Inspiration

Unta Mudah Masuk Lubang Jarum, Ibarat Naik Gunung Tak Perlu Bawa Beban Berat, Bagaimana?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Masih tentang perumpamaan yang dipergunakan oleh Yesus bahwa lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum daripada seorang kaya masuk surga, mari kita baca teks selengkapnya.

Referensi pihak ketiga

Yesus berkata kepada murid-muridNya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” (Mat 19:23-26)

Bagaimana kita bisa dengan mudah memahami perumpamaan ini? Kamu yang pernah mendaki gunung pasti bisa dengan mudah memahami perumpamaan Yesus itu bila dihubungkan dengan pengalaman mendaki gunung. Kebetulan, waktu saya masih muda – caileee sekarang sudah tua ye – saya bersyukur pernah mendaki Gunung Merapi (pertama kali mendaki langsung Gunung Merapi Bro and Sist, waktu saya mahasiswa tingkat satu), lalu Gunung Sindoro, Sumbing, Merbabu, Lawu dan Gunung Ungaran. Mengasyikkan!

Tapi harap diingat, saat kita mendaki gunung, jangan pernah membawa barang atau beban berat! Itu akan membuat langkahmu menjadi berat dan lambat pula!

Referensi pihak ketiga

Nah, secara sederhana, saya membayangkan perumpaan Yesus tentang seekor unta yang lebih mudah masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk surga kurang lebih seperti saat kita mendaki gunung. Sama seperti para pendaki gunung yang tidak menggunakan alat berat atau memikul ransel yang berat, dalam pendakian spiritual kita di gunung Kerajaan Surga, kita pun harus bebas dari segala beban yang memberarkan dan menjerat kita.

Mendaki gunung itu pun memiliki makna spiritual. Dalam tradisi Alkitabiah Injili, gunung merupakan tempat yang membuat kita mengalami hubungan intim mesra dengan Tuhan dalam keheningan, doa dan kontemplasi bersama semesta alam. Demikian pula dengan Kerajaan Surga. Ini bukan soal tempat melainkan relasi dengan Allah dalam kebahagiaan surga, yang juga sudah kita mulai saat kita masih hidup di dunia ini. Maka, mari kita lepaskan segala beban kita, sama seperti seekor unta juga tidak lekat dengan barang yang ditumpangkan di punggungnya. Unta pun akan kesulitan masuk melalui lubang jarum kalau barang-barang lain melekat di punggungnya.

Referensi pihak ketiga

Bagaimana menurut kamu? Semoga refleksi sederhana ini memberi inspirasi dan bermanfaat. Terima kasih berkenan membaca refleksi ini. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 20/8/2019 

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan Bacaan Liturgi 20 Agustus 2019 Hari Biasa, Pekan Biasa XX PW S. Bernardus, Abas dan Pujangga Gereja Bacaan Injil Mateus 19:23-30

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2446202206228999?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=browser_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.