Inspiration

Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (7)

Referensi pihak ketiga

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Bagi lelaki pemburu peradaban kasih ini, Februari 2018 yang lalu istimewa atas dua hal terkait dengan upaya merajut peradaban kasih bagi negeri ini. 

Dua hal itu dikenang sementara detik-detik peralihan 2018 ke 2019 terus melaju pelahan tapi pasti, konsisten dari detik ke detik menuju menit. Diiringi kembang api berpijar di bawah sana. Desing desau dar der dor bukan suara tembakan senapan melainkan pecahan-pecahan bunyi kembang api penanda peralihan tahun yang entah sejak kapan mewarnai kehidupan di seluas dunia sepanjang masa entah sampai kapan. Dua hal dikenang melintasi bagai kaleidoskop di Februari 2018.

Yang pertama, teringat jelas gamblang membawa riang, ketika ia mendapat kehormatan diundang oleh Prof Dr M Din Syamsuddin, utusan khusus Presiden Joko Widodo untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban, yang mengundang sejumlah tokoh lintasagama se-Indonesia untuk mengadakan Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa (MBPA-UKB) di Jakarta. MBPA-UKB itu diselenggarakan pada tanggal 8-11 Februari 2018. Lelaki itu diundang sebagai salah satu peserta untuk kepentingan MBPA-UKB tersebut.

“Tentu, saya bersyukur mendapat undangan dan kesempatan terlibat dalam musyawarah tersebut. Selama sepuluh tahun terakhir, saya terlibat aktif dan intensif sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS) dalam membangun peradaban kasih persaudaraan sejati dengan semua orang tanpa diskriminasi di negeri ini. Peradaban kasih persaudaraan hanya bisa diwujudkan bila kita bisa hidup rukun bersatu dan mengembangkan spirit dialog yang dialogis.” Jelas lelaki itu kepada para peserta lain yang datang dari seluruh penjuru Tanah Air Indonesia. 

Masih jelas diingat oleh lelaki itu, Panitia merumuskan tema musyawarah dalam satu kalimat: Rukun dan Bersatu, Kita Maju. Terhadap tema itu, lelaki itu berkata, “Menurut hemat saya, tema ini merupakan harapan yang sangat relevan dan signifikan dalam konteks kehidupan kita saat ini. Kita hanya bisa menjadi bangsa yang maju dalam membangun peradaban kasih persaudaraan apabila kita hidup dalam kerukunan dan persatuan. Inilah tekad kita bersama yang tak bisa ditawar-tawar dalam sikap kompromistik. Tekad itu bahkan sudah diwujudkan oleh para pendiri bangsa ini sebagai bangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 bersemangatkan Bhinneka Tunggal Ika. Itulah yang kemudian menjadi pilar-pilar kebangsaan yang sudah final.”

Lebih lanjut, dengan penuh semangat, lelaki berambut gondrong itu bilang, “Kita sepakat untuk terus menggemakan warisan historis itu sebagai kesadaran bersama di masa depan. Benarlah bahwa kemajemukan Indonesia adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang harus dipelihara sebagai kekuatan untuk kemajuan bangsa. Benar pula bahwa agama-agama di Indonesia telah berfungsi sebagai perekat kemajemukan dan telah menciptakan derajat kerukunan bangsa yang mulia dan bermartabat sejak dahulu kala di seluas Nusantara.”

Sambil menatap tajam para peserta lain, tatapan penuh kasih persaudaraan, lelaki itu melanjutkan ucapannya, “Karenanya, para Saudari-saudara yang terkasih, wawasan kemajemukan dan kerukunan berlandaskan agama yang sudah mengkristal dalam falsafah Pancasila dan spirit Bhineka Tunggal Ika, dalam bingkai NKRI harus terus dirawat. Pada giliran berikutnya wawasan dan kesadaran itu akan memperkuat kerukunan dan persatuan bangsa tanpa diskriminasi untuk membangun peradaban kasih persaudaraan.”

Para hadirin dengan penuh antusias mendengarkan. Tak seorang pun memberikan interupsi atas kalimat-kalimat yang diucapkannya dengan penuh wibawa, caile…, ya, wibawa! Kalimat berikut ini menggelegar melalui mikrofon yang di depannya, “Sendi-sendi bangunan peradaban kasih persaudaraan sebagai anak-anak bangsa Indonesia yang ditopang oleh kerukunan tidak boleh digoncang apalagi dirobohkan oleh orientasi intoleransi, eksklusivisme, radikalisme, dan ekstrimisme pada segelintir warga bangsa. Friksi yang merusak kerukunan antarumat beragama dan maupun intraagama harus dicegah dan diatasi agar tidak mengkhianati warisan para pendiri bangsa ini yang sudah dirumuskan dalam keberagaman.”

