Inspiration

Mendaki Gunung Doa Mengalami Transfigurasi Iman, Harapan dan Kasih

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Bacaan Injil hari ini sangat menarik ditempatkan dalam konteks Masa Prapaskah. Mari kita baca dulu, baru kemudian kita renungkan salah satu maknanya.

Referensi pihak ketiga

Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajahNya bercahaya seperti matahari dan pakaianNya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Mendengar itu tersungkurlah murid-muridNya dan mereka sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: “Berdirilah, jangan takut!” Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: “Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.” Lalu murid-muridNya bertanya kepadaNya: “Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus: “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. (Mat 17:1-13)

Referensi pihak ketiga

Mendaki “gunung yang tinggi” adalah kerja keras. Ketika mereka sampai di sana, para rasul tidak terlalu senang mendengar suara Bapa: “Mereka bersujud dan sangat takut.” Selain itu, dalam ayat kedua belas para murid menerima kabar buruk: “Demikian juga Anak Manusia akan menderita.” Prapaskah bisa menjadi perjalanan yang sulit menuju gunung kiasan. Kita dapat cenderung terjebak dalam diri kita sendiri dan salib kita sendiri, lupa bahwa Paskah akan datang. Kami menanggung penderitaan Prapaskah, tetapi selalu bersama Yesus, dan ia menghadiahi kami pada hari Minggu Paskah dengan rasa kemuliaan selestial, sedikit Paskah

Referensi pihak ketiga

Bagaimana menurutmu? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati. Salam peradaban kasih.

JoharT Wurlirang, 8/3/2020

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

SALAM PERADABAN KASIH EKOLOGIS!

Sumber: Mateus 17:1-13

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/812523457753327?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=browser_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.