Inspiration

Mengampuni Duluan Itu Penting, Baru Diampuni Kemudian Itu Barokahnya, Jangan Hanya Minta!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Kawan, sering kita hanya minta diampuni, tetapi tidak bisa mengampuni. Itu kebalik, Kawan! Mengampuni duluan itu penting. Baru sesudah kita bisa mengampuni, kita akan bisa diampuni. Itulah barokahnya, atau berkah atau berkat pengampunan. Maka, jangan hanya minta ampun saja, tanpa pernah mengampuni, itu mustahil bagi kita. Kalau kita tidak bisa mengampuni, jangan harap kita juga diampuni. Apa dalil dasar tekstualnya? Inilah yang yang disabdakan Yesus.

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:37-38)

Referensi pihak ketiga

Jadi jelas ya. Mengampuni dan diiampuni itu dua hal yang berpasangan! “Maafkan dan Anda akan dimaafkan. Ampuni, Anda akan diampuni!” Salah kaprah kalau kita hanya minta ampun tanpa pernah memberi ampun. Mengampuni orang lain dan diampuni oleh mereka tampaknya merupakan dua urusan yang terpisah.

Referensi pihak ketiga

Sabda Yesus dalam Injil hari ini meyakinkan kita bahwa mereka berhubungan. Sebagian besar dari kita dengan mudah mengingat perumpamaan yang jelas tentang hamba yang mengampuni sejumlah besar: “Ketika hamba itu pergi, ia menemukan salah satu rekan hamba yang berhutang kepadanya dalam jumlah yang jauh lebih kecil. Ia menangkapnya dan mulai mencekiknya, menuntut, ‘Bayar apa yang harus Anda bayar’” (bdk. Matius 18:28). Kami mengutuk perilakunya karena dia mencoba memisahkan dimaafkan dari memaafkan orang lain.

Paus Benediktus XVI dalam Pendahuluan tentang Kekristenan menulis, “Siapa yang berani menyatakan dirinya bahwa ia tidak perlu dibantu oleh orang lain? …. Kekudusan dalam Gereja dimulai dengan kesabaran dan menuntun pada pengampunan yang mendukung hidup kita ” (Paus Benediktus XVI, Kekristenan, hlm. 343).

Referensi pihak ketiga

Bagaimana menurutmu? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati. Salam peradaban kasih.

JoharT Wurlirang, 9/3/2020

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

SALAM PERADABAN KASIH EKOLOGIS!

Sumber: Lukas 6:36-38

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1921323506673019?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=browser_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.