Dan tepuk tangan pun membahana. Lelaki itu tak mengurangi volume suaranya, ia berkata, “Salah satu kelemahan yang merusak gerak maju kehidupan bersama yang rukun adalah absennya semangat dialog yang dialogis. Model musyarawah besar yang ditempuh untuk maju dalam kerukunan dan persatuan menurut saya sangat tepat ditempuh melalui semangat dialog yang dialogis. Musyawarah itu harus sungguh-sungguh mengedepankan dialog yang dialogis, bukan dialog yang memaksakan kehendak kepada pihak lain yang berbeda. Dalam konteks kebangsaan dan kultur Nusantara, musyawarah adalah sarana dan wahana silaturahmi dan dialog yang dialogis.”

Sampai di sini, lelaki itu lantas memberikan opini dan solusi. Katanya, “Dibutuhkan empat syarat untuk praksis dialog yang dialogis. Pertama, kedewasaan religius apa pun agamanya, dan kecintaan pada bangsa kita. Itulah yang sering saya sebut sikap 100% religius apa pun agama, keyakinan dan kepercayaannya, dan 100% nasionalis apa pun suku, budaya dan bahasanya.”

Berhenti sejenak lalu ini yang berikutnya, “Kedua, dialog yang dialogis terjadi, bila peserta musyawarah mengutamakan hati yang mengasihi pihak lain dari hati ke hati, dari jiwa ke jiwa dengan akal sehat dan bukan okol kuat. Musyawarah yang merupakan ekspresi spirit dialog yang dialogis ditandai oleh kesepakatan-kesepakatan berwibawa, bermartabat dan beradab dalam mengambil keputusan solutif terhadap persoalan yang ada.”

Dan ini yang berikutnya lagi, ditegaskannya, “Ketiga, dialog yang dialogis jauh dari segala bentuk kekerasan baik perkataan maupun tindakan; apalagi pemaksaan kehendak. Yang hendak digapai adalah kemenangan bersama dalam rangka peradaban kasih persaudaraan, bukan kemenangan segelintir orang atau kelompok yang merasa diri paling benar. Dialog yang dialogis berbuah kebenaran bersama, bukan argumentasi untuk membenarkan pendapat sendiri. Keputusan bermartabat pun diambil demi kebenaran bersama bukan untuk pembenaran kehendak sendiri.”

Kemudian disampaikan yang terakhir, katanya, “Keempat, proses dialog yang dialogis bisa jadi menyakitkan, namun kedewasaan keberimanan tidak boleh menggerus infantilisme keberagamaan. Karenanya, dibutuhkan ketulusan, keterbukaan, keterusterangan dan kerjasama yang mengutamakan manfaat ketimbang mudarat, mencapai mufakat yang bermartabat ketimbang pemaksaan pendapat.”

Lalu lelaki pemburu peradaban kasih itu menyampaikan muaranya. Dengan penuh semangat dikatakannya, “Dari sana akan mengalirlah peradaban kasih persaudaraan sejati yang mewujud dalam kehidupan masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agamanya. Peradaban kasih persaudaraan harus diperjuangkan!”

Lalu ia mulai menerangkan apa itu peradaban kasih yang ada dalam hati dan pikirannya, “Peradaban kasih ditandai tiga hal pokok. Pertama, sikap inklusif terbuka dan merangkul (ngrengkuh). Kedua, kehidupan yang inovatif terbuka terhadap pembaruan yang konstruktif. Ketiga, semangat transformasi inspiratif yakni memiliki daya ubah yang memajukan kehidupan bersama.”

Dengan muara itu serta semua penjelasan yang ada, lelaki itu berharap dengan penuh iman dan cinta, “Semoga musyawarah besar para tokoh agama untuk kerukunan bangsa kita sungguh-sungguh terarah pada dan terwujud dalam muara peradaban kasih persaudaraan di Indonesia. Untuk itu, siapa pun yang terlibat di dalamnya harus mengembangkan segala bakat dan kemampuannya demi bangsa dan kemanusiaan. Selamat bermusyawarah, semoga menjadi berkah bagi kehidupan bersama seluas Nusantara.”

Lelaki itu menarik nafas lega. Bagaimana bisa semua itu disampaikannya kala itu dan kini menjadi kenangan kaleidoskopik saat ia mengakhiri 2018 meyambut 2019.

Tiba-tiba malam itu, hatinya sehangat pijar-pijar cahaya kembang api di bawah sana entah di mana saja. Dan semangatnya menggelora seiring suara-suara kembang api itu dor der dar der dor. Siuwiiing sssss der der der. Byar!!!

Tak terasa, lelehan air hangat mengalir dari matanya. Membasahi pipinya. Ia sendiri tapi tak sendirian meninggalkan 2018 bersamaNya menyambut 2019 bersama pula berbagai kenangan, harapan dan kerinduan… (bersambung)

JoharT Wurlirang, 6/1/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi; konten berdasarkan tulisan saya yang dimuat di kolom Opini Kompas, 3 Maret 2018, halaman 7.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2734267288306435?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.