Inspiration

Inspirasi dan Motivasi Berdoa, Yang Satu Tidak Dibenarkan, Yang Lain Dibenarkan, Mengapa?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah inspirasi dua orang yang berdoa. Yang satu tidak dibernarkan. Yang lain dibenarkan. Mengapa? Ijilah jawabannya. Semoga memberi inspirasi dan motivasi baik kepada kita.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Inspirasi dan motivasi selengkapnya ada dalam Bacaan Liturgi 30 Maret 2019 Hari Biasa Pekan Prapaskah III Bacaan Injil Lukas 18:9-14. Mari kita baca dan renungkan.

Sekali peristiwa, Yesus menyatakan perumpamaan ini kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain:” Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang satu adalah orang Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, aku bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah,dan bukan juga seperti pemungut cukai ini. Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.

Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata, Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.

Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah, sedang orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan. (Lukas 18:9-14.)

Orang Farisi pergi ke Bait Suci untuk berdoa. Namun nyatanya ia tidak sedang berdoa. Doa itu berbicara dengan Tuhan. Ketika dia berdiri di Bait Suci, ia pikir dia sedang berdoa: dia berada di tempat yang tepat, dia menghadap ke arah yang benar, dia tampaknya melakukan hal yang benar. Tetapi sebenarnya, itu sama sekali bukan doa. Itu hanyalah wacana yang membenarkan diri sendiri. Itu doa palsu.

Esensi doa adalah kerendahan hati. Itu yang dilakukan oleh si pemungut cukai. Doanya dibenarkan bukan karena ia telah melakukan semua hal yang benar, tetapi karena ia memiliki kerendahan hati untuk mengenali keberdosaannya. Dalam doanya, ia semakin memohon belas kasihan Tuhan. Salah satu ciri paling penting dari doa kita adalah rendah hati. Ketika kita pergi untuk berdoa, kita harus mendekati Tuhan untuk mengenali keberdosaan dan kelemahan kita dan fakta bahwa kita telah menerima segala hal baik yang kita miliki darinya. Inilah yang membuat doa kita berbuah. Tuhan mencintai hati yang rendah hati dan menyesal.

Nah, bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 30/3/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan Lukas 18:9-14.

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/822224728481382?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.