Inspiration

Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (10)

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Janganlah mudah terbakar pandangan buruk apalagi menggeneralisir keadaan seakan segalanya serba buruk bahkan busuk. Oh jangan! 

Bahwa Ibu Kota Metropolitan tak seburuk yang dibayangkan orang, lelaki pemburu peradaban kasih itu mendapatkan pengalaman lain sebelumnya. Yang terjadi dengan hadirnya sosok Sopir Taksi Berkopiah Yang Baik Hati itu bisa dibilang puncak dari pengalaman yang kebetulan terjadi dalam diri lelaki itu.

Ah, bukan kebetulan lah. Tapi itu adalah providentia Dei alias penyelenggaraan Ilahi untuk menyatakan kebaikanNya di tengah jejak-jejak busuk dan buruk kehidupan kita. Namun, yang dominan bukan yang busuk dan buruk sebab pada hakikatnya manusia diciptakan Tuhan baik adanya, bahkan amat baik secitra denganNya.

Maka, Tuhan pun bisa tetap menulis garis tegak dan lurus di jalan yang bengkok dan berliku. Ini pun terjadi di bulan Desember 2017. Dua kali peristiwa terjadi dialami lelaki itu.

Pertama di salah tepi jalan di satu kawasan ke arah kompleks Kementrian Agama RI. Malan-malam setiba di sana, lelaki itu menikmati santap malam di warung kaki lima di tepi jalan. Sambil menunggu pesanan datang, tiba-tiba pengamen datang dan melantunkan lagu-lagu pujian Kristiani. Dari tiga lagu yang dinyanyikan, dua lagu diingat dengan baik lelaki itu. Lagu pertama lagu rancak berjudul “Jangan Lelah Bekerja di Ladang Tuhan”. Lagu kedua berjudul “Bapa yang Kekal!”

Keren! Lelaki pemburu peradaban kasih itu tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa di warung di tepi jalan di Ibu Kota itu, akan ada pengamen menyanyikan lagu-lagu rohani sedahsyat itu. Seakan tahu yang sedang dialami lelaki itu yakni lelah sesudah perjalanan Semarang Jakarta, pengamen itu menyanyikan lagu “Jangan Lelah Bekerja di Ladang Tuhan”. 

Beginilah syairnya. “Jangan lelah, bekerja di ladang Tuhan, Roh Kudus yang beri kekuatan, yang mengajar dan menopang. Tiada lelah bekerja bersamaMu Tuhan, yang selalu mencukupkan segalanya. Ratakan tanah bergelombang, timbunlah tanah yang berlubang, menjadi siap dibangun di atas dasar iman, di atas dasar iman.”

Bagi lelaki itu, syair lagu itu menjadi sangat maknanya saat dinyanyikan para pengamen itu. Makjleb, menusuk tepat di jantung jiwa!

“Inilah peradaban kasih!” Seru lelaki itu. Seruan itu bukan untuk makna syair lagu semata melainkan terutama pada fakta momentumnya. Bayangin, lagu itu dinyanyikan di warung kaki lima di tepi jalan. Setahu lelaki itu, pemilik warung itu seorang Perempuan yang mengenakan jilbab. Secara fashion Islami, dipastikan bahwa pemilik warung itu beragama Islam. Namun lihatlah, ia tidak mengusir pengamen itu karena menyanyikan lagu Kristiani. Pengamen itu juga nyaman dan enjoy banget.

Padahal, lelaki itu juga yakin, para pengunjung yang sedang menikmati santap malam.di warung itu pastinya juga tidak semua beragama Kristiani. Namun mereka tidak mengusir Pengamen itu.

Persis itulah peradaban kasih yang nyata. Itulah indahnya kerukunan hidup bersama yang tidak alergi dan diskriminatif terhadap simbol-simbol keagamaan bahkan nyanyian yang jelas-jelas berwarna Kristiani.

