Inspiration

Bagaimana Selanjutnya? Inilah Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (37)

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Beginilah kelanjutan kisah lelaki pemburu peradaban kasih itu. Masih dalam suasana Kenangan Syukur Kemerdekaan Republik Indonesia di bulan Agustus 2018, kala itu.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Semangatnya turut terbakar oleh api kepahlawanan para pejuang perebut Kemerdekaan. Sementara acara di Balai Budaya Rejosari masih berlangsung, lelaki pemburu peradaban kasih itu memutuskan untuk segera meluncur pulang ke Semarang sebab di Taman Nada Brumbungan Semarang diselenggarakan Music for Diversity, Ragam Nada Lintas Agama. Acara ini diselenggarakan oleh para Sahabat lelaki itu yang tergabung dalam Pelita. Sebagaimana sudah dikenal dan diuraikan sebelumnya, Pelita singkatan dari Persaudaraan Lintas Agama.

Tampak wajah Pendeta Muda Berpeci Setyawan Budy yang adalah koordinator Pelita berwajah ceria menyambut lelaki pemburu peradaban kasih itu dengan pelukan dan cipika-cipiki persaudaraan. “Selamat untuk penyelenggaraan peristiwa ini, Mas!” Kata lelaki itu kepada Sahabatnya itu. Ia termasuk pemuda langka yang hatinya selalu membara untuk bangsa dan manusia. Oa berjerih payah untuk terus menjaga nyala Pelita di tengah kegelapan yang kadang menerpa kehidupan bersama. Tak peduli terluka, luka itu dibawa lari sambil menari demi keutuhan Negeri ini.

Spiritnya dan spirit lelaki pemburu peradaban kasih itu laksana falsafah Jawa “tumbu oleh tutup” alias nyambung dalam keselarasan dalam spirit talenta pro patria et humanitate yang diwariskan sosok Uskup Agung Semarang yang juga Pahlawan Nasional, yakni Mgr. Albertus Soegijapranata SJ. Ya, talenta pro patria et humanitate yamg oleh satu-satunya Universitas Katolik di Jawa Tengah yang menggunakan nama Soegijapranata sebagai patron dan nama dijadikan semboyan sivitas akademikanya.

Sang Pahlawan Kemerdekaan itu pernah bilang, “Jangan kau sembunyikan bakat dan kemampuanmu. Galilah dan kembangkan bakat dan kemampuanmu itu untuk bangsa dan umat manusia!” Dari situlah lantas muncul sari pati inspirasi dan motivasi: talenta pro patria et humanitate!

Kemanusiaan itu satu! Maka bakat dan talenta yang diekspresikan melaluo seni, nada dan suara budaya dalam ajang Music for Diversity, Ragam Nada Lintas Agama menjadi salah satu penghayataan satunya kemanusiaan dalam keberagaman yang rukun dan harmonis. Sikap guyub rukun. Hidup rukun itu membahagiakan. Kerukunan tal hanya dalam kaitannya dengan umat beragama tetapi juga umat manusia dan berbagai budaya dan seni.

“Ini sungguh indah!” Kata lelaki itu dalam orasi penutup rangkaian acara di Taman Brumbungan itu. Lalu, dalam rasa haru ia melanjutkan, “Indahnya adalah bahwa seni, musik, sastra dan budaya merupakan sarana dan khasanah yang paling mengasyikkan untuk membangun kerukunan dalam keberagaman agama dan budaya. Dengan demikian, seni dan budaya juga menjafi khasanah indah untuk menjaga dan merawat NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).”

Lebih lanjut, lelaki itu bilang, “Justru karena itulah maka, meski harus berbagi energi antara yang di Kudus dan di Brumbungan, saya memberikan diri untuk hadir di kedua peristiwa srawung budaya ini. Apalagi, Pelita juga menjadi bagian dari kepanitiaan dalam peristiwa Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda Lintas Agama se-Keuskupan Agung Semarang. Karenanya, di tempat ini, di Taman Brumbungan ini, saya pun menyertai para Sahabat semua sampai akhir.”

Lelaki pemburu peradaban kasih itu sungguh terharu dan bersyukur menyaksikan sembilan belas komunitas yang mengisi acara dan peristiwa music for diversity itu. Selain komunitas lintas agama, terlibat pula komunitas lintas budaya, misalnya musik etnik Kalimantan, Maumere, Batak, dan Jawa serta Bali. Yang sungguh paling mengesankan adalah bahwa tak mau ketinggalan, komunitas difabel Indonesia juga turut ambil bagian dalam acara ini. Juga, komunitas seni Sapta Dharma dari Kabupaten Semarang.

Mata lelaki pemburu peradaban kasih itu berkaca-kaca saat mengenang dan menghadirkan kembali lembaran kidung peradaban kasih pada memori peralihan tahun 2018 menuju 2019. Bilik kamarnya menjadi saksi bisu dibisingkan oleh deru suara kembang api di luat sana, saksi atas bait kidung peradaban kasih yang tergoreskan dalam jiwa terdalamnya dan tak ingin sedetik pun melupakannya.

Keindahan itu, ya keindahan itu adalah bunga-bunga peradaban yang tak akan layu sekalipun dalam keabadian…. (bersambung)

JoharT Wurlirang, 20/2/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1494672162753668?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.