Inspiration

Perhatian Pria Ini Begitu Besar, Semua Demi Keselamatan, Katanya dan Itu Benar!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Dalam perjalanan menuju Kawah dan Puncak Ijen, saya memgalami perhatian yang besar dari Mas Abdi, local guide kami di kawasan Gunung Ijen.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Perhatian itu sudah diberikan sejak awal saat kami masih di terminal pertama sesudah turun dari kendaraan. Mas Abdi memperkenalkan dirinya. Tugasnya menjadi penuntun paling depan alias ujung tombak. Mas Wildam membawa sarana-prasarana mantol hujan bila dibutuhkan. Mas Yayan mengawal paling belakang sebagai “penyapu” bila ada yang tetinggal.

Sebelum naik ke puncak, kami dipersilahkan menyelesaikan urusan toilet. Saya memanfaatkannya dengan tuntas hingga menjadi orang terakhir yang keluar dari kamar mandi. Mas Abdi memberikan perhatian dengan membayar jasa toilet, 2000 rupiah. Saya amat berterima kasih, walau sebenarnya sudah mempersiapkan untuk itu. Perhatian dan kebaikan pria ini, Mas Abdi, saya catat.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Setiba dalam kelompok, karena saya yang paling akhir, maka saya “didenda” untuk memimpin doa. Doa saya persembahkan kepada Tuhan. Intinya syukur dan mohon keselamatan agar proses pendakian menuju Kawah dan Puncak Ijen berjalan lancar, aman dan damai tiada satu aral hambatan. Mohon berkat pula bagi semua peserta dan penuntun lokal. Kami mulai melangkah sejengkal demi sejengkal.

Mas Abdi selalu berada di sisi saya, entah mengapa. Baru kemudian kutahu jawabannya. Ternyata, pria ini amat mencemaskan saya oleh sebab sepatu yang saya kenakan, menurutnya tak cocok untuk naik gunung. Memang, saya satu-satunya yang mengenakan sepatu kulit pantofel setinggi persis di bawah lutut. Ketika kujelaskan bahwa sepatu ini sudah kupakai mendaki Bukit Kri┼żevac di Bosnia yang penuh karang, Mas Abdi merasa lega. Tapi itu sudah terjadi sekian tahun lampau saat usiaku belum berkepala lima seperti sekarang.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Pendakian aman hingga terminal kedua, tempat istirahat sejenak untuk toilet stop dan sekadar ngopi. Mau menikmati mie instan atau telur rebus juga tersedia, di warung itu. Saya ngopi dan urusan toilet saja. Beres. Sesudah itu, baru kusadari bahwa ternyata saya menjadi peserta paling akhir karena urusan toilet. Semua yang lain sudah mendaki menuju puncak. Mas Yayan “menyapu” saya dan memberikan bekal senter yang sebelumnya saya andalkan dari Mas Abdi dan kini bawa senter sendiri.

Saya melangkah sambil terus mendaraskan Rosario Suci berselang-seling dengan Koronka sesuai irama nafas yang mulai tersengal. Syukurlah beberapa ruas jalan tak lagi menanjak melainkan datar untuk beberapa area. Minimal hal itu meringankan peserta.

Syukurlah, saya bisa mengejar rombongan. Kami bersatu lagi. Mas Abdi merasa lega pula. Kami berfoto bersama dalam kegelapan dini hari, lantas melanjutkan perjalanan. Di sinilah, Mas Abdi lalu mengajak beberapa di antara kami untuk naik ke tempat lebih tinggi agar bisa menikmati matahari terbit. Diputuskan, sunriese menjadi prioritas dari pada blue-fire.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sepanjang jalan menuju puncak, Mas Abdi terus memantau diriku oleh sebab saya berjalan terlalu kiri dan ke arah tebing-tebing yang curam. Bahkan ketika saya duduk menikmati tebing curam, Mas Abdi mendesak agar saya tidak duduk di tempat itu. Demikian pula ketika hendak menikmati sunrise dan bepose foto. Hahaha, itulah perhatian yang istimewa yang kurasakan dari sejak naik hingga kembali turun.

Saat turun, kuputuskan untuk naik “taksi” ala Kawah Ijen. Mas Abdi mencarikan penjaja “taksi” dorong dengan syarat, harus menumpang taksi yang belum laku. Begitulah, saya dihubungkan dengan Usman. Sepanjang naik taksi itu, dari terminal dua menuju terminal satu, Mas Abdi terus menyertai bahkan meski harus dengan setengah berlari. Beliau bahkan sesekali berlari mendahului dengan maksud agar bisa memotret atau memvideo saya yang naik taksi ala Kawah Ijen itu. Semua dilakukan dengan sukacita dan ceria.

Itulah sebabnya, sesampai di bawah, baik kepada Usman maupun Abdi, kuhadiahkan penghargaan yang menjadi hak mereka. Usman mendapatkannya, Abdi menerima bonusnya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Semua perhatian itu kuterim sebagai bentuk kasih demi keselamatan. Terima kasih Mas Abdi, Usman, Wildam dan Yayan. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 28/4/2019

BERKAH DALEM

Sumber: refleksi pengalaman pribadi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/601222870619458?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.