Lagu kedua lebih dahsyat lagi. Judulnya “Bapa Yang Kekal”. Khusus lagu ini, lelaki itu mengabadikan dengan gadgetnya dalam bentuk video yang lalu diunggah diyoutube. Hingga tulisan ini dibuat, sekitar 1 tahunan sejak diunggah, youtube itu sudah dilihat 39,214 orang dan disukai sedikitnya 1000 orang. Hanya 3 orang saja yang memberi tanda tidak suka.

Bagi lelaki itu, ini pun merupakan indikator nyata peradaban kasih di DKI Jakarta. Ini fakta kebenaran dan angka nyata yang tak dimanipulasi penggelembungan imajiner.

Masih ada fakta peradaban kasih lain di bulan Desember 2017 yang melintas di angan lelaki itu yang related dengan suasana peradaban kasih di Ibu Kota. Ini terjadi tanggal 22 Desember di Cawang. 

Dalam perjalanan menuju Ciganjur untuk mengikuti haul Gus Dur, lelaki itu menuju di Cawang sesudah dijemput di Cengkareng. Lelaki itu rindu menikmati masakan ala Batak. Oleh sopir yang menjemput, ia diajak ke Cawang menikmati lapak Batak di situ. Ia rindu menikmati menu daun singkong tumbuk dan sambal khas Karo yang sengir sedap.

Sesudah usai menikmati menu khas Batak Toba dan Karo ia bermaksud meluncur ke hotel. Saat mobil yang ditumpangi lelaki itu bergerak hendak meninggalkan tempat parkir, lelaki itu terkejut. Mengapa? Inilah jawabannya.

“Bang, stop bang!” Teriak seseorang sambil berlari-lari ke arah kendaraan yang ditumpangi lelaki itu. Sambil berlari dan berseru-seru, “Bang, stop bang!” orang itu mengangkat tangan kanannya sambil menunjukkan handphone.

Lelaki itu langsung mengenali bahwa handphone itu adalah miliknya. Sopir pun menghentikan mobilnya. Seseorang yang adalah karyawan lapak Batak itu menyerahkan hp itu kepada lelaki itu.

“Ini punya abang neh. Tertinggal di meja tadi!” Sambil terpana lelaki itu menerima benda itu. Namun lebih dari segalanya, lelaki itu sedang menyaksikan lagi sebuah peradaban kasih. 

Di tengah keramaian para penijmat lapak Batak di Cawang yang begitu padat itu, barang berharga milik lelaki yang tertinggal itu ternyata masih bisa kembali ke tangannya sesaat ketika ia hendak beranjak pergi. Andaikan mobil itu sudah meluncur lebih jauh lagi, tak tahulah yang akan terjadi. Namun bahwa pemilik lapak Batak itu masih peduli, minimal ia memiliki karyawan yang jujur dan beradab itu, sehingga mereka mengembalikan barang yang tertinggal yang bukan hak mereka kepada pemiliknya. Ini sungguh luar biasa bukan?

Itulah sisi-sisi cerah peradaban kasih yang masih bercahaya di Ibu Kota DKI Jakarta. Lelaki itu yakin masih banyak sisi-sisi cerah peradaban kasih yang bertebaran di mana pun, tak hanya di Jakarta melainkan juga di seluruh pelosok Negeri Pancasila ini. Dan itu adalah pengalaman nyata peradaban kasih akar rumput yang tanpa rekayasa oleh kepentingan kekuasaan. Hebat dan dahsyat bukan?

Kenangan-kenangan itu begitu indah merekah laksana fajar menyertai pengharapan lelaki itu memasuki tahun baru 2019 dengan cahaya peradaban kasih yang lebih besar lagi. Itulah yang disyukurinya di tengah-tengah bercak keprihatinan yang ada. Namun keprihatinan itu hanyalah buih-buih di hamparan samodera kehidupab bersama yang indah dan penuh berkah. (bersambung)

JoharT Wurlirang, 6/1/2019 

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2532697259417805?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.