Inspiration

Praksis Peradaban Kasih Ekologis, Buah Pertobatan Ekologis, Membuat Zaman dan Sejarah Baru

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Berikut adalah kelanjutan refleksi terhadap Laudato Si (LS) dalam rangka membangun paradigma baru praksis peradaban kasih ekologis sebagai buah pertobatan ekologis. Acuan refleksi ini adalah LS 207. Mari kita baca kutipannya selengkapnya.

Referensi pihak ketiga

Piagam Bumi telah mengundang kita semua meninggalkan masa penghancuran diri dan memulai suatu masa baru, tetapi kita belum mengembangkan kesadaran universal yang memungkinkannya. Itulah sebabnya saya berani untuk sekali lagi mengajukan tantangan yang berharga ini: “Seperti belum pernah dalam sejarah, nasib kita bersama mengundang kita untuk mencari sebuah awal baru … Mari kita membuat zaman kita diingat dalam sejarah karena bangkitnya penghormatan baru terhadap hidup, karena tekad kuat untuk mencapai keberlanjutan, karena peningkatan perjuangan demi keadilan dan perdamaian dan karena perayaan kehidupan yang penuh sukacita”. (LS 207)

Yang menarik dari kutipan itu adalah bahwa Paus Fransiskus mengutip dan menegaskan kembali seruan yang disampaikan dalam Earth Charter (Piagam Bumi), Den Haag (29 Juni 2000). Apa seruan yang ditegaskan kembali Paus Fransikus? Mari kita baca bersama dengan cara pandang peradaban kasih ekologis: “Seperti belum pernah dalam sejarah, nasib kita bersama mengundang kita untuk mencari sebuah awal baru … Mari kita membuat zaman kita diingat dalam sejarah karena bangkitnya penghormatan baru terhadap hidup, karena tekad kuat untuk mencapai keberlanjutan, karena peningkatan perjuangan demi keadilan dan perdamaian dan karena perayaan kehidupan yang penuh sukacita.”

Kita diajak untuk membuat zaman baru, sejarah baru yang diingkat sepanjang masa karena berani bangkit untuk menghormati kehidupan ini secara berkelanjutan dengan berjuang demi keadilan dan perdamaian dan perayaan kehidupan yang ditandai oleh sukacita.

Itulah pula yang diserukan dalam Piagam Bumi, yakni bahwa kita semua diundang untuk meninggalkan masa penghancuran diri. Seiring dengan itu, kita diundang untuk memulai suatu masa baru yang lebih menghargai dan menghormati Bumi, rumah kita bersama. Sayangnya, kita belum mengembangkan kesadaran universal yang memungkinkan terwujudnya sikap tersebut.

Menurut hemat saya, itulah sebabnya, diperlukan pertobatan ekologis yang pada saatnya berbuah dalam praksis peradaban kasih ekologis yang diperjuangkan bersama-sama oleh seluruh umat manusia tanpa diskriminasi, apa pun agama dan kepercayaan kita, dengan segala latar suku, bahasa dan budaya kita! Inilah peluang untuk membangun paradigma baru tentang praksis peradaban kasih ekologis yang bercorak ekumenis-interreligius.

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 19/6/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: Laudato Si artikel 218

Sumber http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3860098324715725?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.