Inspiration

Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (5)

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Membuka lembaran di bulan Januari, ada banyak kisah indah yang dirajut lelaki pemburu peradaban kasih itu. Paling tidak, itu terjadi sejak hampir satu dekade terakhir ini.

Kenangan satu dekade itu dimulai saat pada bulan April 2008, lelaki itu ditunjuk oleh Sang Gembala Yang Melayani Dengan Segala Kerendahan Hati, Mgr. I. Suharyo, menjadi Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS), lalu pada 1 Mei dilaksanakan sertupel. Apa itu sertupel? Itu istilah yang yang biasa dipakai lelaki itu untuk mengganti istilah sertijab. Biasanya orang menggunakan istilah sertijab yakni serah terima jabatan ketika terjadi pergantian personalia kepemimpinan. Ah, jabatan! Kata lelaki itu. Itu bukan jabatan tetapi pelayanan! 

Itulah sebabnya, ia lebih suka menggunakan istilah sertupel yakni serah terima tugas pelayanan dari pada sertijab. Yang terpenting adalah pelayanan bukan jabatan. Apalah artinya jabatan kalau tanpa spirit pelayanan. Itu yang bikin orang mengalami post power syndrom karena mereka haus jabatan dan kekuasaan. So, sertupel lebih memancarkan cahaya peradaban kasih dari pada sertijab!

Nah, di awal Mei 2008, lelaki itu mengalami sertupel dengan guru dan seniornya, yakni Romo F. Suryoprawata MSF yang sudah lebih dari tiga dekade melayani Komisi HAK KAS bersama YB Mangunwijaya Pr dan Ig. Kuntoro Wiryomartono SJ. Ketiga-ketiga sudah almarhum dan bahagia di surga, pastinya! Lelaki itu taat kendati lemah, menerima tugas pelayanan itu, sendiri menggantikan tiga senior hebat dan dahsyat dalam kompetensi masing-masing, dalam ketidaktahuan apalagi pula ketidakmampuannya.

“Jangan takut! Pasti bisa!” Begitulah Sang Gembala Yang Melayani Dengan Segala Kerendahan Hati menasihati lelaki itu. Teduh. Tenang. Percaya seutuhnya tanpa prasangka!

Lalu sejak itu, dipikirkanlah oleh lelaki itu, dalam rangka Januari, dibuatlah ini untuk pelayanan Kom HAK KAS demi memburu peradaban kasih. Perjalanan ekumenis sejarah Gereja mencatat, sejak tahun 1908, terdapat gerakan yang disebut Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani. Gerakan ini merupakan sinergi antara Dewan Kepausan untuk Memajukan Kesatuan Umat Kristiani (Ekumene) di Vatikan dan Komisi Iman dan Hukum Dewan Gereja-Gereja Sedunia di Geneva. Kedua lembaga representasi Gereja Katolik Roma dan Gereja-Gereja Kristen itu menyerukan Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani. Tujuannya adalah untuk menghadirkan peradaban kasih dalam kerukunan, kesatuan dalam keberagaman, dan perdamaian di antara sesama Umat Kristiani meski berbeda denominasi. Indah bukan?

Itulah sebabnya, sebagai pemburu peradaban kasih, lelaki itu begitu bersemangat ketika mempelajari sejarah itu dan kemudian mengukir sejarah masa depan ekumenis sebagai salah satu bentuk peradaban kasih. Dengan rendah hati namun berani, lelaki itu mengumpulkan dan mengundang sejumlah Pendeta yang menjadi sahabatnya. Ia sampaikan temuan sejarah dab praksis yang sudah lama itu untuk kemudian ditawarkanlah suatu kemungkinan menghayati dan memraktekkan hal itu di Semarang. Begitulah Pdt. Napsun yang kala itu menjadi Ketua PGIW Jateng menyambut dengan antusias. Jadilah, untuk pertama kalinya, gerakan Ibadah Ekumene bersama dilakukan di Gereja Hati Kudus Yesus Tanah Mas Semarang, tempat lelaki itu bertugas.

Begitulah sesudah itu, tiap tanggal 18-25 Januari, lelaki itu disibukkan dengan berburu peradaban kasih melalui Pekan Doa Sedunia. Mulai dari Semarang, ia bergerak ke Solo, Yogya, Salatiga, Ungaran, Magelang, Muntilan, dan Borobudur. Dalam satu dekade ini, di banyak tempat, dan dengan banyak pihak, kerja sama sinergis memburu peradaban kasih melalui gerakan ekumenis terjadi. Dari tahu ke tahun dalam satu dekade terakhir, semakin banyak jemaat dan umat terlibat, semakin bertambah pastor, pendeta dan dewan paroki turut serta dalam peristiwa ini.

Peristiwanya sedemikian ajaib. Misalnya, di Semarang, gerakan ini pertama kali di Tanah Mas, lalu di Kebon Dalem, di Ungaran, di Sendanguwo, di Semarang Indah, di Karangpanas, di Bongsari dan di Gereformeerd. Terjadi pula di Gubug Purwodadi.

Di Kedu, peristiwa terjadi di Ignatius Magelang, Mertoyudan, Muntilan dan Borobudur, Pancaarga. Di Solo pun terjadi di beberapa tempat yakni di Kleco dan Solobaru serta di sejumlah Gereja-gereja Kristen. Sedapat-dapatnya, lelaki itu selalu datang dan mendukung peristiwa itu agar kian semarak.

Gerakan berkembang. Umat dan jemaat menyambut dengan hati riang. Suasana penuh persaudaraan sebagai salah satu ciri peradaban kasih tercipta.

“Doanya Kristen banget!” Seru yang beragama Kristen apa pun denominasinya.

“Doanya Katolik banget!” Seru yang beragama Katolik tak mau ketinggalan. Pendek kata, kedua belah pihak tersapa tanpa merasa dihina apalagi diancam untuk suatu penyatuan. Sebab, memang bukan itulah tujuan Pekan Doa Sedua untuk Kesatuan Umat Kristiani. Tujuan utamanya adalah menghadirkan kesatuan dalam kerukunan dan perdamaian. Persis itulah sisi peradaban kasih.

Itulah kenangan-kenangan perca peradaban kasih yang akan selalu datang di bulan Januari. Tak hanya indah untuk dikenang melainkan selalu diperjuangkan untuk mengukir sejarah peradaban kasih masa depan!

Ssssiiiuuut der…. siuuuut dor. Dor dor dor der der bum…. keretak-keretak…. Suara kembang api memecah permenungan. Peralihan tahun meriah entah oleh siapa dan di mana saja. Lelaki itu duduk di atas tempat tidurnya, suka tidak suka, menerima suara-suara kembang api itu, walau ia tak bisa menikmatinya keindahannya…. (bersambung)

JoharT Wurlirang, 4/1/2019 

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/71586761680723?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.