Inspiration

Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (6)

Referensi pihak ketiga

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. . Di awal sudah disebut bahwa memasuki 2018 setahun silam, lelaki itu menyambut emas dalam abu. Nah inilah kenyataannya. Inilah bagian dari lembar bulan kedua 2018 kenangan dibentangkan.

Setiap Februari tiba, hati lelaki itu selalu dipenuhi oleh rasa syukur meski terkadang syukur tak harus disertai dengan pesta. Februari adalah hari istimewa untuknya terutama pada tanggal 14 sebab ia mengenang dan mensyukuri hari kelahirannya. Valentine’s day! Begitu orang biasa menyebutnya dan ada pula yang menyalahgunakannya.

Valentine’s day dijadikan hari kebiadaban bukan hari peradaban kasih. Itulah bedanya dan penyalahgunaan hari kasih sayang bukan dalam rangka peradaban kasih, melainkan sebaliknya. Karenanya, lelaki itu mencoba untuk memaknai hari kasih sayang sama seperti saat menyambut tahun baru bukan di jalanan melainkan di rumah Tuhan.

Inilah alasannya mengapa hari kasih sayang harus menjadi cara dan pintu masuk peradaban kasih, bukan sebaliknya. Yang sebaliknya itu merupakan penyalahgunaan makna hari kasih sayang. Pemaknaan yang benar dan sebenarnya adalah dalam rangka peradaban kasih. 

Pemaknaan hari kasih sayang sebagai pintu masuk peradaban kasih bermula dari suatu pertanyaan mendasar: Bagaimanakah kita dapat hidup di tengah dunia yang selalu ditandai ketakutan, kebencian, kekerasan bahkan kematian? Di tengah situasi itu, bagaimana kita bisa tetap hidup dalam peradaban kasih dan tidak hancur oleh ketakutan, kebencian, kekerasan dan bahkan kematian? 

Sebagai lelaki pemburu peradaban kasih bahkan di tengah karut marut kehidupan ini, ia terpesona pada suatu Sabda yang pernah disampaikan Sang Guru Kasih. Inilah Sabda itu, “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia ini, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat, sebab mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.” (Yohanes 17:15-16).

Itulah janji yang sudah ditopang bukti. Peradaban kasih itu bukan satu hal yang taken for granted tetapi harus diperjuangkan. Harus diburu! Maka jadilah pemburu peradaban kasih yang pemberani. Jangan setengah-tengah. 

“Memang, dunia kita itu laksana rumah yang sering dipenuhi ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran bahkan kekerasan dan kematian!” Tulis seorang bapa rohani hebat asal Belanda yang memesona. Lelaki itu suka banget koleksi fan tentu saja membaca buku-buku karya penulis rohani itu. Namanya Henri J.M. Nouwen. Lebih dari dua puluh buku baik dalam bahasa Ingris maupun yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, semua sudah dilahapnya dengan bahagia. 

Bagi lelaki itu, Henri Nouwen adalah sumber inspirasi yang tak pernah habis ditimba dan direguk isinya. Bahkan boleh dibilang, hampir seluruh bukunya bicara tentang peradaban kasih yang harus dimulai dari rumah kasih. 

“Jangan biarkan ketakutan menguasai rumahmu! Jadikan rumahmu sebagai rumah kasih!” Kata Nouwen pada suatu hari.

“Ya, dan itulah peradaban kasih!” Sahut lelaki itu. “Menghayati perburuan peradaban kasih itu laksana hidup di dunia tetapi tanpa menjadi milik dunia.” Lanjutnya.

“Itulah hidup rohani!” Jelas Nouwen. Tersenyum. Lalu melanjutkan lagi katanya, “Hidup rohani membuat kita selalu menyadari bahwa rumah kita yang sesungguhnya bukanlah rumah yang ditandai oleh ketakutan, tempat kebencian dan kekerasan berkuasa. Rumah kita adalah rumah kasih, rumah tempat Allah bersemayam dengan kasih dan kerahimanNya!”

“Itu benar. Tetapi, ya, tetapi…” sahut lelaki itu tak sabar karena hatinya terbakar oleh fakta yang selalu menghadangnya, “… hampir setiap hari dalam hidup kita, kita mengalami ketakutan lahir batin, kecemasan, kekuatiran dan keraguraguan atas harapan masa depan yang penuh kasih di rumah bersama dunia kita! Masih mungkinkah kita hidup dalam rumah kasih bila tiada peradaban kasih?”

“Tenang kawan! Tenanglah! Inilah pengalaman saya.” Jawab Nouwen. “Begini, selama masa-masa yang berat dalam hidup saya, ketika doa dengan kata-kata hampir tidak mungkin dan ketika kelelahan mental serta emosional membuat diri saya mudah menjadi korban keputusasaan dan ketakutan, bersikap tenang dalam penyerahan diri kepada Sang Sumber Peradaban Kasih adalah awal dari kesembuhan dan pemulihan. Maka, tenanglah! Seperti yang kamu rindukan dan buru siang malam, menyelamlah ke dalam samodera peradaban kasih itu… Rayakanlah di sana indahnya kehidupan yang tak ditandai buih ketakutan, kecemasan, dan kekuatiran melainkan oleh luasnya samodera kerahimanNya dan dalamnya kekayaan kasih tak bertepi tak berbatas!”

Nah, dan persis itulah yang kemudian menjadi alasan bagi lelaki itu untuk selalu menandai hari kelahirannya yang bertepatan dengan Hari Kasih Sayang itu dengan perayaan peradaban kasih bersumber dari Ekaristi Suci. Itulah yang ditawarkannya kepada siapa saja yang mau menerimanya.

Ah, namun itu tak terjadi di kala usianya memasuki tahun emas lima puluh tahun. Emas itu bercampur abu. Ya, itu harus terjadi sebab persis di saat HUT Emasnya, pada saat dan hari yang sama adalah Hari Rabu Abu, saat Gereja Katolik dan umatnya memulai masa Prapaskah dalam pantang dan puasa. Bahkan, dahi semua umat pun harus ditandai dengan abu sebagai bentuk dan simbol pertobatannya.

Di situlah, lelaki itu dengan penuh syukur dan bahagia, menyambut Hari Emasnya dengan abu bahkan ia tak membagikan kue tart atau kembang gula, melainkan membagikan abu pada dahi umatnya sambil berkata, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil. Kamu berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu!”

Namun abu itu tak membuat emas menjadi kelabu. Justru oleh gosokan abu itu, emas itu kian bercahaya di rumah kasih. Cahayanya menjadi pelita untuk memburu peradaban kasih dan menghalau setiap ketakutan, kecemasan, kekuatiran, dan kekerasan bahkan kematian! (bersambung)

JoharT Wurlirang, 5/1/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/734881814831112?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.