Inspiration

Cinta Tuhan Itu Inklusif, Tidak Eksklusif, Bagaimanakah Dimengerti dan Diikuti?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Cinta kasih Tuhan itu inklusif, tidak eksklusif. Bagaimanakah hal ini bisa kita mengerti dan ikuti?

Referensi pihak ketiga

Yesus bersabda, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiKu. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.” (Mateus 10:38-42)

Sumber kasih Tuhan terpancar dalam peristiwa salib Yesus. Siapa pun yang hendak mengikuti Dia harus pula memanggul salib yang sama. Memanggul salib dengan setia menjadi ciri layak tidaknya kita mengikuti Yesus. Hal yang sama dengan soal kehilangan nyawa demi Dia!

Memberikan secangkir air kepada salah seorang dari saudara-saudari kita yang paling kecil sangat berharga di mata Tuhan. Karena itu, pasti hal ini akan mendatangkan berkat tersendiri bagi kita, bahkan di saat kita tidak perlu mengharapkannya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Dengan cara ini, Yesus menunjukkan bahwa kita dipanggil untuk mencintai Allah melalui siapa saja yang ada di sekitar kita, dengan perbuatan sekecil apa pun, ibarat sekadar memberi secangkir air kepada sesama. Standar menempatkan Allah sebagai yang utama tidak mengesampingkan cinta untuk ibu atau ayah, saudara perempuan, atau saudara laki-laki.

Begitu kita mencintai Tuhan sebagaimana layaknya, kita akan belajar untuk mencintai orang lain sebagaimana mereka layak dapatkan. Faktanya, kita pantas menerima visi Tuhan yang tidak bisa kita lihat dengan mencintai sesama yang kita lihat.

Yang terpenting, cinta kasih Tuhan tidak pernah mengecualikan siapapun sebab cinta Tuhan itu selalu bersifat inklusif, untuk semua; tidak bersifat eksklusif. Maka, mari kita belajar melakukannya dalam kehidupan kita sehari-hari, melalui perbuatan sekecil apapun dalm cara pandang yang inklusif.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 15/7/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: Refleksi pribadi berdasarkan Bacaan Liturgi 15 Juli 2019 Hari Biasa, Pekan Biasa XV Mateus 10:3​8​-​42​

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3188791388645807?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=browser_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.