Inspiration

Bagaimana Kita Mensyukuri Kasih Tuhan dan Belajar Setia dalam Kemartiran?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Kepada Petrus, Yesus menubuatkan kemartirannya di masa depan. Ia berjalan bersama Yesus di sepanjang pantai tempat Yesus baru saja menubuatkan kemartirannya itu. Saat itu juga Petrus bertanya kepada Yesus tentang Yohanes, yang mengikuti mereka. 

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sepanjang Injilnya, Yohanes menunjuk dirinya sebagai murid yang dikasihi Yesus. Seolah-olah titik paling mencolok dari kehidupan dan pengalaman Yohanes dengan Kristus adalah bahwa Yesus mengasihinya. Itulah yang menjadi identitasnya. Yohanes adalah murid terkasih-Nya. 

Pengalaman Petrus dan Yohanes menunjukkan kepada kita suatu kesempatan untuk mengalami diri kita sebagai orang-orang yang dikasihi Tuhan. Maka pertanyaannya sederhana saja. Seberapa sering kita merenungkan kasih Kristus untuk saya? Seberapa sering kita menghargainya? Bagaimana kita bersyukur atas kasih itu dan sekaligus bersiap diri mengalami – dalam arti tertentu – kemartiran yang harus kita tanggung karena mengalami kasih-Nya dan mengasihi-Nya?

Kemartiran tak harus diukur dengan darah yang tertumpah. Kemartiran hadir dalam kesetiaan bersaksi tentang kebenaran dalam sikap menghargai keberagaman sebab Allah menghendaki agar semua orang diselamatkan (Rom 2:6-7; 1Tim 2:4).

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Otw Surabaya to Semarang, 8/6/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: Bacaan Liturgi 08 Juni 2019 Hari Biasa Pekan Paskah VII Bacaan Injil Yohanes 21:20-25

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3797848089605293?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=browser_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.