Inspiration

Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (9)

Referensi pihak ketiga

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Siapa bilang Jakarta kota garang? Ah, itu ngarang! Buktinya, lelaki pemburu peradaban kasih itu mengalami yang sebaliknya. Ibaratnya, 180 derajat berbeda dari katanya pada umumnya.

Awalnya sangat menegangkan memang. Sore itu, sepulang dari Istana Bogor, lelaki itu mengambil kopor di kamarnya di sebuah hotel tempat MUBES berlangsung. Lelaki itu harus pulang oleh sebab esok harinya sudah janjian untuk pelayanan yang tak bisa dibatalkan!

Ia pun naik taksi yang sedang parkir di depan hotel itu. Sopir taksinya keren. Ia mengenakan kopiah. Dengan ramah ia membantu lelaki itu memasukkan kopor di bagasi taksi. 

“Halim Perdanakusumah ya Pak!” Kata lelaki itu.

“Baik Pak!” Sahut sopir taksi itu. 

Di spion tengah depan terpasang tasbih. Sebelum melaju, sopir itu berbisik lirih dalam doa, “Bismillah…!” Bisikan lirih doa pribadi itu terdengar jelas di telinga lelaki itu. Itu membuatnya pun turut tenang, nyaman dan aman. Lelaki itu pun berdoa dalam hatinya sesuai dengan agamanya mohon perlindungan agar perjalanan menuju bandara aman sentosa dan tidak terjebak macet sebab waktunya sudah mepet menuju jam penerbangan Jakarta ke Semarang.

Lelaki itu sudah melakukan online check-in. Tempat duduknya di kursi 16C. Penerbangan tanpa bagasi, sudah online check-in, kalau pun tiba di bandara agar mepet mestinya tak jadi masalah, asal jangan keterlaluan telatnya. Posisi terhitung aman.

Perjalanan menuju bandara HPK lancar. Masih ada waktu barang 45 menit untuk mengurus print-out boarding pass sesudah online check-in. Namun apa daya. Sesudah urusan pembayaran taksi beres, dan taksi melaju kencang keluar area bandara, lelaki itu baru menyadari bahwa hand-phone-nya tertinggal di jok belakang taksi beserta dengan semua kartu ID yang jadi satu di casing hp itu. Ada SIM A, ada KTP, ada kartu ATM (tapi tidak setebal tempe). Lelaki itu pun berusaha mengejar taksi yang sudah melaju itu namun gagal. Sia-sia.

“Bang, kalau mau naik taksi pilih yang masih parkir itu aja, ndak usah ngejar taksi yang sudah jalan…” seloroh seseorang tak dikenal pada lelaki itu.

“Saya kejar taksi itu bukan untuk naik sebab saya barusan turun dari taksi itu dan hp saya tertinggal di situ Bang!” sahut lelaki itu.

“Oh, coba tanya abang itu! Dia yang ngatur taksi di sini!” nasihat orang itu.

Omong punya omong, toh hasilnya nihil. Lelaki itu tak ingat nomor kendaraan taksi itu. Ia juga tak ingat identitas taksi itu. Ia hanya ingat bahwa taksi itu mangkal di depan hotel yang menjadi tempat MUBES berlangsung.

Gontailah lelaki itu dengan harapan bisa masuk bandara untuk mendapatkan print out boarding pass. Syukurlah, dengan menggunakan laptopnya, lelaki itu bisa menunjukkan tiket online yang masih tersimpan di emailnya. Hambatan pertama lolos. Ia bisa masuk bandara dengan aman.

Muncul persoalan berikut. Kepada petugas counter check in, lelaki itu mengungkapkan kesulitannya. Ia sudah melakukan online check in dan tinggal minta print out boarding pass. Ia jelaskan bahwa posisi duduk di seat 16 C penerbangan Jakarta Semarang beberapa saat lagi. 

“Semua yang bapak bilang benar. Atas nama Aluysius Budi Purnomo, terbang ke Semarang, seat 16 C. Bisa dibantu kartu identitas Pak?” Kata petugas itu kepada lelaki itu.

“Waduh Mbak. Kan saya sudah bilang bahwa semua kartu ID saya hilang tertinggal di taksi. Saya ndak bisa menunjukkan kartu itu Mbak, maaf. Apakah saya tida bisa dibantu dengan kejujuran saya yang sudah persis sama antara data yang saya katakan dengan yang tertera di komputer Mbak?” Lelaki itu mencoba merayu. Namun, petugas itu memang harus taat pada SOP yang berlaku. Kartu identitas harus ditunjukkan. Tanpa itu, tidak bisa! Titik. Waktu seakan berhenti berlalu dan detak jam seolah tak bergerak, syukurlah kalau begitu sehingga kemungkinan tertinggal pesawat tak akan terjadi oleh karena waktu berhenti bergerak menuju saat terbang. Namun faktanya, detak waktu terus melaju. Dan itu berarti tanda bahaya untuknya tertinggal pesawat terbang. Oh my God – kata orang Barat yang biasa bilang begitu.

“Minta tolong donk Mbak. Saya sudah berkata sesuai dengan nurani dan kejujuran saya, bahwa sayalah orang yang tertera dalam data online itu meski saya tidak bisa menunjukkan kartu identitas saya karena musibah yang saya alami yakni tertinggalnya hp dan beberapa kartu id saya di taksi. Tolong donk Mbak. Tak adakah kebijakan moral dalam kasus sedarurat ini? Saya harus pulang ke Semarang demi pelayanan. Bisakah disampaikan kepada bosnya Mbak atas kasus saya ini? Tolong Mbak….”

