Inspiration

Jika Surga Belum Pasti Untuk Saya, Buat Apa Saya Mengurusi Nerakamu, Apa Inspirasinya?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah inspirasi dan motivasi yang saya timba saat saya menikmati Ave Maryam. Ada pro dan kontra. Saya mendapat inspirasi dan motivasi pro positif. Bagaimana bisa? Inilah jawabannya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Saya mendapat pesan via WA. Pesannya mengejutkan dan bikin saya jadi penasaran. Pesan WA tanpa menyebut nama siapa pembuat pesan itu, tapi menyebut namaku di dalamnya, membuat saya penasaran. Apakah ada yang salah dalam film yang ide awalnya memang pernah didiskusikan dengan saya dan saya turut berperan sebagai pengganti pemeran utama ketika yang bersangkutan sakit? Yang bikin penasaran adalah judul pesan WA tersebut: Film Ave Maryam NOT Recomended. Benarkah? Jawabanku, tidak benar! Inilah penjelasan saya. Semoga memberi inspirasi dan motivasi untuk berpikir dan bersikap dewasa dalam iman, harapan dan kasih kepada Tuhan dan sesama.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan cinta kepada “seseorang yang tanpa nama” yang menyatakan bahwa Film Ave Maryam NOT recomended; saya justru berpikir sebaliknya. Film Ave Maryam IS VERY Recomended. Jujur aku bilang, film ini bagus untuk yang terkasih para Suster, Frater, Bruder dan Romo bila bisa nonton bareng sebagai sarana refleksi dan.berkaca diri. Bahkan, film ini bisa untuk edukasi dan refleksi tentang penghayatan kemurnian bagi para selibater (romo, suster, frater n bruder) yang kadang bagi orang tertentu menjadi perjuangan dan harus dihadapi dengan jujur dan rendah hati!

Maka, saya bersyukur boleh melihat film Ave Maryam. Minggu, 14/4/2019, sesudah mengantar Romo Dedi OFMCap yang akan mudik demi Pilpres dan Asistensi Paskah 2019 di kampung halamannya, ke Bandara Ahmad Yani Semarang. Saya sengaja nonton di salah satu XXI di Semarang.

Pelayanan dalam Kerapuhan

Bagiku, seperti yang kusampaikan kepada Mas Ertanto Robby Soediskam, Sang Sutradara hebat yang notabene tidak beragama Katolik (sejauh saya tahu) saat tiga tahun lalu beliau, film itu dimaksudkan untuk menyadarkan kami bahwa para biarawati, biarawan dan rohaniwan itu bukan orang hebat, bukan malaikat. Kami dipanggil bukan karena kesucian kami melainkan karena kerapuhan kami. Itulah pelayanan dalam kerapuhan yang harus dijaga seumur hidup dalam kerendahan hati laksana harta dalam bejana tanah liat yang mudah pecah! Namun kalaupun bejana itu pecah, percayalah bahwa kerahiman Tuhan akan mampu membentuk kembali bejana itu asal yang bersangkutan bersikap rendah hati, mengandalkan kekuatan Tuhan melalui sesal dan tobat.

Nah atas dasar gagasan itu, Ave Maryamhadir di tengah kita. Filmnya berkisah entang Suster Maryam (40 th, diperankan okeh Maudy Koesnaedi), seorang biarawati yang bertugas mengurusi para suster-suster sepuh di suatu rumah tua biara. Suatu malam Romo Martin (45 th, diperankan Joko Anwar) memperkenalkan Suster Monic (oleh Tutie Kirana) sebagai penghuni baru di biara itu. Suster Monic ditemani oleh Romo Yosef (30th, diperankan oleh Chicco Jerikho) yang adalah anak asuh Sr. Monic sejak ia masih kecil hingga menjadi Romo. Ia bahkan tak pernah berjumpa kedua orangtuanya. 

Awalnya biasa saja. Suster Mila (40 th, diperankan Olga Lydia) sebagai penanggung jawab biara itu menyambut Romo Yosef dengan gembira. Sebagaimana disampaikan Romo Martin yang berkarya Paroki tempat biara itu berada, Romo Yosef yang pandai dalam hal musik itu akan melatih pula umatnya untuk bermain orksestra. 

Selanjutnya, perjumpaan antara Romo Yosef dan Suster Maryam itu berlanjut hingga mereka saling jatuh cinta. Suster Monic sebagai suster yang sudah berpengalaman mencoba menasehati Romo Yosef. Namun hasrat terus tumbuh, hingga keduanya menjalin hubungan yang salah. Pada hari ulang tahun Sr. Maryam, Romo Yosef pergi ke pantai berdua. 

Entah apa yang terjadi, tak ada adegan detil dalam film, dan ini hebatnya Sutradara yang membiarkan penonton berimajinasi sendiri sesuai dengan kreativitas personalnya, yang jelas, peristiwa itu membuat Sr. Maryam menyesal, gelisah dan bergumul dengan panggilannya. Demikian pula dengan Romo Yosef.

