Inspiration

Bagaimana Kisah Selanjutnya? Inilah Kisah Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (35)

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Refleksi kisah perjalanan lelaki pemburu peradaban kasih bergerak maju dari lembar kidung peradaban di bulan Juli menuju Agustus. Agustus adalah bulan penuh kenangan atas perjuangan para pendiri bangsa ini merebut Kemerdekaan Republik Indonesia. Lalu bagaimana implementasinya kini sini dalam rangka peradaban kasih bangsa?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

“Yang terjadi di Kudus, tepatnya di Balai Budaya Rejosari itu unik dan menarik dalam rangka rangkaian Prasrawung di Rayon Busidiana?” Kata lelaki itu kepada Masagung yang selama ini selalu setia menyertai lelaki itu sebagai pengganti sopir. Disebut pengganti sopir sebab sesungguhnya yang menjadi sopir utama setiap kali perjalanan memburu peradaban kasih adalah lelaki itu. Baru kalau ia sudah pada puncak lelah maka Masagung akan menggantikannya.

“Busidiana itu apa ya?” Tanya Masagung. “Oh itu singkatan Rayon Pastoral Pantura yakni Gubug, Kudus, Pati, Jepara dan Juwana. Sedesah nafas sekata diucapkan Busidiana!” Jawab lelaki itu.

Matahari masih menyengat ketika rombongan lelaki itu meluncur menuju Rejosari, tempat diselenggarakan Prasrawung bertajuk “Banyuning Srawung”. Perjalanan jalur pantura selalu masih penuh derita oleh macer, jalan yang penuh lobang, dan pembangunan yang tak kunjung usai. Setiap kali menempuh jalur itu, energi jasmani dan rohani harus ditata ekstra demi kesabaran yang harus direnda sepanjang perjalanan. Itu biasa!

Romo Ipenk MSF bergerak bagus. Ia menggemakan banyuning srawung terjadi secara unik di Balai Budaya Rejosari, Kudus. Ratusan anak-anak, remaja, orang muda, kaum dewasa dan tokoh lintas agama terlibat penuh semangat dalam upacara, prosesi dan perayaan keberagaman dalam tajuk Banyuwing Srawung itu 

“Bagaimana prosesnya? Manakah pokok kearifan lokal falsafah Jawanya?” Tanya lelaki itu pada dirinya sendiri lalu mulai menggoreskan refleksinya.

Lelaki itu memotret dengan daya ingatannya, betapa masyarakat setempat tampak penuh semangat menyambut prosesi ngangsu banyu ke Sendang Rejosari yang dilakukan oleh ratusan peserta Banyuning Srawung, tepatnya pada hari Sabtu, 18/8/2018. Seperti sudah disebut pada awal bagian ini, Agustus itu heroik dalam semangat kebangsaan. Maka, lelaki itu bersyukur menyaksikan Prosesi Budaya yang dilaksanakan dalam ritual kebangsaan yakni dengan menyanyikan Indonesia Raya, Pembacaan Teks Proklamasi, Pembacaan Pancasila, dan Pembukaan UUD 1945. 

Alangkah bahagianya saat lelaki itu memotret satu hal yang unik, yakni bahwa prosesi itu juga dibuka dengan warna lintas agama dari Islam, Hindu, Buddha, Bahai dan Katolik. Peserta prosesi pun ditata dalam pelangi indah melalui urutan-urutan prosesi yang diawali dengan komunitas teater, pantomim, angklung, dan komunitas-komunitas lintas agama yang mengular di belakangnya menjadi barisan panjang warna-warni. 

“Hebat ya! Mereka tak ragu berarak di bawah terik matahari yang menyengat dan berjalan sekitar 1,5 km dari Balai Budaya Rejosari menuju Sendang untuk mengambil air (ngangsu banyu srawung) dan kembali lagi ke Balai Budaya Rejosari.” Kata lelaki itu kepada Romo Ipenk yang berjalan di sampingnya.

“Dan lihatlah! Masyarakat pun menyambut dengan penuh antusias. Proses ngangsu banyu juga disemarakkan oleh tarian teatrikal oleh para calon imam MSF dari Salatiga. Suasana ngangsu banyu pun tampak khusyuk dan syahdu. Mereka sedemikian menghayati prosesi itu!” Sahut Romo Ipenk, sesama gondrong meski rambut Romo Ipenk lebih indah dibandingkan rambut lelaki itu.

Lelaki itu mengikuti semuanya adegan demi adegan dengan takjub dan bahagia seraya memuji kecerdasan kreatif Romo Ipenk dalam melibatkan semua unsur dalam Prarsrawung itu. Tiada lelah melangkah meski terkadang terengah, lelaki itu tetap bungah dan gagah tanpa sedikit pun goyah!

Ia terus melangkah bersama semua yang menari indah. Sesampai di Balai Budaya Rejosari lagi, mulailah diselenggarakan ritual menuang air ke dalam genthong dan mencuci tangan para pemuda lintas agama oleh tokoh-tokoh lintas agama. Ritual itu diawali dengan orasi budaya tentang makna air oleh Romo Ipenk MSF.

“Air itu lentur dan menyegarkan. Siapa saja membutuhkan air untuk kesegaran jiwa dan raganya!” Seru Romo yang mengelola Balai Budaya Rejosari itu. Lalu ia menerangkan banyak makna air dalam kehidupan. 

Lalu giliran lelaki itu juga diminta berbicara. Apa katanya? “Saudari-saudara, inilah makna air dalam kehidupan. Air memiliki makna dalam kehidupan manusia maupun agama-agama dan budaya. Semua memberi tempat penting bagi keberadaan air.”

Lelaki itu juga menerangkan pentingnya laku hambeging tirta. Yakni, berperilaku laksana air dengan segala simbolisme positif yang melekat padanya.

Puncak ritual ini ditutup dengan srawung banyu banyuning srawung. Dengan cara sederhana penuh canda, semua hadirin dipersilahkan mengambil air dalam plastik yang sudah disediakan dan kemudian mereka saling melempar air satu sama lain. Syaratnya hanya satu, tidak boleh marah dan tidak boleh tersinggung. Begitulah banyuning srawung terjadi dan ditempatkan pula dalam rangka prasrawung yang puncaknya akan dilaksanakan di Balai Budaya Rejosari (bersambung)

JoharT Wurlirang, 7/2/2019

BERKAH DALEM

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/536117119500756?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.