Inspiration

Tuhan Tak Pernah Menutup Pintu bagi Kita, Kitalah Yang Sering Menutup Pintu bagi Tuhan!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Tuhan tak pernah menutup pintu bagi kita, kitalah yang sering menutup pintu bagi Tuhan! Bagaimana dan mengapa?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Itulah salah satu yang bisa direnungkan dari Injil hari ini. Dalam bacaan Liturgi hari ini, Rabu, 17 Juli 2019, Yesus bersabda kepada para murid-Nya dan kepada kita juga. Inilah sabda-Nya.

Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu. Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. (Mateus 11:25-27)

Dalam tradisi Gereja Katolik, kebijaksanaan, pengetahuan, dan pengertian merupakan tiga dari tujuh karunia Roh Kudus. Menjadi bijak dan pandai oleh Roh Kudus adalah anugerah. 

Referensi pihak ketiga

Namun, ada sikap lain yang disebut dalam Injil oleh Yesus dalam doa-Nya. Yakni, orang yang merasa bijak dan pandai namun menutup pintu bagi hikmat Allah. Di sini Yesus berbicara tentang mereka yang dikuasai oleh kesombongan dan egoisme yang merasa bijak dan pandai dalam estimasi mereka dan untuk tujuan mereka sendiri. 

Bagi orang-orang seperti ini, misteri-misteri kasih Allah disembunyikan dari mereka. Mengapa? Justru karena mereka hanya memfokuskan hati dan pikiran mereka pada diri mereka sendiri sebagai kebaikan tertinggi, bukan Allah!

Referensi pihak ketiga

Dalam bukunya yang berjudul God and the World, 2002: 125, Kardinal Joseph Ratzinger yang selanjutnya terpilih sebagai Paus dengan nama Benediktus XVI menulis, “The greater a being is, the more it wants to determine its own life. It wants to be less and less dependent and, thus, more and more itself a kind of god, needing no one else at all. This is how the desire arises to become free of all need, what we call pride. (Semakin besar suatu makhluk, semakin ia ingin menentukan hidupnya sendiri. Ia ingin semakin lama semakin tidak bergantung dan, dengan demikian, dirinya semakin hidup semacam dewa, tidak membutuhkan orang lain sama sekali. Inilah cara keinginan muncul untuk menjadi bebas dari semua kebutuhan. Itulah yang kita sebut kesombongan.”

Nah, pada akhirnya, merekalah yang telah menutup pintu bagi Tuhan meski Tuhan tidak akan pernah menutup pintu bagi mereka. Hal yang sama berlaku bagi kita.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 17/7/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: Refleksi pribadi berdasarkan Bacaan Liturgi 17 Juli 2019 Hari Biasa, Pekan Biasa XV Mateus 11:25-27

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3042172090577949?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=browser_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.