sumber itu berkata lagi, “Warna unga sebenarnya bisa merupakan warna yang cocok untuk memberikan kesan penuh gairah dalam mengerjakan dan melakukan sesuatu. Bahkan warna ungu yang cerah memberi kesan kaya dan mahal. Sementara warna ungu yang gelap memberi kesan muram durja. Di masa lalu bahkan sekarang pun, warna ungu menjadi warna jubah orang-orang yang berpangkat tinggi. Para raja itu berjubah ungu. Dalam tradisi Katolik, para Uskup Agung juga mengenakan jubah merah semburat ungu.”

Nah, di sinilah, lelaki itu mendapatkan titik cerah jawaban mengapa Unika Soegijapranata disebut dengan Kampus Ungu. Karena namanya Soegijapranata. Soegijapranata adalah Uskup Agung Semarang yang pertama. Beliau juga seorang Pahlawan Nasional di era Soekarno. Bahkan Soegijapranata adalah sahabat Soekarno dalam perjuangan demi Kemerdekaan Republik Indonesia. Atas perintah Soekarno, Albertus Soegijapranata dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang. Sampai hari ini!

Sebagai Uskup Agung Semarang kala itu, Albertus Soegijapranata mengenakan jubah warna ungu. Foto-foto beliau yang terpasang di ruangan-ruangan kampus adalah saat beliau mengenakan jubah warna ungu. Itulah sebabnya, barangkali, maka Unika Soegijapranata disebut Kampus Ungu. Seragam dosen dan tendik dominan ungu. Jas alma mater pun berwarna ungu. Bahkan di gedung Albertus ada auditorium yang lampunya pun didominasi warna ungu.

Pasti, ungu di sini terkait dengan keberanian untuk meraih kemuliaan kesarjanaan dengan cara menggali dan mengembangkan talenta demi bangsa dan umat manusia. Itulah sebabnya motto Kampus Ungu adalah talenta pro patria et humanitate.

“Masuk Pak Eko….!” Sahut lelaki itu. Aldo yang menjadi Ketua CMC, Campus Ministry for Christ, salah satu wadah pelayanan dari Reksa Pastoral Kampus yang dalam bahasa Inggris disebut Campus Ministry (CM) pun berteriak, “Masuk….” sambil megal-megol!

Nah, rekoleksi tiga hari itu juga diselenggarakan oleh CMC yang sebelumnya bernama OMK CM (Orang Muda Katolik) CM. Rekoleksi dilaksanakan di Wisma Salam, Magelang. Pesertanya tak hanya dari Kampus Ungu tetapi juga dari Atma Jaya Yogyakarta dan Politeknik St. Paulus Surakarta. 

Lelaki itu mendampingi dan memberi pencerahan kepada para peserta yang mengikuti rekoleksi peradaban kasih melalui srawung. Ia tak sendirian tetapi bersama Pandu dan teman-temannya. Ada Kak Vio, ada Sr. Elsa, ada Kak Sisil. 

Mereka semua bersemangat menggali potensi untuk merajut dan mewujudkan peradaban kasih melalui srawung. Srawung di antara mereka, srawung dengan sesama lainnya, srawung dengan siapa saja tanpa diskriminasi.

Itulah yang dihadirkan dalam refleksi malam itu, saat lelaki itu meninggalkan 2018 menuju 2019. Tanpa euforia kembang api dan pengerahan masa. Ia hanya sendiri saja sambil menikmati kembang api-kembang api di luar sana, yang suara gelegarnya membangunkan tidurnya! (bersambung)

JoharT Wurlirang, 12/1/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2429165269837913?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.