Inspiration

Inspirasi Kemurahan Hati Sebagai Jalan Menuju Kekudusan, Mengapa dan Bagaimanakah?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Kembali saya menerima berkat kebersamaan dengan para pertapa di Pertapaan St. Maria Rawaseneng, Temanggung. Di sanalah saya mengalami inspirasi kemurahan hati sebagai jalan menuju kekudusan. Mengapa dan bagaimana?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sabtu malam (6/4/2019), saya tiba di pertapaan sesudah menempuh perjalanan dari Semarang, Wonosobo dan Rawaseneng. Ya, dari Semarang rombongan kami meluncur langsung menuju Wonosobo. Kami ke Taman Rohani Angro di Wonosobo. Di situ kami berjumpa dengan Romo Sungkono MSC. Kami juga disambut oleh Pak Giyat, Mbah Tito dan rekan-rekan tokoh masyarakat setempat yang beragama Islam. Kami ngobrol dan berbagi pengalaman tentang kerukunan dan perdamaian dalam keberagaman.

Sesudah dari Taro Angro Wonosobo, kami meluncur ke Pertapaan Rawaseneng. Kami langsung beristirahat. Hari sudah larut malam. Para pertapa juga sudah beristirahat.

Pukul 03.15 lonceng pertapaan berdentang membangunkan kami semua. Pukul 03.30 WIB, kami mempersembahkan Ibadat Bacaan hingga pukul 04.45 WIB. Kami daraskan doa-doa dan ibadah dengan indah dan penuh berkah. Ibadah pertama berlanjut dengan meditasi pribadi. Sesudah meditasi pribadi, lanjutlah dengan ibadat pagi sebagai ibadat kedua, pukul 06.00 WIB.

Usai ibadat pagi, Romo Abas Gonzaga OCSO menjemputku yang masih berdoa pribadi di kapel pertapaan. Tugas menanti. Seperti biasa, saya mendapat ruang, waktu dan kesempatan untuk berbagi pengalaman tentang kehidupan di “dunia” di luar pertapaan. Sharing berlangsung sekitar satu jam, dilanjutkan dengan tanya jawab dan ditutup dengan pendarasan mazmur sebagai ibadat ketiga yang langsung dipimpin oleh Romo Abas Gonzaga.

Sesudah sesi ini, kami menikmati sarapan. Sesudahnya pula, saya membuat persiapan pribadi untuk perayaan Ekaristi Novena V di Taman Doa Pertapaan St. Maria Rawaseneng. Romo Abas, Romo Yulius OCSO, Romo Wiryono SJ, Romo Deddy OFMCap dan Romo Edy bertindak sebagai konselebran. Saya mendapat mandat sebagai selebran utama.

Pada kesempatan homili, saya berbagi pengalaman iman sesuai bacaan Injil dan tema, yakni, kemurahan hati sebagai jalan menuju kekudusan. Kemurahan hati sebagai jalan kekudusan tak hanya soal memberi materi melainkan terutama sikap ikhlas tidak menghakimi dan kerelaan mengampuni. Itulah yang kusebut kemurahan hati melalui kerahiman. Sumbernya adalah kerahiman Allah sendiri yang mewajah dalam diri Yesus yang menyatakan kerahiman terhadap perempuan yang tertangkap basah berbuat zinah.

Itulah antara lain yang kubagikan sebagai bahan permenungan. Lebih dari segalanya, saya sendiri mengalami kemurahan Tuhan melalui pengalaman rohani menikmati keheningan dan doa bersama para pertapa. Sungguh alangkah indahnya!

Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga sharing sederhana ini bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Pertapaan Rawaseneng, 7/4/2019

BERKAH DALEM

Sumber: refleksi pengalaman pribadi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1548321313050014?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.