Inspiration

Ritual Lamporan Mengusir Perusak Alam Semesta!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Pada Hari Minggu, 9 Juni 2019, saya mendapat berkah boleh bergabung bersama para pejuang kelestarian lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan di Gunem, Tegaldowo, Rembang.

Orisinil

Rangkaian ritual budaya mereka panjang dan dalam berbagai bentuk. Saya hanya mengikuti sesi sore, spontanitas oratif bersama Gus Ubaid dari Pamotan. Lalu nyambung dengan prosesi lamporan.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Inilah yang disampaikan kawan-kawan JMPPK yakni Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng. Penjelasan tentang lamporan ini perlu disimak baik-baik agar menjadi perhatian kita bersama, terutama para penguasa dan pengusaha yang hendak merusak alam atas nama produksi dan kapitalisme dengan mengabaikan krisis ekologis akut yang menimpa Bumi ini.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

“Lamporan”, suatu prosesi turun temurun dari leluhur kami dalam upaya mengusir hama pertanian. Hama pertanian tidak hanya wereng, tikus dll, tetapi hama pertanian yang utama disaat ini adalah kebijakkan yang tidak berpihak kepada petani dan dunia pertanian. Pengalihan fungsi lahan-lahan subur untuk industri dan pertambangan, gunung dengan hutan yang mengandung keanegaragaman hayati dihancurkan bahkan fungsinya telah beralih menjadi daerah industri perkebunan monokultur bahkan industri pertambangan. Gunung dengan hutan yang awalnya menjadi penyerap air, menjaga sumber-sumber mata air tetap berlimpah yang menjadi sumber utama keberlangsungan dunia pertanian serta penyedia udara bersih bagi seluruh makhluk hidup menjadi hilang. Itulah hama utama petani dan dunia pertanian masa kini yang harus kita perangi bersama. Obor yang diarak keliling berputar sebagai lambang semangat yang terus menyala bagi upaya-upaya penyelamatan Peg. Kendeng. JM-PPK sudah berupaya untuk sekuat tenaga “mengusir” hama tersebut.

Salah satu buah perjuangan kami adalah diadakannya KLHS atas Peg. Kendeng yang meliputi 7 kabupaten (Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Rembang, Blora, Grobogan dan Pati) yang merupakan perintah resmi dari Presiden RI. Tetapi hingga hari ini pemerintah abai terhadap hasil KLHS. Gugatan melalui pengadilan yang juga dimenangkan warga dengan keputusan MA untuk mencabut izin PT. Semen Indonesia di Rembang-pun juga diabaikan oleh pemerintah dengan berbagai dalih-dalih hukum yang “dikondisikan”. Keadilan memang belum berpihak kepada kami petani Kendeng. Tetapi kami tidak pernah putus asa untuk terus berjuang dan melawan kesewenang-wenangan ini.

Saya berkesempatan mengawali prosesi lamporan ini dengan menyanyikan tembang Dandanggula. Inilah tembang itu yang juga dipersiapkan oleh JMPPK. Indah dan mendalam maknanya.

Dhandhanggula: 

Sarwa putih sampun mratandhani

Ati resik uga resik jiwa

Nggih saking pasa dayane

Kang mangke pamprihipun

Ati wening ingkang nuntuni

Tindak tanduk sepecak

Tansah saget emut

Bener kang dadi landhesan

Engga dosa tansah bisa den endhani

Dalan tumuju suwarga

(Makna tembang : Pakaian serba Putih menjadi tanda bersihnya hati dan jiwa karena energi dari melaksanakan ibadah puasa. Tujuannya untuk mendapatkan tuntunan dari hati yang jernih. Segala tindakan selalu mengingatkan,bahwa kebenaran menjadi landasannya. Sehingga bisa terhindar dari dosa, yang merupakan jalan menuju surga.)

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 10/6/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan Press Release JMPPK dan ikut serta pembukaan ritual Lamporan (9/6/2019).

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1920801149573894?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=browser_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.