Petugas itu tetap teguh pada pendiriannya. Pokoknya tidak bisa! Tak ada cetak boarding pass tanpa tunjukkan kartu identitas. 

Lelaki itu terjepit. Ia tidak mau menyalahkan siapa pun selain dirinya sendiri. Satu-satunya cara hanya satu. Inilah satu-satunya. “Mbak, jadilah saksi saya. Saya dalam kesulitan terbesar seumur hidup saya. Tak seorang pun bisa menolong saya kecuali Dia, Tuhan Yang Maha Esa….” 

Lelaki itu membuat tanda salib dan mulai berdoa di depan petugas itu. Dalam sekejap. Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya. Lelaki itu menoleh. Seorang petugas security-lahternyata yang menepuh pundaknya.

“Pak, ditunggu sopir taksi di luar!” Kata petugas security itu.

Spontan, lelaki itu berkata, “Benar kan Mbak. Tuhan menolong saya. Maaf…, titip laptop dan kopor saya ini ya…” dan seketika lelaki itu berlari keluar sambil meninggalkan laptop dan kopor di depan meja counter check ini. Di ujung antrean masuk ke pintu keberangkatan itu, Sang Sopir Taksi Berkopiah itu berdiri sambil mengangkat hp milik lelaki pemburu peradaban kasih itu. 

“Hp-nya Pak. Tertinggal di jok belakang taksi saya.” 

Lelaki itu tak menggubris kalimat yang diucapkan Sang Sopir Taksi Berkopiah itu. Ia memeluknya sambil berkata, “Terima kasih Pak. Anda orang baik sekali! Tuhan memberkatimu dan keluargamu.” 

Lelaki itu menerima hp yang casingnya sekaligus seperti dompet tempat banyak kartu id bisa tersimpan itu. Ia merogoh saku celana sarungnya, entah ada berapa, semua lembar rupiah yang ada di sana diserahkannya kepada Sopir Taksi Yang Baik Hati itu. Bahkan semua itu tak sepadan dengan kebaikan yang sudah ditunjukkan Sang Sopir Taksi Berkopiah Yang Baik Hati itu.

Sekali lagi, lelaki itu memeluk Sang Sopir Taksi Berkopiah itu lalu berlari masuk ke depan petugas check in yang sudah mempersiapkan print out boarding pass bahkan sebelum lelaki itu menunjukkan kartu id-nya.

Sambil mengucap syukur dan terima kasih, lelaki itu setengah berlari menuju pintu boarding pesawat yang sudah siap untuk terbang. Begitu lelaki itu masuk pesawat, pintu pesawat pun ditutup. Semua orang yang di dalam pesawat itu memandang lelaki itu yang merasa lega sebab mengalami tangan Tuhan yang tak pernah terlambat memberikan pertolongannya.

Sepanjang perjalanan itu, ia hanya membayangkan yang baik saja. Wajah Mbak petugas check in yang turut lega saat lelaki itu bisa mendapatkan kembali hp dan kartu id-nya. Lalu bisa terbang pulang ke Semarang demi pelayanan bagi para umat tersayang.

Dibayangkannya pula, kini, sesudah hampir setahun peristiwanya terjadi. Apa kira-kira yang dikatakan Sang Sopir Taksi Berkopiah itu saat menemui petugas security demi mencari lelaki itu. 

“Pak tolong… ini tadi ada penumpang saya mau terbang. Orangnya gondrong. Rambutnya panjang. Pakai celana sarung…. ini hp-nya tertinggal di jok belakang taksi saya….” Barangkali itu yang dikatakannya. Makanya, petugas security bandara HPK itu langsung bisa menepuk pundak lelaki itu, satu di antara ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang ada di dalam bandara HPK sore itu.

Ah, ternyata, keunikan memakai celana sarung dan berambut gondrong membawa berkah pula di tengah gundah. Sulit dibayangkan dengan nalar bagaimana mungkin Sang Sopir Taksi Berkopiah Yang Baik Hati itu bisa menemukan hp di jok belakang taksinya sesudah ia keluar dari bandara bahkan lalu berinisiatif untuk kembali masuk bandara tanpa penumpang demi mencari penumpang yang hp-nya tertinggal? Kalau ia bukan orang yang baik hati, tak mungkin itu terjadi. Mungkinkah ia hanya satu-satunya orang yang baik di Ibu Kota Metropolitan yang katanya garang? Pasti tidak! Masih ada orang-orang baik yang jumlahnya lebih banyak dari pada segelintir oknum yang mungkin bikin nama Jakarta jadi tidak bagus. Mari berpikir positif saja! Pengalaman lelaki itu hanyalah salah satu bukti dan tanda yang bisa diwartakan. 

Begitulah Kota Jakarta tetap jaya dan indah di mata lelaki itu sesudah peristiwa itu, yang hanya merupakan salah satu dari sekian banyak fakta baik lainnya yang tak terberitakan! Semoga dari sana tersebar pula warta baik dan berkah bagi seluruh umat manusia di mana pun berada. Tak ada yang mustahil seperti halnya tak semustahil atas kembalinya hp yang hilang miliknya itu! Bukankah begitu? (bersambung)

JoharT Wurlirang, 6/1/2019 

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/406928500288113?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.