Inspiration

Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (3)

Referensi pihak ketiga

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Masih di lembar bulan pertama 2018 setahun silam, lamunan lelaki itu mengembang bersama gemuruh ledakan kembang api dan pendaran-pendaran cahayanya di langit, suka tidak suka, di tengah malam. Itulah suara yang membangunkannya dari tidurnya yang lelap.

Lalu refleksi pribadi pun terjadi. Januari 2018 setahun lampau dilaluinya dengan harapan menggapai kemudaan abadi dari pada penuaan kekal masa lalu. Seiring memasuki tahun yang baru, lelaki itu harus siap untuk dua hal. Pertama, bertambahnya usia. 2018 lalu menjadi usia emas baginya sejak kelahirannya lima puluh tahun silam tepatnya di tanggal 14 Februari. Ia siap menyambut emas itu meski bercampur abu, mengapa? Jawabannya nanti pada saatnya. Sekarang kita lewatkan saja dan mari kita perhatikan hal kedua yang harus disambutnya.

Inilah hal kedua itu, yakni berupa mandat atau amanat. Dikenangnya ketika dalam perjumpaan perdana dengan sejumlah rekan, lelaki itu mendapat mandat dan amanat untuk menjadi Ketua Pengarah Kepanitiaan Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda Se-Keuskupan Agung Semarang. Ini bukan mandat dan amanat yang gampang. Namun diterimanya dengan hati lapang meski tak terlalu girang. 

Menerima kepercayaan jauh lebih mulia dari pada menolaknya. Kerennya, ia menjadi Ketua SC bukan OC meski tanpa OK kayak program Wagabener di suatu Provinsi itu. SC saja tanpa OC-OK, sebab yang jadi Ketua OC adalah rekannya yang sudah hebat dan dahsyat karena sukses menyelenggarakan Asian Youth Day di tahun 2017 di DIY. Melihat pengalaman rekannya itu, lelaki itu tak terlalu khawatir lagi cemas bahwa Peristiwa Srawung dalam rangka peradaban kasih bersama dan bagi kaum muda se-Keuskupan Agung Semarang meski harus pula bersifat lintas agama. Tak masalah. Bukankah hal itu sudah menjadi nafasnya dalam satu dekade terakhir bahkan beranjak segera menjadi sebelas tahun pada Mei 2019 nanti.

Itulah keputusan yang diambil di bulan pertama 2018 pada minggu pertama dan oleh sebab itu harus segera diputuskan segala sesuatunya sebab di pertengahan Januari 2018, draft awal serta proposal harus dipresentasikan di hadapan para dewa(n) dalam forum yang disebut Temu Pastoral se-KAS. Begitulah, kini, semua dikenang dengan hati riang meski pada saat itu sungguh tegang!

“Bagaimana dana sebesar itu hanya untuk mengumpulkan 1.000 orang di hotel pula, apakah tidak sia-sia?” Tanya salah seorang anggota para dewa pada suatu ketika lelaki itu memaparkan rancangan anggaran, kegiatan dan proses pelaksanaan Srawung.

Dalam pembicaraan sebelumnya bersama tim SC-OC, memang begitulah rancangan itu dibuat sesuai harapan yang paling ideal kalau memang mau membangun spiritualitas srawung agar nyambung. Itulah jalan termurah dan terbaik dibandingkan alternatif lain yang jauh lebih rumit dan bahkan jatuhnya lebih mahal kalau dibuat dengan sistem kemah atau live in dalam situasi sosial yang panas di tahun politik dan harus menanggung risiko keamanan lebih besar sebab melibatkan masa ribuan. Bukan ratusan ribu apalagi sampai belasan juta sih seperti yang konon terjadi di Ibu Kota itu! Lagian acara ini akan berlangsung tiga hari dengan berbagai dinamika edukasi, selebrasi dan aksi serta animasi. Belum lagi dengan panitia dan para pengisi acaranya!

Syukurlah, pada saatnya nanti akan kita lihat bahwa semuanya berjalan baik, lancar dan kondusif. Namun Januari 2018 adalah lembar pertama yang menegangkan dalam rangka peristiwa bersejarah ini.

Bersama rekan-rekannya, lelaki itu menatap setiap tantangan dengan penuh pengharapan. Begitulah persiapan demi persiapan, koordinasi demi koordinasi, pertemuan demi pertemuan terlampaui dengan damai meski sesekali terlintas rasa cemas dan was-was.

“Janganlah khawatir! Sebab kekhawatiran dan kecemasanmu tak akan menambah sehelai rambut pun di kepalamu. Lihatlah burung pipit itu. Lihatlah bunga bakung di ladang itu. Burung pipit tak pernah kekurangan makanan. Bunga bakung tak pernah kekurangan pakaian bahkan dengan tenunan indah pada warna-warninya. Maju terus! Cemungutz!” Begitulah Sang Guru Hikmat memberikan peneguhan kepadanya dan diteruskannya kepada semua sahabatnya yang menyambut dengan gembira.

Hikmat itu memberikan semangat indah bagi melodi peradaban kasih yang baru dimulai dan masih harus dimainkan sampai selesai. Dengan lengking saksofon yang mengapung di permukaan samodera peradaban kasih yang tak akan mengering di musim kemarau panjang sekalipun!

Di sanalah lelaki itu mengambil seribu minuman anggur untuk siapa saja yang mau meminumnya dengan gelas-gelas yang berubah menjadi kristal. Namun tak seorang pun mabuk kepayang apalagi berjalan oleng tanpa arah!

Januari menjadi lembar pertama menuju puncak peradaban kasih dalam Srawung Orang Muda Lintas Agama pula. Siapa takut? Tak seorang pun! Sebab, tahun baru akan selalu datang untuk menenggelamkan silam. Yang ditakutkan lelaki itu hanya satu: jangan sampai ada ruang kosong tanpa peradaban, sebab bila itu terjadi maka kebiadaban akan merajalela seperti halnya tampak dalam fenomena perang kata-kata hina antara keturunan codot dan keturunan kodok yang kehilangan kewarasan akal sehat. Itu bukan peradaban kasih melainkan kebiadaban kesumat yang bisa melumatkan apa saja dan siapa saja yang lalai berpijak pada Pertiwi Tercinta! Justru di Bumi Pertiwi inilah telah merekahkan harapan yang selalu masih ada bagi benih-benih peradaban kasih yang harus diburu bukan sebagai binatang jalang melainkan sebagai mutiara berharga di bahari samodera kehidupan kita. 

Selembar kenangan Januari terlewati dengan bahagia! (bersambung)

JoharT Wurlirang, 3/1/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/152271635874952?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.