Inspiration

Ditegur Keras Enyahlah Iblis, Mengapa? Inilah Jawabannya Yang Juga Bisa Menimpa Kita!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Ditegur keras dengan kalimat, “Enyahlah Iblis, mengapa?” Inilah jawabannya yang juga bisa menimpa kita, apa pun agama dan kepercayaan kita. Lalu mengapa dan harus bagaimana?

Referensi pihak ketiga

Mengapa dan bagaimana? Inilah jawabannya yang dapat ditemukan dalam kisah sebagaimana diwartakan dalam Bacaan Liturgi 21 Februari 2019 Hari Biasa, Pekan Biasa VI yakni dalam Bacaan Injil Markus 8:27-33. Berikut kisah selengkapnya.

Kemudian Yesus beserta murid-muridNya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-muridNya, kataNya: “Kata orang, siapakah Aku ini?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi.” Ia bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Petrus: “Engkau adalah Mesias!” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapapun tentang Dia. Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakanNya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-muridNya Ia memarahi Petrus, kataNya: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Markus 8:27-33)

Inspirasi dan motivasi rohani apa yang bisa dicerna? Ada dua hal pokok. Mari kita renungkan.

Pertama, kadang kita hanya memikirkan kepentingan diri ego sendiri. Akibatnya, kita kehilangan orientasi tentang kebenaran sejati yang diwahyukan Tuhan kepada kita bahwa tak boleh mencari kepentingan diri sendiri selain memikirkan dan melaksanakan kehendak-Nya semata.

Kedua, alih-alih hanya memikirkan kepentingan diri sendiri yang jauh dari kehendak Tuhan, kita dipanggil untuk bersama Dia menanggung segala derita pengorbanan atas nama cinta. Itulah makna ke-Mesias-an Yesus sebagai Hamba dari segala hamba yang harus menanggung derita demi cinta pada manusia.

Nah, bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 21/2/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan Markus 8:27-33

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3084796216963524?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.