Keduanya dihadapkan pada dua pilihan antara panggilan Tuhan dan cinta di antara mereka. Begitulah film yang juga dibintangi Nathania (sebagai Dinda), Febby (sebagai Rebeca) itu dibiarkan terbuka dalam rahmat, bahkan ditutup dengan rasa sesal dan upaya pertobatan.

Sesuai Ajaran Gereja Katolik 

Tentu bahwa ada Romo dan Suster pergi kencan berdua untuk urusan pribadi ke pantai apalagi secara diam-diam, itu tidak benar. Apakah Suster dan Romo saling jatuh cinta itu salah? Bisa salah bisa tidak tergantung tindakan lanjutannya. Siapa yang berhak menghakimi? Lemparkan saja batu pertama kali kepada mereka, bila ada yang merasa tak berdosa! Tapi ini juga bukan alasan untuk pembenaran. Kuncinya adalah kejujuran dan kerendahan hati untuk mengolahnya secara benar dan bertanggungjawab.

Nah, menurutku, film ini masih sesuai dengan ajaran Gereja Katolik Roma pada adegan sesal dan tobat. Saat Sr Maryam menyesal dan ingin bertobat, ia hendak menerima pengakuan dosa. Di sinilah tampak jelas dosa yang diakui dan dikatakan Sr. Maryam bahwa ia merasa berdosa oleh sebab telah jatuh cinta kepada seorang imam (romo). Tak kurang dan tak lebih. Ternyata, Romo yang ada di dalam ruang pengakuan adalah Romo Yosef sendiri. Tampak Romo Yosef bergumul dalam sesal pula. 

Dalam ajaran Gereja Katolik Roma, seorang Romo tidak boleh menyalurkan absolusi atau berkat pengampunan kepada “pasangan berdosanya”. Kalau itu terjadi, itu sudah merupakan dosa sacrilegi yang hanya bisa diabsolusi oleh Vatikan atau yang ditunjuk oleh Paus untuk reservasi pelayanan itu. Nah, Ave Maryam memang tidak menampilkan adegan absolusi itu. Maka, dalam kasus ini, tak ada ajaran sesat tersusup di dalamnya. Film tetap on the track dengan ajaran Gereja Katolik dalam hal Sakramen Tobat. 

Bahwa Sr. Maryam menyerukan doa tobat dan Rm Yosef tidak memberikan absolusi resmi, itu sudah benar. Tentu, Sr. Maryam harus mencari Romo lain bila ingin menuntaskan sesal, tobat dan pengampunan dari Tuhan. Demikian juga dengan Romo Yosef.

Percakapan Indah

Menarik mencermati detil percakapan-percakapan indah dan mendalam di dalamnya. Inilah beberapa kutipan yang sempat saya catat saat menikmati Ave Maryam sebagai cermin berkaca diri dalam refleksi.

“Saya ingin mengajak kamu keluar mencari hujan di tengah kemarau,” bujuk Romo Yosef kepada Suster Maryam. Ekspresi sikap desolasi kekeringan rohani.

“Jika surga belum pasti untuk saya, buat apa saya mengurusi nerakamu,” kata Sr. Monic kepada Sr. Maryam. Maknanya: aku tak menghakimi kamu! Namun ajaran Gereja jelas, surga itu sudah kepastian oleh Penebusan Tuhan. Syaratnya: rendah hati, sesal-tobat serta percayalah!

“Kenapa kita harus takut mempertanyakan dosa-dosa, Jika Tuhan hanya bisa ditemukan melalui pertanyaan?” Ungkapan kegalauan Romo Yosef.

Lalu dalam sharing komunitas muncul ungkapan ini, “Orang yang mencampuri takdir orang lain, tidak akan dapat menemukan takdirnya sendiri,” atau “Biarlah ibadahmu menjadi rahasiamu, sebagaimana kamu merahasiakan dosa-dosamu (selain di hadapan imam dan Tuhan dalam Sakramen Tobat tentunya). Ada pula kalimat indah lain yang terucap oleh seorang Suster, “Tuhan tidak pernah salah. Manusia yang sering membuat salah dalam prosesnya.” 

Itulah cara pandang bening saya menyaksikan Ave Maryam. Ada banyak detil yang bagus dalam rangka pelayanan, khususnya pelayanan Sr. Maryam kepada Sr. Monic. Ada yang patut dicontoh. Ada pula kelalaian. Tentu kelalaian dan bahkan kesalahan janganlah ditiru, gitu loh.

Selebihnya, kuucapkan terima kasih kepada semua yang terlibat dalam proses kreatif pembuatan film ini. Sejauh saya tahu, dari semua yang terlibat, yang beragama Katolik hanya Olga Lydia dan saya. Selebihnya adalah pribadi-pribadi hebat yang profesional tanpa diskriminasi bermain total, bahkan ketika mereka semua tidak beragama Katolik. Ini satu nilai plus yang saya apresiasi dan memberi inspirasi serta motivasi tentang profesionalitas dan kerukunan.

Demikian catatan reflektif saya atas Ave Maryam. Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Mohon maaf bila tak berkenan. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 14/4/2019 

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pribadi sesudah nonton Ave Maryam dan obrolan dengan Mas Ertanto Robby Soediskam, Sutradara.

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3428982629482842?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.